Ismail Banda, Diplomat Ulung yang Gugur dalam Tugas

756
Ismail Banda.

Oleh: Lukman Hakiem (Peminat Sejarah)

DALAM “Kapita Selekta Dakwah” tentang perjuangan dakwah Prof. Dr. H.M. Rasjidi yang disiarkan secara online oleh Pondok Pesantren “Budi Mulia” pada Senin, 12 April 2021, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra menyebut nama Ismail Banda.

Menurut Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu, selain Haji Agus Salim, A.R. Baswedan, dan H.M. Rasjidi, orang yang berjasa memperkenalkan Indonesia ke negara-negara Timur Tengah ialah Ismail Banda yang pada 30 November 1951 diangkat menjadi Kuasa Usaha Republik Indonesia di Kabul, Afganistan.

Menlu Alatas: Siapa Ismail Banda?

PADA 21 Desember 1951, Ismail Banda berangkat menuju tempat tugasnya melalui Teheran, Iran. Dalam perjalanan dari Teheran ke Kabul, pesawat yang ditumpangi Ismail Banda mengalami kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang, termasuk Ismail Banda.

Yusril mengaku pernah mengusulkan kepada Menteri Luar Negeri Ali Alatas agar Kementerian Luar Negeri mengusulkan kepada Presiden untuk memberikan penghargaan kepada diplomat yang gugur dalam perjalanan melaksanakan tugas itu.

Jawaban Menlu Ali Alatas, mengejutkan Yusril. “Siapa Ismail Banda?”

Ali Alatas malah mengira Ismail Banda adalah wartawan senior LKBN Antara Ismail Albanjar.

BACA JUGA: Fakta di Balik Penahanan Hatta-Sjahrir di Sukabumi dan Resolusi Tolak Negara Pasundan

Dari Al-Azhar ke Cambridge

MAJALAH Hikmah Nomor 1 Tahun V, 5 Januari 1951, pada halaman 8 menurunkan tulisan tentang Ismail Banda.

Menurut Hikmah, Ismail Banda yang dilahirkan di Sumatera Timur pada 1910 itu berpenampilan tenang, raut wajah selalu berseri-seri menunjukkan kesucian jiwa dan ketabahan hati.

Setelah tamat dari Sekolah Menengah Tinggi (SMT) di Medan, Ismail Banda melanjutkan studinya ke Mesir. Pada 1930 dia lulus dalam ujian ahliah Universitas Al-Azhar, Kairo. Tujuh tahun kemudian mendapat ijazah ulama.

Pada 1940, Ismail Banda mendapat gelar Bachelor of Art (BA) fi qismi filsafah dari Universitas Al-Azhar. Baru pada 1942 dia meraih gelar akademik Master of Art (MA) dalam bidang filsafat, juga dari Universitas Al-Azhar.

Minatnya kepada ilmu pengetahuan sangat tinggi. Sesudah meraih gelar MA, dia melanjutkan studi di Cambridge University Inggris hingga pada 1944 meraih diploma dalam bahasa Inggeris. Tahun itu juga Ismail Banda melanjutkan studi Ilmu Pemerintahan di British Institute. Studi ini tidak diselesaikan.

BACA JUGA: Prof. DR. H.M. Rasjidi (1915-2001)

Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia

SEBELUM pecah Perang Dunia II, Ismail Banda aktif dalam organisasi Perkumpulan Indonesia Malaya (Perpindom) di Mesir. Dia duduk sebagai anggota Pengurus Besar (PB) Perpindom.

Ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Ismail Banda mendirikan dan aktif dalam Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia. Melalui perkumpulan ini, Ismail mempropagandakan kemerdekaan Indonesia kepada negara-negara Arab. Di sinilah Ismail Banda memupuk simpati dan pengakuan negara-negara Arab kepada Republik Indonesia.

Dari Mesir pula, Ismail Banda –dengan nama samaran Isband– membantu majalah Pandji Islam yang dipimpin oleh Zainal Abidin Ahmad.

BACA JUGA: Artidjo Al-Kostar Dkk: Pancasila Jangan Dijadikan Alat Pemukul

Dari Kemenag ke Kemenlu

SETELAH dua tahun aktif mempropagandakan kemerdekaan Indonesia di Mesir, pada 1947 Ismail Banda kembali ke Tanah Air.

Mula-mula Ismail Banda bekerja di Kementerian Agama. Sesudah dua bulan, dia pindah ke Kementerian Luar Negeri. Oleh karena kedua Kementerian itu berada di ibu kota Yogyakarta, Ismail Banda pun tinggal di Yogyakarta.

Sambil bekerja, Ismail Banda menyalurkan minat jurnalistiknya. Bersama Zainal Abidin Ahmad, dia menerbitkan harian Indonesia Raja.

Tahun 1950, bersamaan dengan kembalinya ibu kota RI dari Yogyakarta ke Jakarta, Ismail Banda hijrah ke Jakarta, dan tetap bekerja di Kemenlu, sampai malaikat maut menjemputnya dalam perjalanan ke Kabul.

BACA JUGA: NU dan Masyumi Berpisah Tapi Tetap Kompak

Didatangi Lafran Pane

SELAIN aktif bekerja di pemerintahan dan di dunia jurnalistik, Ismail Banda juga aktif di organisasi Al-Washliyah. Karena kedudukannya dalam Al-Washliyah, Ismail Banda aktif dalam Dewan Pimpinan Partai Masyumi.

Seperti diketahui, ketika didirikan di Yogyakarta pada 7 November 1945, Masyumi didukung oleh organisasi-organisasi kemasyarakatan Islam seluruh Indonesia menjadi satu-satunya wadah perjuangan politik umat Islam Indonesia.

Pada masa tinggal di Yogyakarta, Ismail Banda meluangkan waktunya mengajar di Sekolah Tinggi Islam (STI, sekarang Universitas Islam Indonesia). Saat menjadi dosen STI itulah Ismail Banda didatangi oleh dua mahasiswa STI: Lafran Pane dan Asmin Nasution.

Seperti diceritakan oleh Asmin Nasution, sebelum menemui Rektor STI Abdul Kahar Mudzakkir, keduanya lebih dahulu menemui Ismail Banda di kediamannya di Jalan Ngabean. Kepada pimpinan Masyumi itu, Lafran dan Asmin menyampaikan rencana mendirikan organisasi bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Ismail Banda menyambut baik rencana Lafran dan Asmin. Kepada keduanya dipesankan agar kelak anggota HMI yang akan didirikan itu tidak lupa kepada tugas utamanya, belajar, “dan tidak ikut-ikutan berpolitik.” []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here