NU dan Masyumi Berpisah Tapi Tetap Kompak

458
NU dan Masyumi.

Oleh: Lukman Hakiem (Peminat Sejarah)

TANGGAL 31 Januari 2021, Nahdlatul Ulama (NU) genap 95 tahun. Peringatan ulang tahun organisasi dirayakan sampai ke Istana. Presiden Joko Widodo secara khusus menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada seluruh kaum Nahdliyyin.

Yang terasa istimewa, Presiden ke-5, Megawati Sukarnoputri turun gunung untuk menyelamati HUT ke-95 NU. Megawati antara lain mengenang persahabatan ayahandanya, Presiden Sukarno, dengan para pemimpin NU di masa lalu sembari berjanji akan melanjutkan persahabatan itu sekarang dan di masa depan.

Persahabatan Sukarno dengan para Pemimpin Islam

BUNG KARNO memang akrab dengan para pemimpin Islam. Ketika bersekolah di Surabaya, dia indekos di rumah pemimpin Sarekat Islam, Yang Utama H.O.S. Tjokroaminoto.

Dalam suatu pidato di depan peserta Muktamar Muhammadiyah pada awal 1960-an, Bung Karno mengaku telah ikut mengaji kepada pendiri Muhammadiyah, K.H.A. Dahlan, sejak usia 15 tahun. Sejak itu dia “ngintil” Kiai Dahlan.

Yang paling fenomenal tentulah persahabatannya dengan guru utama Persatuan Islam (Persis), Tuan Ustadz A. Hassan.

Ketika Sukarno dibuang ke Ende, adalah Tuan Hassan yang melayani dahaga spiritualnya. Korespondensi Sukarno ke Ustadz Hassan menjadi bagian tersendiri di dalam kumpulan tulisan Bung Karno, Dibawah Bendera Revolusi Djilid I, “Surat-Surat Islam dari Ende”.

Demikian sangat akrabnya hubungan Sukarno dengan A. Hassan sehingga Bung Karno tidak sungkan curhat kepada Tuan Hassan. Dalam surat kepada Tuan Hassan tertanggal 12 Juni 1936, Sukarno mengeluhkan kesulitan keuangan yang dihadapinya di tempat pembuangan karena “saya punya onderstand dikurangi, padahal tadinya pun sudah sesak sekali buat membelanjai segala saya punya keperluan.”

Lebih lanjut Sukarno bercerita bahwa dirinya saat itu sedang menerjemahkan sebuah buku berbahasa Inggris “yang mentarichkan Ibnu Saud.” Bung Karno menyebut biografi Ibnu Saud itu “bukan main hebatnya.”

Kepada Ustadz Hassan, Bung Karno bercerita bahwa “biografi itu menggambarkan kebesaran Ibnu Saud dan Wahabisme begitu rupa, mengobar-kobarkan elemen amal, perbuatan sedemikian rupa, hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain cs akan kehilangan akal nanti sama sekali.”

Di akhir suratnya, Sukarno meminta tolong kepada Tuan Hassan untuk mencarikan orang yang mau membeli copy buku terjemahannya itu atau “barangkali Saudara sendiri ada uang buat membelinya. Tolonglah melonggarkan saya punya rumah tangga yang disempitkan korting itu.”

Saya percaya, Megawati tentu telah khatam membaca Dibawah Bendera Revolusi Djilid I, dan menunggu pidatonya mengenang persahabatan Bung Karno dengan Ustadz A. Hassan yang luar biasa akrab itu.

Dalam suasana Satu Abad Persatuan Islam, kenangan Megawati terhadap persahabatan ayahandanya dengan Ustsdz A. Hassan, tentu memiliki nilai tersendiri.

Selanjutnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here