Sejarah Bulan-Bulan Hijriyah

116

Oleh: Drs. H. Tb. Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Kalender hijriyah dimulai sejak Nabi Muhammad ﷺ hijrah. Kendati demikian, saat Nabi ﷺ lahir sudah ada nama bulan, termasuk Rabiul Awal meski tahunnya masih belum dijadikan pedoman.

Saya menukul kitab Bustanul ‘Arifin bab ke-115 yang menerangkan hari-hari dan bulan-bulan. Al-Faqih radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ketahuilah bahwasannya setahun itu ada 12 bulan:

1. Bulan yang pertama adalah bulan ”Muharram” dan sesungguhnya bulan itu dinamai Muharram, karena peperangan di bulan tersebut diharamkan dalam hal apapun di era Jahiliyah.

2. Kemudian ”Shafar”. Sesungguhnya mereka menamai bulan tersebut dengan Shafar, karena orang-orang ditimpa oleh satu penyakit, lalu memucat wajah-wajah mereka, maka mereka menamai bulan itu dengan Shafar, karena pucatnya wajah orang-orang di bulan itu.

BACA JUGA: Mengenal Tingkatan Ulama

3. Dikatakan oleh satu pendapat bahwa dinamai Shafar, karena sesungguhnya iblis shofaro (bersiul) memanggil bala tentaranya ketika keluar dari bulan Muharram, dan telah dihalalkan perang bagi orang-orang.

4. Kemudian bulan ”Rabiul Awwal”, karena sesungguhnya bulan itu bertepatan dengan permulaan musim semi (bertunas) maka dinamai dengan Rabiul Awwal (musim semi pertama).

5. Bulan berikutnya adalah ”Rabiul akhir” karena bulan itu bertepatan dengan akhir musim semi (bertunas) maka dinamai dengan Rabiul Akhir atau Rabiuts Tsani (musim semi kedua).

6. Sementara ”Jumadil Ula” kemudian ”Jumadil Ukhra” dinamai keduanya dengan jumad (beku) karena dua bulan itu bertepatan dengan musim dingin. Ketika sangat dingin, air pun membeku.

BACA JUGA: Tangisan Sang Imam

7. Bulan berikutnya adalah “Rajab”. Mereka menamai bulan itu dengan rajab, karena bangsa Arab biasa menghormati bulan itu, yakni dengan mengagungkannya. Mereka juga menamainya dengan Ashomm (tuli) karena mereka tidak mendengar suara peperangan di bulan itu.

8. Lalu ”Sya’ban”. Dinamakan sya’ban karena berbagai suku bangsa Arab mengadakan pengelompokan di bulan tersebut, agar mereka bisa terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok di bulan tersebut. Pendapat lain mengatakan, dinamakan Sya’ban karena pada bulan tersebut dibagi-bagikan kebaikan yang berlimpah untuk menghadapi Ramadhan.

9. Adapun ”Ramadhan”, mereka menamainya dengan ramadhan karena bertepatan dengan musim panas. Dan ramadhan adalah panas yang sangat (menyengat). Pendapat lain mengatakan, dinamakan Ramadhan karena akan dihanguskan berbagai dosa pada bulan tersebut.

BACA JUGA: Catatan Kiamat, Peperangan dengan Mata Sipit yang Disalah-artikan

10. Kemudian ”Syawwal”, mereka menamainya dengan syawwal karena suku-suku bangsa Arab mengadakan perjalanan berpencar di bulan tersebut, yakni menyingkir dari tempat tinggalnya. Pendapat lain mengatakan, mereka menamainya dengan syawwal karena mereka mengadakan perburuan di bulan tersebut. Diambil dari ucapan “asylaitul kalba idza arsaltuhu li-shoidin” (aku mengusir anjing, apabila aku mengirim anjing itu untuk berburu).

11. Bulan selanjutnya adalah “Dzulqa’dah”. Mereka menamainya dengan dzulqa’dah karena mereka itu selalu duduk-duduk (santai) di bulan tersebut, jauh dari peperangan.

12. Terakhir adalah ”Dzulhijjah”, karena mereka melakukan haji pada bulan ini.

BACA JUGA: Wajib Niat Ketika Menunda Waktu Shalat di Awal Waktu

Ini adalah berbagai nama-nama bulan Arab dengan standar bulan-bulan qamariyah yang dapat diketahui perhitungannya dengan melalui peredaran bulan. Dan bulan di tahun qamariyyah adalah perhitungan kaum muslim untuk kepentingan mereka dan berbagai ibadah mereka.

Nama-nama bulan itu sudah ada sejak jaman Arab Jahiliyah, meski penetapan tahunnya tidak konsisten atau selalu berganti-ganti. Misalnya, mereka pernah menggunakan hitungan tahun berdasarkan kematian Amr bin Luhay (seorang tokoh Bani Khuza’ah pembawa agama musyrik di Mekkah).

Pernah juga mereka menggunakan patokan tahun berdasarkan kematian Hisyam bin Mughiroh, dan yang terahir melakukan perhitungan berdasarkan tahun peristiwa invasi pasukan Abrahah ke Makkah.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Referensi

– Bustanul ‘arifin

الباب الخامس عشر بعد المائة في ذكر الأيام والشهور (قال الفقيه) رحمه اللَّه: اعلم أن السنة اثنا عشر شهراً أولها محرم وإنما سمي محرماً لأن القتال فيه كان محرماً فيما بينهم في الجاهلية. ثم صفر وإنما سموه صفراً لأن الناس قد أصابهم المرض فاصفرت وجوههم فسموه صفراً لصفرة الوجوه فيه، ويقال سمي صفراً لأن إبليس صفر بجنوده حين خرج محرم وحلّ لهم القتال. ثم شهر ربيع الأول لأنه صادف أول الخريف فسمي الربيع الأول. ثم شهر ربيع الآخر لأنه صادف الخريف فسموه باسم الربيع. ثم جمادى الأولى، ثم جمادى الأخرى. وإنما سميا بذلك لأنهما صادفا أيام الشتاء حين اشتد البرد وجمد الماء، ثم رجب وإنما سموه رجباً لأن العرب كانت ترجبه: أي تعظمه، وكانوا يسمونه أصم لأنهم كانوا لا يسمعون فيه صوت الحرب، ثم شعبان وإنما سمي شعبان لأن قبائل العرب كانت تتشعب فيه أي تتفرق فيه، ويقال إنما سمي شعبان لأن يتشعب فيه خير كثير لرمضان. ثم شهر رمضان ويقال إنما سموه رمضان لأنه صادف أيام الحر والرمضاء الحر الشديد ويقال إنما سمي رمضان لأنه ترمض فيه الذنوب. ثم شوال إنما سموه شوال لأن القبائل العرب كانت تشول فيه: أي تبرح عنموضعها، ويقال إنما سموه شوال لأنهم كانوا يصيدون فيه من قولك أشليت الكلب إذا أرسلته لصيد. ثم ذو القعدة وإنما سموه ذا القعدة لأنهم كانوا يعقدون فيه عن الحرب. ثم ذو الحجة لأنهم كانوا يحجون فيه. فهذه أسامي الشهور العربية بالشهور القمرية التي يعرف حسابها بدوران القمر، وهو حساب المسلمين لآجالهم وعباداتهم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here