Bertanya Islam pada Staf Presiden Azerbaijan (My Trip in Baku – 7)

576
Bersama Prof. Dr. Ali M. Hasanov usai berdialog tentang Islam, politik, dan agama di Azerbaijan, Selasa (29/5/2018) (Foto: Fath/ Muslim Obsession)

Baku, Muslim Obsession – Usai menikmati Heydar Aliyev Museum, perjalanan kami lanjutkan untuk menemui Prof. Dr. Ali M. Hasanov. Beliau adalah staf presiden untuk bidang public political issues. Informasi dari Mr. Ali Huseyinli, beliau inilah yang mengundang kami ke Azerbaijan.

Masuk ke kantor Mr. Ali M. Hasanov, kami harus melalui pemeriksaan yang sangat ketat. Selain pemeriksaan paspor dan tas, juga diinformasikan bagi yang tak bersepatu tidak boleh masuk dan tak boleh mengambil foto apalagi video.

Wajar saja, gedung President Administration yang jadi kantor Mr. Ali M. Hasanov juga merupakan kantor bagi Presiden Ilham Aliyev. Seperti Istana Merdeka bagi Presiden RI di Jakarta.

Kami diantarkan petugas ke lantai tiga dengan naik menggunakan lift. Ada tiga lift dengan ruangan kecil. Hanya 4-5 orang yang boleh masuk.

Rungan pertemuan adalah sebuah meeting room berukuran sekira 8×3 meter. Di sana sudah menunggu tiga orang yang akan mengambil video pertemuan kami dengan Mr. Ali M. Hasanov.

Kami dan semua peserta pertemuan segera berdiri saat Mr. Ali M. Hasanov datang.

Meski berperawakan tak terlalu tinggi, Mr. Ali M. Hasanov tampak sangat kharismatik dan berwibawa. Lelaki yang ahli geologi ini menguasai banyak hal sehingga kami dipersilakan menanyakan apapun soal Azerbaijan.

“Kami ucapkan salam dan selamat datang kepada tamu-tamu dari Indonesia. Bagaimana Azerbaijan menurut Anda semua?” ujar Mr. Ali M. Hasanov menyapa kami, seperti diterjemahkan Mr. Ali Huseyinli.

Kepada kami, ia sekilas memberikan gambaran tentang sejarah Azerbaijan dan perkembangannya saat ini.

“Pada abad 16 ada negara Safawi yang jadi cikal bakal Azerbaijan. Sebenarnya ada beberapa negara, tapi yang eksis adalah Safawi dan Utsmani,” ungkap Mr. Ali M. Hasanov mengawali paparannya.

Safawi, menurutnya, selalu berada dalam konflik antara Rusia, Turki, dan Iran. Negara-negara ini berusaha mengambil tanah Safawi.

Sepertiga di antaranya dikuasai Iran. Di tanah ini ada warga Azerbaijan yang jumlahnya empat kali lipat dari negara Azerbaijan sendiri.

Sisanya, tanah Azerbaijan dikuasai Turki dan Armenia di sebelah barat. Bahkan Armenia juga ingin menguasai tanah Azerbaijan di Karabakh. Ada 1 juta orang terusir dari Karabakh. Cukup lama tanah Azerbaijan dikuasai Armenia, sejak 1988 dan hingga saat ini masih terus dalam konflik.

Tanah yang dikuasai Rusia inilah yang menjadi Azerbaijan saat ini. Sebuah kemerdekaan yang diraih dengan berdarah-darah dari Rusia.

Negara yang pertama kali merdeka dari cengkeraman Rusia adalah Azerbaijan. Saat Rusia jatuh pada tahun 1917, setahun kemudian, tepatnya 28 Mei 1918, Azerbaijan membentuk negara Republik pertama di kawasan Timur. Sayangnya, pada 1920 Azerbaijan dikuasai Soviet hingga 1990. Setelah Soviet pecah, Azerbaijan kembali menyatakan kemerdekaannya pada 1991.

“Saat ini Azerbaijan berkembang cepat. Kami mendirikan opera teater, sekolah, dan universitas negeri. Kami juga lebih awal memberikan hak pilih dan dipilih bagi perempuan dibandingkan Amerika dan Eropa,” katanya.

Pertemuan semakin menarik saat sesi dialog. Saya salah satunya bertanya soal peradaban Islam yang ‘terbuang’. Saya mengemukakan bahwa ada banyak peninggalan dari peradaban Islam di Azerbaijan. Ini terlihat dari koin dan uang kertas yang berbahasa Arab, puisi dan prosa yang bercerita soal tradisi Arab dan Islam. Bahkan Layla Majnun yang ikonik di Negeri Tanah Api ini pernah saya pelajari saat kuliah.

Saya bertanya soal upaya pemerintah Azerbaijan untuk kembali membangun peradaban Islam tersebut.

“Di era Soviet, hampir semua masjid kami diruntuhkan. Hanya ada 13 masjid tersisa. Setelah kami merdeka, kami bangun 3.500 masjid,” jawab Mr. Ali M. Hasanov seolah ingin mengatakan bahwa pemerintah Azerbaijan telah berbuat banyak untuk menegakkan kembali peradaban Islam.

Jawaban ini kemudian ditanggapi dengan pertanyaan lainnya: kenapa kami tak pernah mendengar adzan di sini? Ke mana orang-orang Islam yang mengisi 3.500 masjid tersebut?

Mr. Ali M. Hasanov mengatakan, ada norma di masyarakat yang tidak membolehkan adzan terdengar lantang. Batas jarak maksimum adalah 1 kilometer. Adzan tak diperbolehkan mengusik ketenangan orang-orang di sekitarnya.

“Bagi kami, shalat, puasa, haji, dan ibadah lainnya adalah urusan personal. Hanya pelakunya dan Tuhan yang tahu,” tandas Mr. Ali M. Hasanov.

Mr. Ali M. Hasanov mengatakan bahwa Islam tetap jadi bagian tak terpisahkan meski dengan cara yang berbeda seperti di Indonesia.

Well, jadi ini kata kuncinya.

Baku, 29 Mei 2018.

 

Baca Juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here