Catatan Kiamat, Peperangan dengan Mata Sipit yang Disalah-artikan

Catatan diskusi dengan Almarhum KH. Musthofa Ya'kub tahun 2016.

285
Ilustrasi: Perang. (Foto: mongolianz)

Oleh: Drs H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Seringkali kita mendengar para penceramah menyampaikan informasi bahwa suatu ketika akan terjadi peperangan melawan suatu kaum bermata sipit sebelum Kiamat terjadi.

Sayangnya, ceramah tersebut terkadang mengarah kepada satu ras tertentu, sehingga memunculkan kebencian kepada mereka di kalangan umat. Padahal, kita perlu menelusuri lebih jauh siapa yang dimaksud kaum bermata sipit, seperti yang disabdakan Baginda Rasulullah ﷺ.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ التُّرْكَ، قَوْمًا وُجُوهُهُمْ كَالْمِجَانِّ الْمُطْرَقَةِ، يَلْبَسُونَ الشَّعَرَ وَيَمْشُونَ فِي الشَّعَرِ

“Kiamat tidak akan terjadi sampai kalian memerangi sekolompok orang yang sendalnya terbuat dari rambut, dan memerangi bangsa Turk, yang mana mereka bermata sipit, berwajah kemerah-merahan, berhidung pesek, wajah mereka berbentuk perisai yang bundar,” (HR Muslim).

Dalam riwayat Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمُ الشَّعَرُ وَحَتَّى تُقَاتِلُوا التُّرْكَ صِغَارَ اْلأَعْيُنِ حُمْرَ الْوُجُوهِ ذُلْفَ اْلأُنُوفِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمِجَـانُّ الْمُطْرَقَةُ

“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga kalian memerangi satu kaum yang sandal-sandal mereka terbuat dari bulu, dan kalian memerangi bangsa Turk yang bermata sipit, wajahnya merah, hidungnya pesek, wajah-wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit,” (HR. Bukhari)

Bangsa Turk dalam Hadits Tersebut

Terkait hadits itu, Imam Nawawi (Syarh Shahih Muslim, XVIII/38) berpendapat, bahwa tanda-tanda itu ada pada zamannya. Umat Islam beberapa kali berperang dengan mereka.

Pendapat ini menunjukkan bahwa yang dipahami dengan mata sipit di sini adalah bangsa Mongol yang menyerbu umat Islam hingga meruntuhkan Baghdad sampai akhirnya tumbang di pertempuran Ainun Jalut.

Penyebutan kata “At-Turk” dalam hadits tersebut tidak selalu merujuk kepada bangsa Turki, namun itu adalah terkait dengan ras yang memiliki tanda-tanda seperti yang disebutkan dalam hadits tadi. Karena, pada dasarnya ras At-Turk itu ada banyak jenisnya. (Badruddin Ayni, XIV/200).

At-Turk disebut adalah Bani Qanthura dalam kitab “Mirqāt al-Mafātih” (VIII/3408) karya Tibrizi adalah hamba sahaya Ibrahim yang melahirkan melahirkan anak-anak keturunan seperti Bangsa Turk dan China.

Selain itu beliau juga memberi catatan, “Barangkali yang dimaksud dengan apa yang diprediksi dalam hadits adalah perang yang terjadi pada masa sekarang antara bangsa Turk dan muslimin. Lebih dekat lagi, itu adalah isyarat pada masalah Jengis Khan dengan segala kerusakan yang dibuatnya khususnya di Baghdad itu yang terjadi kehancurannya di Tahun 1217.

Di hadits lain tanda-tanda itu juga merupakan ciri-ciri dari Ya’juj dan Ma’juj. Dalam hadits riwayat Ahmad disebutkan, “Sesungguhnya kalian senantiasa akan berperang dengan musuh hingga kedatangan Ya’juj dan Ma’juj, wajahnya bundar, bermata sipit, jambul rambutnya berwarna putih, mereka turun dari tempat yang tinggi, wajah mereka seperti perisai yang ditempa (tebal dan keras).”

Dalam buku “Al-Mausū’ah fī Al-Fitan wa Al-Malāhim wa Asyrāthi Al-Sā’ah” (2006: 801), Dr. Muhammad Ahmad al-Mubayyadh memberi komentar bahwa hadits itu menjelaskan beberapa ciri Ya’juj dan Ma’juj yang sesuai dengan ciri-ciri bangsa Mongolia, Tatar dan Turk yang terdapat dalam banyak hadits Nabi.

Hadits hanya cocok pada penghuni pegunungan di Mansyuria, Mongolia, tepu Siberia dan Asia Tengah. Jadi itu ciri-ciri Ya’juj Wal Ma’juz yang mengiringi Dajjal sebagaimana Sabda Rasulullah ﷺ.

إِنَّكُمْ تَقُوْلُوْنَ لاَ عَدُوَّ، وَإِنَّكُمْ لاَ تَزَالُوْنَ تُقَاتِلُوْنَ عَدُوًّا حَتَّـى يَأْتِيْ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ، عِرَاضُ الْوُجُوْهِ، صِغَارُ الْعُيُوْنِ، شُهْبُ الشَّعَافِ، مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُوْنَ، كَأَنَّ وُجُوْهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ.

