Memuliakan Anak Yatim dan Rezeki Tak Terduga

Catatan Ringan Jurnalis Pergerakan Islam.

462

Oleh: Drs. H. Usamah Hisyam, M.Sos (Head of Chief Editors Obsession Media Group/OMG)

Saya terpekur sejenak ketika K.H. Abah Raodl Bahar Bakry memberikan pengantar pernikahan putranya, Rahman Maulana dengan Nabila Putri. Ratusan undangan yang turut menghadiri akad nikah itu juga tertegun, hening.

“Abah sudah sering menikahkan anak Abah,” kata Abah yang juga dikenal sebagai pengasuh Ponpes Az-Zikra, sekaligus pembina spiritual almarhum Ustadz Arifin Ilham.

Di luar dugaan, dengan kalimat terbata-bata serta air mata menetes dari kantong matanya, Abah melanjutkan. “Tapi pernikahan kali ini teramat istimewa buat Abah. Karena Abah ingin belajar memuliakan anak yatim”.

Abah mengisahkan singkat.

Rahman adalah anak yatim yang dirawatnya sendiri, sejak dia berusia tiga tahun. Ayahnya wafat ketika konflik horisontal meletus di Maluku.

“Selama balita, saya yang memandikannya sendiri. Ada sekitar 170 anak-anak yatim dan dhuafa yang kemudian kami rawat dan bina di pondok ini, sekarang sudah jadi macam-macam,” tutur Abah.

“Beberapa pekan lalu, pada usia 25 tahun, Rahman datang kepada saya. Menyampaikan niat dan keinginannya untuk dinikahkan dengan siapapun yang disetujui Abah. Alhamdulillah, Nandà Nabila yang saya tawarkan tawa’dhu dengan kiyai. Rahman ini sudah 22 tahun tak pernah pulang ke kampungnya, bersama saya terus. Karena, saya ingin belajar memuliakan anak yatim,” sambung Abah dalam nada suara yang menampakkan ketulusan dan keikhlasan.

Sangat lengkap firman-firman Allah tentang keutamaan tidak menghardik dan mengasihi anak yatim. Bahkan QS. Adh-Dhuha mulai ayat 6-9 menegaskan bahwa Muhammad Rasulullah SAW adalah seorang yatim yang Allah berikan kecukupan, dan kepada anak yatim kita diperintahkan untuk tidak menghardik anak yatim.

Memelihara anak yatim juga bisa melahirkan keberkahan tersendiri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Sebaik-baik rumah di kalangan kaum Muslimin adalah rumah yang terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan sejelek-jelek rumah di kalangan kaum Muslimin adalah rumah yang terdapat anak yatim dan dia diperlakukan dengan buruk,” (HR. Ibnu Majah).

Abah Raodl, yang rajin memuliakan anak yatim melalui pembinaan di Pondok Pesantren Mama Bakry Sadeng Bogor, suatu malam di akhir Ramadhan 1442 Hijriah, pernah mengundang saya hadir dalam I’tikaf di Masjid Ustadz Adi Hidayat di Bekasi.

Beliau sesungguhnya ingin banyak bercerita dengan saya tentang dampak pandemi Covid-19 terhadap umat. Namun karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan, maka tiga hari setelah Idul Fitri, saya bersilaturahim ke kediaman Pembina Masjid Al-Munawaroh, Sentul, Bogor ini.

“Pak Usamah, selama bulan Ramadhan lalu saya merasa banyak mendapatkan keagungan dan kebesaran Allah SWT,” kata Abah mengawali ceritanya.

Abah mengaku sangat prihatin, dengan pandemi Covid-19 yang terus meningkat. Abah meminta, agar gerakan dakwah ilallah Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) dengan manhaj Desa Madani terus digerakkan di berbagai daerah. Edukasi masyarakat melalui para ulama, ustadz, mubaligh dan guru ngaji Parmusi agar terus menyandarkan diri dalam ketaatan kepada Allah SWT harus tetap dilakukan.

Mereka, yang dalam gerakan dakwah Ilallah Parmusi disebut sebagai Dai Pembina, Dai Pengelola, dan Dai Pelaksana harus tetap bergerak, justru dalam situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT.

“Saya benar-benar salut dan bangga, selama ini dai-dai Parmusi terus digerakkan dan bergerak. Saya dapat info dari beberapa ulama dan ustadz di daerah. Ada daurah nasional virtual para dai, ada pelatihan thibbun nabawi, ada simposium Parmusi Business Center,” kata Abah.

“Tetapi satu hal yang Pak Usamah harus juga memahami, dampak pandemi itu membuat para dai kehilangan salah satu sumber pemasukan. Karena sudah jarang sekali adanya pengajian-pengajian off air,” ungkapnya.

Saya langsung teringat pesan yang selalu disampaikan Ketua Majelis Syariah Parmusi KH. Suhada Bahri kepada saya selaku Ketua Umum Parmusi yang bertindak sebagai manajer dakwah tingkat nasional: “Dakwah harus terus berjalan, walaupun jamaah yang hadir cuma satu orang.”

Artinya apa? Nawaitu dan keutamaan berdakwah harus tetap diprioritaskan, mengingat perintah: Ballighu ‘anni walau aayah. Prinsip ini harus dipegang teguh kader-kader Parmusi di semua daerah. Ada atau tidak ada duit, harus tetap berdakwah. Demikian pula, ada atau tidak ada honor, the dakwah must go on. Berdakwah tidak mengenal tarif, tidak pula memasang tarif. Itu yang diajarkan Rasulullah.

Abah tentu sangat sepakat dengan pandangan tersebut. Oleh sebab itu, secara personal, sepanjang Ramadhan lalu, Abah menggiatkan I’tikaf dari masjid ke masjid di kawasan Jabodetabek selama 30 hari penuh. Apa yang terjadi?

“Sebelum Ramadhan itu, setiap hari dari Subuh sampai malam, saya bisa mengisi tiga sampai lima kali majelis taklim. Ada saja rezeki dari majelis taklim, antara lima sampai 10 juta perhari. Uang itulah yang Abah gunakan untuk membayar tukang dan bahan bangunan renovasi Ponpes Mama Bakry. Waktu Ramadhan lalu, Abah sama sekali tidak mengisi majelis taklim. Abah hanya keliling I’tikaf, tidak bekerja apapun, hanya mendekatkan diri kepada Allah. Abah tak pernah memikirkan bagaimana membayar tukang dan bahan bangunan. Ternyata awal Ramadhan Allah mendatangkan rezeki yang tak terduga. Lewat seorang kawan, ada seorang pejabat DPD yang ingin silaturahim ke Ponpes Mama Bakry. Beliau tanpa diminta, langsung menyumbang Rp.100 juta. Biaya tukang dan bahan bangunan sebulan langsung tertutupi. Subhanallah. Abah langsung bersyukur, terhadap janji Allah,” pungkas Abah penuh syukur. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here