Meneguhkan Niat dan Tekad Berdakwah

Catatan Ringan Jurnalis Pergerakan Islam. (Bagian 2)

165
TOT Parmusi 4
Ketua Umum PARMUSI, H. Usamah Hisyam, saat membuka acara Training of Trainers (TOT) Dakwah di Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, Kamis (12/10/2017). (Foto: istimewa)

Oleh: Drs. H. Usamah Hisyam, M. Sos (Head of Chief Editors Obsession Media Group/OMG)

Inklusifitas Parmusi yang saya sampaikan dalam pidato pertama sebagai ketua umum pada Penutupan Muktamar III di Batam 1 April2015 harus segera diterjemahkan bersama oleh Pengurus Pusat agar memiliki pemahaman yang sama.

Saya berharap, lima tahun ke depan bendera Parmusi berkibar di daerah-daerah kabupaten/kota, dengan kualitas kader yang militan. Hal ini memang tak mudah. Susunan personalia Pengurus Pusat yang masih akomodatif dan gemuk, membuat konsolidasi organisasi dan penataan sumber daya manusia (SDM) kader harus ekstra hati-hati.

Hampir semua pengurus adalah para kader yang sebelumnya aktif dalam panggung politik praktis, memiliki DNA politik yang sangat kuat. Mereka bisa menerima perubahan paradigma Parmusi, dari political oriented ke dakwah oriented. Karena seluruh kader yang sebelumnya adalah juga aktifis partai politik Islam tentu sangat memahami makna berdakwah.

Yang jadi persoalan adalah, belum semua kader bisa menempatkan dakwah sebagai bagian dari politik peradaban yang harus dibangun terintegrasi, terstruktur secara sistematis bersama-sama dalam suatu metode (manhaj) gerakan dakwah yang massif dan terukur, sehingga dapat membangun kemajuan suatu peradaban umat yang lebih baik dari waktu ke waktu dengan hanya bersandarkan pada kekuatan Ilahiyah.

BACA JUGA: Politik atau Dakwah?

Masih ada sejumlah kader yang memahami “Parmusi meninggalkan gelanggang politik praktis, padahal antara politik dan dakwah tak bisa dipisahkan”. Asumsi bahwa “politik dan dakwah tak bisa dipisahkan” benar adanya.

Tetapi realitas bahwa kualitas pemahaman keislaman struktur umat yang mayoritas lebih didominasi kultur dan pemikiran-pemikiran Islam sekuler, yang memisahkan urusan negara dengan agama, justru dalam perkembangannya melahirkan golongan islamophobia di kalangan umat itu sendiri yang semakin kuat dalam tubuh pendukung partai-partai nasionalis. Ini adalah fakta lain yang tak boleh diabaikan.

Ini harus segera disadari bersama, melalui tafakkur atau introspeksi diri bahwa sesungguhnya dengan hampir 70 ormas Islam yang tumbuh berkembang secara nasional, dakwah kita belumlah efektif dan optimal.

Maka diperlukan suatu siyasah, strategi baru dalam metode dakwah yang sesungguhnya merupakan high politics, politik tingkat tinggi, yakni membangun politik peradaban umat terlebih dahulu melalui pesan dakwah, yakni amar makruf nahi munkar di akar rumput, dengan misi membentengi akidah umat dengan berbenteng di hati umat.

Dengan demikian, kader-kader Parmusi tidak meninggalkan gelanggang politik praktis, tetapi secara intitusional mengubah siyasah dan secara personal tetap terlibat aktif dalam membangun politik peradaban, yang akan lebih hakiki bagi kejayaan Islam ke depan.

Oleh sebab itu, langkah awal yang dilakukan Pengurus Pusat pasca Muktamar III adalah menggelar sejumlah orientasi kader agar mindset dapat sejalan paradigma baru dengan misi yang hendak dicapai dalam perjuangan organisasi yang diatur AD/ART yakni terwujudnya masyarakat madani yang sejahtera lahir dan batin dalam bangsa Indonesia yang diridhai Allah SWT.

BACA JUGA: Memuliakan Anak Yatim dan Rezeki Tak Terduga

Dalam suatu rapat pengurus pusat di kantor sekretariat sementara Parmusi di Gedung Globalindo Dena Tour, Pejaten, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Ketua Bidang Perkaderan Parmusi, Idris Zaini (Allahu yarhamuhu), mengusulkan agar dalam proses perkaderan harus ditekankan inklusifitas sebagai bagian dari paradigma baru Parmusi, seperti telah dibahas bersama pengurus Departemen Perkaderan Pusat. Oleh sebab itu untuk menunjukkan inklusifitasnya, Idris Zaini menekankan agar Parmusi harus bisa menjadi connecting muslim (pemersatu umat), sekaligus dijadikan tagline organisasi.