“Sesungguhnya kalian berkata tidak ada musuh sementara kalian senantiasa memerangi musuh hingga datang Ya’juj dan Ma’juj; bermuka lebar, bermata sipit, berambut pirang, mereka datang dari setiap arah, wajah-wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit’,” (HR. Ahmad 5: 271).

Pemahaman Hadits

Pertama, umat Muslim yang beriman dan bertakwa tentunya pasti percaya dengan hal yang ghaib. Dalam QS. Al-Baqarah ayat ke-3 disebutkan bahwa ciri-ciri orang beriman itu, alladzina yu’minuna bil ghaib. Hari Kiamat termasuk hal ghaib yang harus dipercayai umat Islam.

Kedua, kita percaya bahwa Nabi Muhammad ﷺ diberikan mukjizat oleh Allah untuk mengetahui tanda-tanda kiamat, namun Nabi tidak pernah memastikan kapan kiamat akan terjadi. Kalau kiamat diketahui kapan akan terjadi, mungkin tidak ada orang jahat di akhir zaman nanti, karena semuanya takut menghadapi hari akhir.

Mereka semua pasti buru-buru bertobat. Namun kenyataannya tidak demikian. Kalau hari kiamat diberitahu oleh Allah kapan terjadinya, maka permainan hidup di dunia ini tidak lagi seru, tidak ada tantangannya, karena semua sudah tahu kapan akan game over. Ibarat main game, kalau musuh sudah diketahui tidak sebanding dengan kita, buat apa melawannya?

Ketiga, Imam Abu Zakariyah Yahya An-Nawawi dalam syarah Sahih Muslim menyebutkan bahwa perang melawan Turk itu sudah pernah terjadi di zaman Imam An-Nawawi hidup, sekitar 8 abad yang lalu. Nah, 8 abad lalu sampai sekarang belum juga terjadi kiamat. Itu bukan waktu yang sebentar. Namun demikian, Imam An-Nawawi tidak menyebutkan spesifik siapa yang dimaksud bangsa Turk dalam Hadist di atas.

Apakah kejadian ini akan terulang kembali, sementara khitab Nabi dalam Nubuwat beliau terkait hadis tersebut ditujukan kepada sahabat? Apakah masih berlaku Nubuwat Nabi tersebut pada konteks saat ini?

Keempat, hadist terkait perang melawan Al-Hind (India) yang dikaitkan dengan Ibnu Katsir dengan at-Turk, sepertinya tidak relevan keterkaitan Hadist tersebut sebab tidak menyebutkan orang-orang yang dimaksud dengan ciri-ciri mata sipit, hidung pesek, dan seterusnya.

Sementara itu, menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, perang melawan at-Turk dan Khuz Kirman merupakan perang yang berbeda. Artinya, perang melawan Khuz Kirman itu tersendiri dan perang melawan at-Turk juga tersendiri.

Kelima, Doktor Ali Muhammad al-Shalabi dalam bukunya al-Daulatul Utsmaniyah: ‘Awamilun Nuhudh wa Asbabus Suquth, menjelaskan bahwa Umat Islam di tangan khalifah Umar bin Khatab berhasil melakukan futuhat ke beberapa wilayah Asia Tengah sejak tahun 22 Hijriah.

Waktu itu, umat Islam mampu mengalahkan Kekaisaran Sasania (Ad-Daulatus Sasaniyyah). Mereka yang hidup di masa kekaisaran tersebut dijuluki dengan Bangsa at-Turk (dalam bentuk plural disebut Atrak), belakang disebut dengan Turkistan. Bangsa Muslim Arab waktu itu menyebut wilayah tersebut dengan manthiqah ma wara an-Nahar, dan bangsa Persia menyebutnya Fararun

Di lihat dari petanya, bangsa Turk meliputi negara-negara yang sekarang ini, yaitu Abkhazia, Afghanistan, Armenia, Azerbaijan, Chechnya, Tiongkok, Georgia, Iran, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Nagorno-Karabakh, Pakistan, Rusia, Ossetia Selatan, Tajikistan, Turki, Turkmenistan, Uzbekistan.

Inilah pentingnya memahami Geografi Hadits sebagaimana disampaikan guru kami tercinta di Darus Sunnah, Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub, allahu yarhamuh. At-Turk yang dimaksud lebih luas tidak hanya meliputi dan mengkhususkan China saja. Negara-negara yang ada dalam peta tersebut di atas semuanya termasuk At-Turk pada masanya.

Keenam, Nabi juga pernah mewasiatkan dalam haditsnya yang lain mengenai bangsa At-Turk. Nabi ﷺ bersabda;

دَعُوا الْحَبَشَةَ مَا وَدَعُوكُمْ وَاتْرُكُوا التُّرْكَ مَا تَرَكُوكُمْ

“Biarkanlah orang-orang Habasyah selama mereka membiarkan kalian dan biar-kanlah bangsa Turk selama mereka membiarkan kalian,” (HR. Abu Daud).

Kualitas hadits ini hasan. Hadits ini memberi pesan bahwa perang itu dilakukan ketika bangsa lain lebih dulu memerangi kita.

Wallahu a’lam bish Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here