Membaca Al-Fatihah Setelah Shalat Fardhu

135

Oleh: Drs. H. Tb. Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Bolehkah membaca Al-Fatihah setelah shalat fardhu? Demikian pertanyaan seorang jamaah, mengingat ada ustadz yang menilai membaca Al-Fatihah bukanlah ajaran Rasulullah ﷺ.

Membaca Al-Fatihah yang ditujukan kepada Nabi ﷺ adalah dalam rangka tawasul, atau kita membaca Al-Fatihah saja adalah dalam rangka tawasul bil quran. Lalu, bolehkah setelah shalat dan setelah membaca istighfar kemudian kita membaca Al-Fatihah?

Boleh saja, tidak mengapa. Karena ini juga tercatat di kitab-kitab hadits dan penjelasan para ulama yang masyhur dan mereka hapal berjuta hadits. Saya lebih percaya penjelasan para ulama tersebut dibandingkan dengan ustadz yang secara keilmuan tidak memahami konsep dalam literasi ajaran Islam.

BACA JUGA: Pernahkah Para Nabi Berbuat Salah?

Berikut ini penjelasan saya menurut pemahaman ulama-ulama masyhur dan wara’.

1. Keterangan Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, ulama mazhab Imam Maliki.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam QS. Al-Maidah ayat 35:

 يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah carilah perantara mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kalian bahagia”.

Kata الْوَسِيْلَة (perantara) dalam ayat di atas jika ditinjau dengan disiplin ilmu ushul fiqih termasuk kata ‘amm (umum), sehingga mencakup berbagai macam perantara. Kata al-wasîlah ini berarti setiap hal yang Allah jadikan sebab kedekatan kepada-Nya dan sebagai media dalam pemenuhan kebutuhan dari-Nya.

BACA JUGA: Mengenal Tingkatan Ulama

Prinsip sesuatu dapat dijadikan wasilah adalah sesuatu yang diberikan kedudukan dan kemuliaan oleh Allah. Karenanya, wasilah yang dimaksud dalam ayat ini mencakup berbagai model wasilah, baik para nabi dan shalihin, sepanjang masa hidup dan setelah wafatnya, atau wasilah lain, seperti amal shalih, derajat agung para nabi dan wali, serta lain sebagainya. (Lihat: Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki, Mafâhim Yajib ‘an Tushahhah, 118).

Paparan di atas menjelaskan bahwa membaca Al-Fatihah adalah dalam rangka tawasul kepada Baginda Nabi. Boleh dibaca setelah shalat agar Allah menerima permohonan kita.

2. Penjelasan Imam Ahmad bin Hambali.

Al-Fatihah adalah bagian dari kita berdoa, yang dinamakan tawasul. Bolehkah kita tawasul dengan ayat-ayat Al-Quran? Jawabannya boleh.

Bahwa seseorang yang berdoa kepada Allah dengan Al-Quran adalah boleh. Karena hal itu termasuk tawasul kepada Allah dengan salah satu sifat-Nya. Bertawasul dengan salah satu sifat Allah adalah perkara yang dibolehkan di dalam syari’at. Di antaranya dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (2202) dan Tirmidzi (2080) dari Utsman bin Abil Ash –radhiyallahu ‘anhu– bahwa Nabi ﷺ telah mengajarkan kepadanya pada saat mengadu agar mengucapkan:

 أعوذ بعزة الله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر

“Aku berlindung dengan ke-Maha Perkasaan Allah dan Kekuasaannya dari keburukan yang aku hadapi dan yang aku khawatirkan”.

BACA JUGA: Tangisan Sang Imam

Dan juga sabda Nabi ﷺ:

 اللهم بعلمك الغيب، وقدرتك على الخلق، أحيني ما علمت الحياة خيرا لي، وتوفني إذا كانت الوفاة خيرا لي

رواه أحمد في ” المسند ” (30/265) وصححه محققو طبعة مؤسسة الرسالة

“Ya Allah dengan ilmu Engkau yang ghaib, kekuasaan-Mu kepada semua makhluk, hidupkanlah aku selama kehidupan menurut ilmu-Mu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku,” (HR. Ahmad dalam Musnad: 30/265) dan dishahihkan oleh para peneliti penerbit Muassasah Risalah.)

Dalil-dalil akan disyari’atkannya tawasul kepada Allah dengan sifat-sifat-Nya begitu banyak.

Di antara sifat-sifat Allah Ta’ala adalah kalam-Nya, sedangkan Al-Quran adalah Kalamullah subhanahu wa ta’ala, maka boleh bertawasul dengannya. Oleh karenanya para ulama salaf telah berhujjah, seperti Ahmad dan yang lainnya, bahwa Kalamullah bukanlah makhluk. Sabda Nabi ﷺ:

 أعوذ بكلمات الله التامات

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna”.