Tak banyak pikir, saya langsung menyetujui usulan tersebut, demikian pula rapat pengurus pusat. Dalam Mukernas I Parmusi akhir 2016 yang berlangsung di Hotel Ambara Jakarta Selatan, setelah melalui perdebatan panjang yang diikuti utusan utusan wilayah, program aksi Parmusi ditetapkan lebih fokus pada empat pilar, yakni upaya peningkatan imtak (iman dan takwa), ekonomi, social, dan pendidikan.

Keputusan itulah yang menjadi program prioritas Pengurus Harian Pusat (PHP) untuk membuat formula pergerakan program aksi dalam suatu metode atau manhaj dakwah. Dalam beberapa kali rapat mingguan PHP, teman-teman berupaya mencetuskan formula gerakan yang bisa dilaksanakan secara nasional di berbagai daerah dengan supervisi pusat untuk mewujudkan prioritas program yang telah ditetapkan Mukernas dalam sebuah metode dakwah.

Prioritas program tersebut hanya dapat terlaksana bila para kader benar-benar komitmen untuk melakukan perubahan paradigma Parmusi dari political oriented ke dakwah oriented sebagai suatu gerakan politik peradaban. Sebuah misi mulia yang tak mudah mewujudkannya. Apalagi seperti sudah disampaikan di atas, sumber daya manusia Parmusi memang lebih terbiasa dengan DNA politik.

BACA JUGA: Ketum Parmusi: Kerja Keras Presiden Jokowi Tak Berguna Tanpa Pendekatan Ilahiyah

Tentu tak mudah mengubah mindset para kader, sungguhpun mereka mafhum. Saya paham sekali dilema yang akan dihadapi ke depan. Apalagi usai sambutan silaturahim halal bil halal Pengurus Pusat Parmusi di Hotel Aston, Rasuna Said, akhir 2015, saya sempat ditegur oleh senior Parmusi, ibu Hj. Aisyah Amini, yang pernah menjabat Ketua Komisi I DPR RI dari FPP, dimana saya juga menjadi anggotanya.

“Usamah, kau harus besarkan Parmusi ini agar menjadi kuat. Biar kuat, kau harus rebut PPP. Jadi, Parmusi harus membangun kekuatan politik, baru akan besar. Jangan hanya berdakwah,” tandas Aisyah Amini.

Teguran Ibu Aisyah Amini sungguh membuat saya gamang, antara niat untuk mengubah Parmusi menjadi dakwah oriented, sementara realitas yang saya hadapi pada dua tahun pertama memimpin Parmusi sejumlah senior dan para kader masih bersikap political oriented secara kental.

Sekalipun tidak secara terbuka, tetapi sebagai pimpinan saya bisa merasakan semangat dan antusias para kader dalam mengikuti rapat-rapat dan kegiatan Parmusi, baik di tingkat pusat maupun daerah, hanya sejumlah kader yang bisa mengikuti secara sungguh-sungguh perubahan mindset ke arah dakwah oriented.

Tetapi saya bersyukur karena sejumlah kader tersebut adalah kader-kader militan keparmusiannya termasuk untuk terjun langsung dalam menggerakkan dakwah.

BACA JUGA: Connecting Muslim, Dai Parmusi Harus Jaga Ukhuwah Islamiyah

Saya berusaha mendalami sejumlah literatur, serta berdiskusi dengan sejumlah tokoh dan ulama garis keluarga besar Masyumi. Bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW telah meninggalkan risalah tertinggi dalam sejarah peradaban kemanusiaan, yaitu politik peradaban dengan berdakwah sehingga dengan kekuatan Ilahiyah (pertolongan Allah SWT) dapat membangun kekuasaan politik di Madinah.

Awal hijrah ke Yatsrib (Madinah), Rasulullah terlebih dahulu membangun masjid, sebagai pusat kegiatan dakwah. Lantas mengembangkan pasar, sebagai tempat untuk membangun ekonomi umat. Lalu turun perintah Allah untuk berzakat, infak dan shadaqah sebagai wujud kepedulian sosial. Dan mengajak umat untuk menghafal dan melaksanakan firman-firman Allah dan sunnahnya, agar pendidikan terus berkembang.

Kegamangan saya untuk meretas jalan dakwah Parmusi seketika sirna. Terbersit dalam hati dan pikiran, kalau saja kita semua istiqamah dalam meretas jalan dakwah, akan datang suatu masa di Indonesia, dimana kader-kader dakwah Parmusi tampil sebagai pemimpin negeri di semua tingkatan.

(Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here