Mendapat Anugerah dari Allah Ta’ala

Catatan Ringan Jurnalis Pergerakan Islam. (Bagian 4)

242
Safari Dakwah NTT 3
Usamah Hisyam dan rombongan kafilah dakwah Parmusi harus naik perahu agar bisa bersua dengan saudara Muslim.

Oleh: Drs. H. Usamah Hisyam, M.Sos (Head of Chief Editors Obsession Media Group/OMG dan Ketua Umum PP Parmusi)

Niat, tekad, dan semangat untuk mengubah paradigma Parmusi dari political oriented ke da’wah oriented sudah bulat. Apalagi telah ditopang oleh sejumlah keputusan nasional, seperti Mukernas I Tahun 2016. Tak ada alasan untuk tidak bergerak.

Apalagi pada awal kepengurusan 2015-2020, program aksi pertama Parmusi di pertengahan 2015 berdimensi dakwah sosial: Parmusi Save Help Rohingya.

Saat itu ratusan pengungsi muslim asal Rohingya yang kabur akibat pembantaian rasialis agama oleh junta militer Myanmar mengungsi dari negaranya dengan perahu kayu dan terdampar di Aceh Utara.

Sebagai organisasi sosial kemasyarakatan Islam, pengurus pusat memutuskan sudah sepantasnya Parmusi menggelar aksi sosial untuk menyambut kedatangan saudara-saudara muslim yang sedang berjihad.

“Kita harus memberikan dukungan moril. Mereka meninggalkan negaranya karena mempertahankan aqidah islamiyah. Mereka tengah berjihad di jalan Allah, karena itu kita harus membantu logistik mereka di pengungsian di Aceh,” saya menandaskan dalam rapat pengurus pusat mingguan.

BACA JUGA: Politik atau Dakwah?

Saya memimpin langsung rombongan ke Aceh bersama Tm Kecil yang diketuai Syafa Illiyin, Ketua Bidang Sosial Pamusi Pusat. Pegurus Wilayah (PW) Parmusi Aceh yang dipimpin Ustadz Bahroem telah membentuk tim lokal di daerah kabupaten kota yang menjadi lokasi pengungsian.

Tiga truk datang membawa bantuan sembako Parmusi ke lokasi utama pengungsian di Aceh Utara. Kader-kader Parmusi Aceh terlihat sangat antusias dan semangat melaksanakan program aksi sosial berdimensi dakwah ini.

Bahkan Ustadz Bahroem dan kawan-kawan mengusulkan agar Parmusi menggelar posko Ramadhan untuk memberikan pelayanan kesehatan, pelayanan dapur umum sahur dan buka puasa bersama, serta trauma healing, termasuk pelaksanaan ibadah Ramadhan.

Saya melaporkan rencana kegiatan tersebut kepada Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, dan memperoleh sambutan yang sangat positif. Bahkan Wali Kota Banda Aceh, lliza Sa’aduddin Djamal yang juga Wakil Ketua PW Parmusi Aceh, menyampaikan bantuan sebesar Rp.200 juta di hadapan para pengungsi untuk kebutuhan mereka melalui Parmusi.

Sukses Parmusi Save Help Rohingya di Aceh memberikan inspirasi dan spirit untuk terus mewujudkan gerakan dakwah Desa Madani Parmusi. Apalagi saya menyaksikan langsung, ghirah kader-kader Parmusi di Aceh sangat tinggi dan militan. Mereka juga sangat memahami esensi dakwah yang sesungguhnya.

BACA JUGA: Meneguhkan Niat dan Tekad Berdakwah

Mereka menunjukkan kepedulian dan keteladanan terhadap saudara-saudara Muslim yang tak dikenalnya, tetapi sangat membutuhkan pertolongan. Mereka bekerja dan bergerak tanpa bisyarah (upah, bayaran). Mereka bekerja dan bergerak tulus ikhlas. Lillahi ta’ala. Untuk kejayaan Islam dan kebesaran organisasi.

Satu hal yang terlintas di benak saya selama sepekan berada di tengah-tengah ratusan pengungsi Rohingya di Aceh adalah bahwa Parmusi harus memiliki banyak relawan dai di setiap wilayah yang siap diterjunkan untuk membantu umat yang daerahnya tertimpa bencana. Karena dai dapat melakukan trauma healing melalui pesam-pesan dakwah.

Adalah ustadz Taufik Hidayat, anggota Majelis Pakar Parmusi Pusat, yang pertama kali menyarankan agat Parmusi meretas jalan dakwah dengan melakukan daurah dai-dai pilihan daerah, lantas ditugaskan ke medan dakwah sepanjang Ramadhan.

Saya menugaskan Ustadz Taufik untuk terjun ke beberapa daerah, seperti Aceh, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Timur untuk menjajaki medan dakwah di daerah serta mengamati kesiapan dai yang dimiliki Parmusi.

