KH. Syuhada Bahri: Di Tengah Wabah Corona, Dakwah Parmusi Tidak Boleh Berhenti

488
KH Syuhada Bahri
Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP) KH. Syuhada Bahri.

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP) KH. Syuhada Bahri menegaskan bahwa Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) harus tetap berdakwah di tengah merebaknya wabah virus Corona (Covid-19).

Demikian ditegaskan Kiai Syuhada saat memberikan pandangannya dalam Mukernas VI Parmusi secara online di hadapan pengurus wilayah dari seluruh Indonesia, Ahad (29/3/2020) pagi.

“Parmusi harus memanfaatkan kondisi ini, karena saat ini ada ruang kosong pada diri manusia yang semuanya merasa takut dan khawatir,” ungkapnya.

Mantan Ketua Dewan Dakwah ini menilai, di tengah kesulitan ini para dai memiliki tugas sangat mulia sehingga harus tetap hadir di tengah umat, bukan meninggalkannya. Banyak cara untuk berdakwah meski imbauan untuk menjaga jarak (social distancing) gencar diumumkan pemerintah.

“Tugas para dai adalah mengingatkan dan meletupkan semangat. Bahwa sehebat apapun orang menggambarkan kekuatan virus, tidak mungkin melebihi kemampuan manusia. Kita harus tahu bahwa Allah tidak akan membebani kita di luar kemampuan kita,” ujar Kiai Syuhada.

Parmusi menggelar Mukernas VI secara online, Ahad (29/3/2020).

Menurutnya, keseimbangan usaha dan doa menjadi sesuatu yang harus dilakukan. Jangan sampai terjebak pada pola pikir Jabariyah dan qadariyah. Karena pada dasarnya setiap kesulitan datang dari Allah dan kemudahan atau solusi juga datang dari Allah.

Oleh karenanya, jelas Kiai Syuhada, solusi menutup masjid boleh saja dilakukan tapi tidak boleh dalam waktu panjang.

“Kita juga harus berpikir bagaimana tetap beraktivitas di masjid dengan cara yang aman. Ingat, Allah menanjikan adanya kemudahan di balik kesulitan, di balik kesusahan ada kebahagiaan,” katanya.

Pada kesempatan itu Kiai Syuhada juga mengingatkan bahwa Covid-19 yang merebak belakangan ini merupakan peringatan bagi orang-orang beriman atau adzab bagi orang yang tidak beriman. Seperti yang Allah untarakan dalam QS. Al-Isra ayat 58.

“Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).”

Menurut Kiai Syuhada, ayat tersebut menjelaskan bahwa wabah ini ada sumbernya, yaitu kemungkaran dan kemaksiatan. Dimana saat ini ada upaya untuk menyingkirkan lafazh Allah untuk diucapkan atau penyiksaan terhadap orang beriman yang terjadi di mana-mana.

Namun wabah ini bagi umat Islam juga bisa menjadikan peluang besar bagi terhapusnya dosa dan mendatangkan pahala yang besar.

“Bagi umat Islam, wabah ini peluang. Jika sabar maka Allah akan menghapus dosa dan memberinya pahala. Oleh karenanya benahi iman. Bahkan jika meninggal dalam keadaan ia bersabar, maka akan Allah wafatkan dalam keadaan syahid,” tandasnya.

Di penghujung pandangannya, Kiai Syuhada juga mengimbau agar setiap Dai Parmusi membimbing masyarakat dengan doa penolak bala. Salah satunya dengan membaca doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dengan nama Allah, yang bersama namaNya, tidak ada sesuatu pun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui,” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Doa tersebut, jelasnya, dibacakan tiga kali setiap selesai Shalat Subuh dan Shalat Ashar secara berjamaah dengan masyarakat.

Terakhir, ia kembali menyampaikan agar Dai Parmusi tetap membersamai umat. Mengisi kekosongan hati umat dengan dakwah, dzikir, dan doa serta usaha lahiriyah lainnya.

“Saya berharap agar para Dai Parmusi di pelosok, jangan berhenti untuk bekerja untuk mendekati umat, membimbing umat. Jadikan momentum ini untuk berkhidmat untuk umat,” tutupnya. (Fath)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here