Menjajal 17 Jam Puasa di Azerbaijan (My Trip in Baku – 5)

678

Baku, Muslim Obsession – “Tok..tok..tok”. Suara itu berulang sebanyak dua kali sebelum saya membuka pintu kamar 411.

“Are you sahur?” tanya petugas hotel. “Yes!” jawab saya tegas.

Ia pun segera meletakkan satu nampan makanan di meja kamar, kemudian berlalu setelah mengatakan, “Enjoy it, Sir.”

Pukul 2.23 dini hari. Petugas itu datang terlalu cepat. Padahal malam tadi petugas resepsionis mengatakan bahwa makanan sahur akan diantarkan pukul 3 pagi.

Tapi, ok lah. Lebih cepat, lebih baik.

Dari atas nampan coklat tua, saya pandangi makanan yang disediakan. Ada semangkuk sereal yang dicampur susu, dua butir telur ayam, Tandoor (roti khas Azerbaijan), dan setumpuk sayuran yang diatur rapi bersama keju di atas piring pipih berwarna putih. Dan sebagai pelengkap, ada juga air mineral, lada, garam, yogurt, dan alat-alat makan seperti sendok sup, garpu, dan pisau.

Sejenak saya tertegun melihat makanan ini. Sayuran seperti ini pernah saya cicipi di restoran Salam Baku. Rasanya….gitu deh. Lidah kampungan saya menolaknya.

Mata saya pun beralih menatap sereal dan setumpuk tandoor tak jauh di sampingnya. Segera saya ambil sendok dan menyantapnya setelah membaca doa makan yang anak-anak TK pun hafal membacakannya.

Sereal saya santap dengan tandoor yang dicubit kecil-kecil. Teringat seperti waktu kecil, mencubit roti ke dalam semangkuk burjo (bubur kacang hijau).

Waktu bergerak cepat. Saya harus cepat-cepat menyelesaikan sahur karena saat Subuh segera tiba. Ya, waktu Subuh di Baku adalah pukul 03.22 WIB.

Setelah urusan dengan sereal dan tandoor selesai, saya pin segera menguliti dua telur ayam. Dalam waktu singkat, telur berpindah tempat ke dalam perut. Alhamdulillah!

Makan sahur pun saya tuntaskan dengan sebotol air mineral. It’s well done.

*****

Tak ada adzan subuh terdengar pagi ini. Bahkan adzan tak terdengar sejak kali pertama menapaki The Land of Fire ini.

Meski 95% masyarakat Azerbaijan muslim, namun shalat bukanlah ibadah yang menjadi kewajiban bagi mereka. So, tak heran jika masjid-masjid di Azerbaijan tampak lengang tak ada aktivitas. Bahkan beberapa di antaranya sudah tak difungsikan lagi, melompong kosong!

Pun demikian dengan puasa Ramadhan. Hanya segelintir orang dari komunitas Sunni yang melaksanakannya. Kalaupun berpuasa, boleh jadi mereka tidak shalat.

“Di sini banyak Islam KTP,” kata Mr. Ali Huseyinli, staf lokal KBRI yang sangat fasih berbahasa dan mengenal Indonesia.

Mayoritas masyarakat Azerbaijan, kata Mr. Ali, hanya percaya bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Itu saja. Adapun pelaksanaan syariat tak menjadi perhatian sama sekali.

“Kondisi ini akibat pengaruh Soviet yang masih kuat tertanam di otak masyarakat Azerbaijan,” jelas Mr. Ali.

Mr. Ali sendiri mengaku dirinya Sunni yang melaksanakan puasa Ramadhan dan menjalankan shalat lima waktu. Meski perilaku ibadahnya ini diakuinya baru dilakukan sejak ia duduk di bangku SMA saat berguru agama kepada seorang keturunan Turki.

Puasa di Azerbaijan akan saya lalui selama lebih kurang 17 jam. Selisih 5 jam dibandingkan waktu berpuasa di tanah air.

Saya bisa saja memilih untuk tidak berpuasa karena menjadi musafir. Tapi, firman Allah yang mengatakan, “..wa an tashûmu khairun lakum..” menjadi alasan kuat bagi saya untuk tetap berpuasa.

Kapan lagi berpuasa di negeri orang?

*****

Hari ini, Senin (28/8/2018), tepat satu abad Azerbaijan merdeka. Sebuah momentum yang mesti diperingati secara sakral untuk mengingat jasa para pahlawan.

Usia 100 tahun dirayakan sederhana saja oleh masyarakat Azerbaijan. Ini memang tradisinya saat HUT negeri ini, begitu kata Mr. Ali.

“Jangan harap menemukan lomba balap karung, makan kerupuk, gerak jalan, atau lomba upacara di setiap sekolah,” ungkap Mr. Ali yang menetap 8 tahun di Indonesia dan merasakan kemeriahan perayaan HUT RI hampir setiap tahunnya.

Taman Dagustu

Dari ketinggian Taman Dagustu kami bisa menatap indahnya Laut Kaspia. Ada banyak yacht berbaris di sebuah dermaga kecil di bibir pantainya. Juga bangunan-bangunan indah yang sengaja dibangun menjorok sedikit ke tengah laut.

Berhadapan dengan Laut Kaspia terdapat Flame Towers. Inilah landmark Kota Baku yang menandai negeri ini sebagai Tanah Api.

Bentuk bangunan yang menjulang tinggi dengan arsitektur kokoh dan indah, Flame Towers menjadi obyek buruan para pelancong.

Flame Towers

Apalagi cuaca hari ini di Baku cukup cerah. Sinar matahari yang hangat berpadu dengan semilir angin yang sejuk. Kali ini, kami menikmati suhu sekitar 21 derajat celsius.

Jelang akhir perjalanan di Taman Dagustu, kami coba berbincang dengan tiga pelancong cantik yang berasal dari Sumgayit, kota tetangga Baku.

Sabina, Augun dan Zarefah mengapit seorang wartawan peserta rombongan

Mereka adalah Sabina (19), Augun (19), dan Zarefah (20). Kata Sabina, hari ini mereka tengah merayakan ulang tahun Augun.

“Kami juga sedang berpuasa,” tutur Sabina mewakili Augun dan Zarefah.

Sabina lalu bercerita soal kegiatannya selama Ramadhan. “Kami mahasiswi yang belajar hingga pukul 6 sore. Setelah itu kami di rumah untuk belajar,” jelasnya.

Tak ada tradisi ngabuburit seperti di Indonesia. Bahkan, saat ditanya apakah ia shalat tarawih, Sabina hanya menggeleng. Menurutnya, banyak masyarakat Azerbaijan yang berpuasa tapi tidak melaksanakan shalat.

Pun tak ada menu khusus saat berbuka puasa. “Iftar kami adalah air putih, kurma, dan sup. Selanjutnya kami biasa makan Plov dan Dolma,” terangnya.

Plov adalah semacam nasi khas Azerbaijan. Sementara Dolma merupakan makanan khas dari daging cincang yang dicampur nasi dan dibungkus daun anggur.

Sabina, Augun dan Zarefah

“Puasa ini bagi saya bagus sekali. Bahkan bagi non-muslim sekalipun,” kata Sabina. “Puasa bagus untuk mereka yang ingin merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan,” sambungnya.

Statement Sabina ini menarik bagi saya. Apalagi ia kemudian menyebut bahwa menjalani puasa selama 17 jam tak jadi masalah untuknya.

“Allah yang membuat saya kuat. Allah yang menjaga hati, niat, dan tekad saya untuk tetap berpuasa,” pungkasnya. Subhanallah!

Taman Dagustu, 28 Mei 2018.

 

Baca Juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here