BACA JUGA: Terobosan Dakwah Desa Madani

Ustadz Taufik melaporkan, di daerah-daerah pedalaman, daerah tertinggal, dan daerah perbatasan masih sangat membutuhkan para dai, dan kader-kader Parmusi sangat potensial untuk diarahkan berdakwah, menjadi seorang dai.

Pada Ramadhan 2017, Ustadz Taufik meminta saya melakukan kunjungan dakwah ke Kepulauan Banyak, di kawasan Samudera Hindia yang masuk dalam kawasan Propinsi Aceh. Inilah kunjungan dakwah pertama saya ke kawasan kepulauan terluar.

Dari Jakarta saya hanya mengajak Ustadz Tairman Elon, Ketua PW Parmusi Banten, agar bisa sekaligus melakukan studi banding. Ustadz Tairman juga seorang yang memiliki keahlian bela diri ala Banten, yang dapat mengawal perjalanan panjang 320 kilometer di malam hari selama enam jam melalui jalan darat hutan belantara dari Medan menuju Subulussalam, kabupaten yang terletak di selatan perbatasan Sumut dan Aceh.

Di kota itulah sejumlah PW Parmusi Aceh yang datang dari Kota Banda Aceh menanti kedatangan saya, antara lain Tengku Adnan dan Ustadz Abror untuk mendampingi menuju Kepulauan Banyak menggunakan motorboat sekitar satu jam.

Atas saran Ketua PW Sumatera Utara saat itu, Ustadz Akmal, perjalanan ke Subulussalam dilakukan ba’da Maghrib, setelah buka puasa bersama dengan para Napi dalam kunjungan dakwah ke Lembaga Pemasyarakatan di Kota Medan.

BACA JUGA: Memuliakan Anak Yatim dan Rezeki Tak Terduga

Perjalanan meretas jalan dakwah menuju Kepulauan Banyak di Samudera Hindia ini sungguh menjadi catatan tersendiri. Ustadz Tairman tak tahan melihat lapak pedagang durian di tengah hutan di kegelapan malam.

Dengan kewaspadaan tinggi, kami bertiga mampir sejenak menyantap durian. Tak ada bayangan bahwa perjalanan di depan meliuk-liuk menembus perbukitan hutan. Sepanjang perjalanan hingga perbatasan Subulussalam saya memuntahkan kembali seluruh durian hingga lemas.

Terhibur hati ini setelah menemukan sebuah masjid di perbatasan, dimana dua orang dai Parmusi menanti sekitar pukul 02.00 dini hari. Mereka telah menyiapkan makanan untuk sahur, sebelum melanjutkan perjalanan ke kota di mana Tengku Adnan dan kawan-kawan menanti di suatu mess milik Pemda.

Dari kedua dai inilah saya menerima laporan bila daerah perbatasan Aceh tersebut harus dikawal oleh para dai, karena menjadi sasaran tetangga dalam melakukan syiar agamanya.

Tak sempat beristirahat cukup, pada pagi harinya rombongan harus berangkat ke Kepulauan Banyak dengan sebuah perahu motor kayu. Tak boleh terlambat, sebelum air pasang naik dan gelombang membesar. Apalagi mendengar kabar bahwa pekan sebelumnya terdapat nelayan yang hanyut terbawa gelombang laut.

BACA JUGA: Safari Dakwah Parmusi, Usamah Hisyam dan Rombongan Tiba di Aceh Selatan

Saya hanya memasrahkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mengingat perjalanan meretas jalan dakwah ini benar-benar karena panggilan ilahiyah.

Dengan kondisi tubuh yang letih, kurang tidur dan lelah, saya memutuskan segera berangkat dengan perahu motor kayu menelusuri Samudera Hindia. Sekitar satu jam, kami tiba disambut Camat, anggota Babinkamtibmas, Babinsa, dan warga masyarakat.

Tampak puluhan warga Mualaf mengikuti kami berjalan menyaksikan sebuah masjid yang rusak, hancur dindingnya akibat diterjang ombak dan badai.

Tiba-tiba tubuh saya lunglai, lemas, dan buru-buru Ustadz Tairman membawa saya ke dalam masjid. Saya direbahkan di lantai, karena kecapaian. Ustadz Tairman meminta saya berbuka puasa, agar dapat minum air putih yang disiapkan anggota Babinkamtibmas.

Saya tepekur sejenak, sambil terus merebahkan diri. Saya pandang dinding masjid yang sudah hancur, hingga pandangan menangkap lautan Samudeta Indonesia.

Ya Allah, perjalanan meretas jalan dakwah cukup berat. Saya tatap satu persatu orang-orang yang menanti saya beristirahat. Tak satupun wajah orang-orang itu yang saya kenal, kecuali lima orang kader Parmusi yang mendampingi.

