Merindukan Persatuan Ulama dan Umat

Mengenang Allahuyarham K.H. Amin Noer, Lc, MA

128

Oleh: Wildan Hasan

Kembali Allah memanggil pulang salah seorang Guru kita. Seorang Ulama besar asal Bekasi Jawa Barat setelah lebih dari 500 Ulama telah Allah jemput lebih dahulu di masa pandemi Covid-19 ini. Beliau adalah K.H. Amin Noer bin Almaghfurllah K.H. Noer Ali, Pahlawan Nasional, pejuang kemerdekaan RI, pemimpin dan tokoh Partai Islam Masyumi.

Semoga Allah SWT menempatkan dan mengumpulkan beliau bersama ayahandanya tercinta bermajelis di Jannatun na’im bersama para Nabi, Syuhada, Shiddiqien dan Shalihin. Aamiin.

Satu demi satu para ‘Alim meninggalkan kita tanpa kita siap dan sadar siapa yang akan menggantikan mereka. Atau sudahkan kita menyiapkan para pengganti mereka? Berdebar dada ini jika teringat sabda Nabi SAW bahwa apabila Allah berkehendak menghancurkan suatu negeri, Allah panggil pulang para ‘Alimnya.

Saya yang bukan siapa-siapa, tidak memiliki kedekatan khusus dengan Allahuyarham K.H. Amin Noer meskipun saya telah menganggap beliau adalah salah seorang Guru saya yang utama. Hanya beberapa kali saya bertemu secara pribadi dengan beliau. Satu di antaranya pada tahun 2017 saat mewawancarai beliau untuk kebutuhan penyusunan buku bagi hajat “Setengah Abad Dewan Da’wah”.

BACA JUGA: Kiai Masjkur, Missi Haji Bung Hatta dan Bung Karno

Di kediaman beliau di komplek Pondok Putri Pesantren At Taqwa yang damai dan asri, dengan ramah dan penuh kelembutan beliau bersedia untuk berbincang lebih kurang 4 jam untuk mendapatkan pandangan beliau tentang Dewan Da’wah yang pada akhirnya meluas kepada perbincangan keumatan dan kenegaraan.

Hasil perbincangan itu saya rangkum lalu menjadi bagian dari buku “Antara Da’wah dan Politik; Ragam Pendapat tentang Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia” yang diterbitkan oleh Dewan Da’wah pada tahun 2018.

Berikut pandangan beliau tentang Dewan Da’wah yang merepresentasikan betapa seorang Ulama sejati pasti merindukan persatuan dan kesatuan umat:

Dewan Da’wah Harus Kembali ke Visi Pak Natsir

Menurut pendapat saya, Dewan Da’wah masih konsisten menjalankan program pembangunan umat dan mempertahankan aqidah umat dalam simpang siur pemikiran dan kekuatan di dalam masyarakat. Dengan kondisi tantangan da’wah saat ini yang semakin berat, Dewan Da’wah juga masih bertungsi sebagai mesin kecil pembangkit listrik.

Hanya memang tidak sekuat dan sekonsisten seperti pada saat Pak Natsir masih hidup. Penyebabnya adalah, Dewan Da’wah sepertinya mulai khilaf akan visi utama Pak Natsir yakni persatuan.

Saat ini Dewan Da’wah cenderung ikut terjebak dalam polemik furu’iyyah. Dewan Da’wah sekarang seolah lupa untuk menguatkan soal-soal pakok, ushuliyah, seperti kesatuan dan Persatuan umat sebagaimana dicita-citakan oleh Pak Natsir, K.H. Noer Ali, dan lain-lain.

BACA JUGA: Ketika Kementerian Agama Meralat Penetapan 1 Syawal yang Telah Diumumkan

Setelah Masyumi dipaksa membubarkan diri oleh rezim Orde Lama, ayah saya K.H. Noer Ali tidak mau bergabung dengan partai politik apapun lagi. Bagi beliau, Masyumi adalah representasi persatuan umat. Jadi tatkala Masyumi membubarkan diri, beliau menganggap tidak ada lagi persatuan umat. K.H. Noer Ali memiliki visi persatuan yang sangat kuat. Beliau selalu mengutip ucapan Hadratus Syaikh K.H.M. Hasyim Asy’ari, “Sesiapa yang keluar dari Masyumi, ‘faqtuluh’!”

