Wajib Niat Ketika Menunda Waktu Shalat di Awal Waktu

(Kajian Kitab Nihayatuz Zain karya Syekh Muhammad bin Umar An-Nawawi Al-Bantani)

196

Oleh: Drs H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

لَكِن إِذا أَرَادَ تَأْخِير فعلهَا عَن أول الْوَقْت لزم الْعَزْم على فعلهَا فِي الْوَقْت على الْأَصَح فَإِن أَخّرهَا عَن أول وَقتهَا مَعَ الْعَزْم على ذَلِك وَمَات فِي أثْنَاء الْوَقْت قبل فعلهَا لم يكن عَاصِيا بِخِلَاف مَا إِذا لم يعزم الْعَزْم الْمَذْكُور فَإِنَّهُ إِذا مَاتَ فِي أثْنَاء الْوَقْت قبل فعلهَا كَانَ عَاصِيا

“Ketahuilah, bahwa shalat wajib di awal waktu, wajib yang leluasa, artinya boleh menunda shalat dari awal waktu sampai akhir waktu, yang memang cukup waktu untuk melaksanakannya, ini dengan syarat berniat ‘azam (direncanakan) akan shalat di waktu tersebut. Jika dalam waktu hanya melakukan satu raka’at, tidak di bawah satu raka’at, maka semua raka’at termasuk melakukan tunai, sedang jika tidak termasuk qadha. Seseorang berdosa, jika menunda shalat sampai melakukan shalat melewati batas waktu, meskipun dalam waktu dapat melakukan satu raka’at”.

Firman Allah ﷻ:

إن الصلاة كانت على المؤمنين كتابا موقوتا

“… Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman,” (QS. An-Nisa’: 103).

BACA JUGA: Bagaimana Hukum Shalat Ghaib untuk Jenazah Pasien Covid-19?

Kalimat “Kitaban Mauquta” (shalat fardhu yang ditentukan waktunya) menurut ahli ushul adalah dari sejak awal jatuhnya waktu shalat fardhu sampai kepada akhir dari batas waktu shalat fardhu tersebut.

Sebagaimana ulama ushul menjabarkan tentang waktu kewajiban dalam pelaksanaan shalat fardhu apakah wajib segera atau kewajiban tersebut memiliki waktu yang luas. Sebagaimana kaidah di bawah ini:

أن الأمر هل يقتضي الفعل على الفور أم لا” (ص: 15-16، اللمع في أصول الفقه للإمام أبي إسحاق إبراهيم بن علي يوسف السيرازي الفيروز آبادي الشافعي , المتوفى 476هـ)

“Apakah perintah (jatuhnya kewajiban waktu/zaman shalat fardhu) itu segera ditunaikan atau tidak”.

BACA JUGA: Bacaan-Bacaan yang Wajib dalam Shalat

Dalam melaksanakan shalat fardhu, baik berjamaah ataupun sendirian dari segi waktu dapat digolongkan kepada beberapa waktu yang sunnah, makruh dan waktu yang haram.

Sebagai contoh, jika shalat Zhuhur di Jakarta jatuh waktunya jam 12.00 dan habis waktunya jam 03.00, maka jatuh hukum sunnah muakkad atau wajib ‘ainnya antara jam 12 sampai dengan jam 2.30.

Sementara antara jam 2.30 sampai dengan jam 2.45 jatuh hukumnya makruh. Jika melaksanakannya pada pukul 2.45 sampai jam 03.00 atau sudah masuk waktu shalat fardhu ‘Ashar maka hukumnya adalah “Haram”.

Namun shalat yang luput tersebut tetap wajib dilaksanakan. Inilah yang dikatakan (wujub Almuwassa’; kewajiban yang waktunya luas) artinya kewajiban atau sunnah muakkad itu terhitung dari awal waktu azan sebagai tanda jatuhnya kewajiban shalat fardhu sampai kepada berakhirnya waktu yang dimakruhkan atau waktu yang diharamkan.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here