BACA JUGA: KH. Syuhada Bahri: Di Tengah Wabah Corona, Dakwah Parmusi Tidak Boleh Berhenti

Saat itulah saya bisa benar-benar memahami makna persaudaraan Muslimin, yang menjadi nama organisasi Parmusi. Kami dipertemukan untuk saling tolong menolong karena aqidah islamiyah. Tak pernah terbayang sebelumnya, saya bakal tergeletak di sebuah masjid kepulauan di Samudera Indonesia.

Di Kepulauan Banyak, acara dialog dengan para Mualaf tetap berlangsung. Karena kondisi yang lesu, saya meminta Ustadz Tairman yang melayani dialog tersebut. Para Mualaf protes, dari waktu ke waktu, setiap jelang pesta demokrasi Pemilu mereka diperkenalkan sebagai Mualaf kepada para politisi yang datang untuk berkampanye. Padahal mereka merasa sudah Muslim seperti yang lain, karena sebagai Mualaf sudah dijalani beberapa tahun sebelumnya.

Tantangan dakwah di kepulauan ini adalah minimnya tenaga dai. Di sini hanya ada satu orang dai. Padahal jumlah Mualaf hampir 500 orang. Bahkan di kepulauan ini para misionaris cukup aktif berkunjung melakukan kegiatan sosial.

Potret problematika dan tantangan dakwah di Kepulauan Banyak yang masuk wilayah Propinsi Aceh yang menerapkan peraturan daerah syariat Islam (qonun) bagi saya cukup representatif untuk memahami kondisi dakwah di pulau-pulau terluar, daerah pedalaman, dan daerah tertinggal.

BACA JUGA: KH. Syuhada Bahri: Dakwah Harus Menjadi Gerakan Bukan Hanya Kewajiban

Tiba di Jakarta, saya langsung mengajak Ustadz Taufik Hidayat yang juga menjabat Wakil Sekjen Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) untuk berdiskusi.

Saya katakan, Parmusi harus memiliki Lembaga Dakwah, yang secara khusus fokus untuk mengelola dan menggerakkan dakwah. Lembaga ini harus dipimpin seorang ulama atau ustadz yang bisa terjun ke lapangan secara berkala untuk membina para dai.

Ustadz Taufik langsung mengusulkan nama: Ustadz Syuhada Bahri. Beliau baru saja berhenti dari jabatan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Saya bertanya, apakah beliau bersedia?

“Coba mintakan jadwal. Saya akan bersilaturahim ke rumahnya,” pinta saya.

Sehari kemudian Ustadz Taufik melapor.

“Ustadz Syuhada yang akan datang menemui Ketum”.

“Biar saya yang menemui. Beliau kan lebih tua, saya kepala lima beliau kepala enam”.

“Beliau tetap tidak mau. Kapan saja, beliau siap datang ke kantor Ketum,” tandas Ustadz Taufik.

BACA JUGA: Bukan Persaudaraan Politik, Parmusi Komitmen Berdakwah

Selang sehari, saya menerima Ustadz Syuhada Bahri di kantor Obsession Meda Group (0MG). Perbincangan kami sangat akrab, seputar kisah keluarga.

Ustadz Syuhada ternyata kenal betul trio kakek saya di Surabaya, H. Mattalitti, H. Abdul Karim, dan H. Muhammad Jahja. Kakek saya H. Abdul Karim adalah pendiri dan Ketua Yayasan Masjid Al-Falah Raya Darmo Surabaya. H. Muhammad Jahja adalah pendiri dan Ketua Yayasan Masjid Mujahidin Tanjung Perak Surabaya.

Ustadz Syuhada kerap mendampingi Buya Mohammad Natsir saat berkunjung ke Surabaya menginap di salah satu kediaman trio kakek tersebut. Ketiganya memang dikenal sebagai saudagar kaya yang hijrah ke Surabaya dan menjadi donatur Partai Masyumi di Jawa Timur.

Setelah berdiskusi tentang arah gerakan dakwah, Ustadz Syuhada Bahri tak ragu untuk membantu gerakan dakwah Parmusi yang baru dicanangkan.

Sungguh gembira hati saya mendengar kesediaan Ustadz Syuhada untuk membantu gerakan dakwah Parmusi.

“Saya seperti mendapat anugerah dari Allah SWT,” cetus saya singkat.

Betapa tidak? Setahu saya, sulit untuk dapat ditemui kembali, seorang ulama kharismatik, yang konsisten membina terus para dai di lapangan, kecuali Ustadz Syuhada Bahri.

Ustadz Syuhada Bahri juga memiliki totalitas pengabdian dalam dunia dakwah. Baginya tak penting jabatan apa yang diberikan padanya, yang terpenting apa yang dapat diberikan dalam pergerakan dakwah di Indonesia.

Saya semakin yakin, Allah SWT meridhai langkah untuk meretas jalan dakwah. Suatu saat, mungkin dua-tiga generasi ke depan, bendera Parmusi akan berkibar di semua Desa Madani. Insya Allah.

(Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here