Mereka berkata: “Bahwa beliau telah berlindung dengannya, dan tidak berlindung kepada makhluk,” (Kitab Qa’idah Jalilah fit Tawassul).

BACA JUGA: Larangan Mencari Kesalahan Orang Lain

Nah, di sini Jelas membaca Al-Fatihah adalah bagian dari kalimah Allah atau Kalamullah dan ini namanya tawasul, dalam rangka terkabulnya hajat dan Allah terima.

3. Kalau ada ustadz yang mengatakan bahwa tidak ditemukan anjuran membaca Al-Fatihah setelah shalat, berarti itu artinya juga tidak dilarang. Maka timbul pertanyaan, apakah membaca Al-Fatihah dalam rangka berdoa juga dilarang?

Berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ, kalau tidak ada larangan dari Al-Quran dan Al-Hadits berarti kita boleh melakukannya dan boleh membacanya, berdasarkan Ijma/kesepakan ulama Islam dari zaman Salafusshalih. Bila tidak ada larangan maka secara tersirat di-istinbat-kan/digali ayat-ayat yang mencangkup tentang kebolehan membaca Al-Fatihah tersebut.

4. Tawasul bil Quran dan bis Shalihin termasuk pernah dilakukan oleh orang Yahudi sebelum Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan.

Tawassul ini digunakan Yahudi Khaibar, sebagai mana keterangan sahabat Ibnu Abbas RA berikut ini:

 قال ابن عباس رضي الله عنهما: كانت يهود خيبر تقاتل غطفان، فلما التقوا هزمت يهود فدعت يهود بهذا الدعاء، وقالوا إِنَّا نَسْئَلُكَ بِحَقِّ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِيْ وَعَدْتَنَا أَنْ تُخْرِجَهُ لَنَا فِي آخِرِ الزَّمَانِ؛ إِلّا أَنْ تَنْصُرَنَا عَلَيْهِمْ. قال: فكانوا إذا التقوا دعوا بهذا الدعاء فهزموا غطفان، فلما بعث النبي صلى الله عليه وسلم كفروا، فأنزل الله تعالى: “وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا” أي بِكَ يَا مُحَمَّدُ، إلى قوله فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Ibnu Abbas bercerita bahwa dahulu Yahudi Bani Khaibar kerap bentrok fisik dengan Bani Ghathfan. Kalau perang berkecamuk, satuan pasukan Yahudi Khaibar itu mesti cerai-berai. Yahudi Khaibar lalu berdoa seperti ini, ‘Innâ nas’aluka bi haqqin nabiyyil ummiyyil ladzî wa ‘adtanâ an tukhrijahû lanâ fî âkhiriz zamân illâ an tanshuranâ’ (Ya Allah, kami memohon kepada-Mu melalui kebenaran Nabi Ummi yang Kau janjikan kepada kami diutus di akhir zaman, kecuali Kau bantu kami mengalahkan mereka)”.

BACA JUGA: Al-Quran, Surat Cinta dari Allah

Setiap kali berperang, Yahudi Khaibar selalu berdoa seperti ini dan mereka berhasil memorakporandakan satuan pasukan Ghathfan. Lalu Allah menurunkan ayat, ‘Mereka itu sebelumnya memohon kemenangan atas orang-orang kafir’, maksudnya ‘lewat tawassul denganmu hai Muhammad,’ hingga akhir ayat, ‘maka laknatullah jatuh mengenai orang-orang kafir’,” (Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani, Mafahim Yajibu an Tushahhah, Surabaya, Haiatus Shafwah Al-Malikiyyah, tanpa catatan tahun, halaman 137).

Terakhir, saran menyarankan, jika melihat dari kaca ilmiah maka janganlah kita bersumpah untuk membenarkan pendapat kita.

Sebab jika kita benarkan pendapat kita dengan sumpah, maka khawatir orang yang tidak sejalan dengan kita seolah-olah dia menentang Allah dan Rasul-Nya, padahal itu ilmu tentang ajaran Islam itu luas tiada bertepi.

Jangan kita sempitkan dengan pola-pola pendapat kita yang seolah-olah itu dari Allah dan Rasul-Nya.

Ingat, kita masuk surga karena kita mengamalkan kebaikan yang Allah ridhoi, dengan standar dan ucapan dari pemahaman ulama-ulama Salafusshalih, bukan karena kita sudah membaca.

Demikian penjelasan kenapa kita bertawasul ketika selesai shalat, yakni agar doa yang dipanjatkan senantiasa dikabulkan Allah Ta’ala. Aamiin.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here