Karena sudah memudarnya visi persatuan di Dewan Da’wah, maka sekalipun mesin itu tetap menyala namun seringkali mengalami kerusakan yang menyebabkan naik turunnya voltage.

Salah satu kebijakan Dewan Da’wah yang dirumuskan di awal berdirinya ialah bahwa dalam hal yang bersifat kontroversial (saling bertentangan), dan dalam usaha melicinkan jalan da’wah, Dewan Da’wah bersikap menghindari dan atau mengurangi pertikaian paham antara pendukung da’wah, istimewa dalam melaksanakan tugas da’wah. Alhamdulillah, Dewan Da’wah masih menjalankan kebijakan tersebut. Hanya saja dalam memegang visi Ali Imran ayat 103, Dewan Da’wah sekarang tidak sekuat dahulu.

BACA JUGA: Ismail Banda, Diplomat Ulung yang Gugur dalam Tugas

Dewan Da’wah kurang siap untuk membentuk berbagai kekuatan dalam rangka menggetarkan musuh-musuh Allah sebagaimana tercantum dalam Al-Anfal ayat 60. Kita sekarang tercerai berai dan semua ingin menjadi pemimpin. Padahal dulu dengan tegas K.H. Noer Ali, sambil mengarahkan jarinya ke Pak Natsir, mengatakan kepada saya: “Lu liat, dia itu pemimpin Gua.”

Dari namanya Dewan Da’wah memang bertugas untuk ud’u ila sabili rabbika (menyeru ke jalan Tuhanmu). Namun Dewan Da’wah harus fleksibel, luwes, dan senantiasa mengingat visi persatuan para tokoh Islam masa Pak Natsir yang menjauhi pembicaraan soal furu’ dan menyerahkan perkara-perkara furu’iyyah kepada masing-masing pihak.

Itu sebabnya para pendahulu kita sangat harmonis. Pak Natsir dari Persis, K.H, Noer Ali dan K.H. Abdullah Sjafi’i dari latar belakang NU, dan Mr. Kasman Singodimedjo dari Muhammadiyah, bersatu padu, bahu membahu memperjuangkan agama, bangsa, dan negara.

Dewan Da’wah harus kembali ke khittahnya, yakni menguatkan visi persatuan dalam setiap gerak langkahnya. Dulu NU keluar dari Masyumi bagaimana pun juga, penyulutnya adalah soal jabatan Menteri. Godaan-godaan materi dan jabatan sekuat mungkin harus dihindari oleh Dewan Da’wah.

BACA JUGA: Fakta di Balik Penahanan Hatta-Sjahrir di Sukabumi dan Resolusi Tolak Negara Pasundan

Saya setuju dengan pendapat Pak Natsir bahwa da’wah dan politik itu tidak dapat dipisahkan. Da’wah memang tidak boleh dipisahkan dari politik. Kita harus berpolitik, tetapi berpolitik yang Islami. Kalau kita tidak berpolitik, kita akan habis. Tentu saja, sekali lagi, berpolitik yang syar’i. Jadi keliru kalau ada yang mengatakan umat Islam jangan berpolitik.

Dewan Da’wah harus kembali fokus ke visi persatuan, mendahulukan yang ushul dari yang furu’. Ada empat hal yang akan mewujudkan persatuan umat Islam. Yakni, mengelola alam secara professional, menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk, Memaksimalkan potensi akal, dan meneladani Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dewan Da’wah harus berjuang keras menjalankan peran masa awalnya yakni mempersaudarakan antara berbagai organisasi kemasyarakatan, kelompok, dan lain-lain. Saat ini kiranya sulit menyatukan kaum Muslimin secara fisik. Dewan Da’wah harus mampu memelopori kesatuan visi  ormas-ormas dan kelompok-kelompok Islam. Misalnya, kesatuan visi dalam memilih calon presiden.

Yang juga sangat penting, Dewan Da’wah hendaknya sering-sering melakukan silaturahmi ke berbagai kalangan dan kelompok umat Islam untuk menyatukan visi persatuan dan kesatuan umat.

Semoga Dewan Da’wah tetap istiqamah di jalan da’wah.

 

Tambun Selatan, 8 Juli 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here