Pernahkah Para Nabi Berbuat Salah?

115

Oleh: Drs. H. Tb. Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Ada jamaah bertanya kepada saya, apakah para nabi terutama Nabi Muhammad ﷺ pernah berbuat salah?

Pernyataan bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia yang Ma’shum (tidak memiliki kesalahan) sudah menjadi kesepakatan dalam akidah agama Islam.

Berikut ini saya jawab pertanyaan jamaah tersebut berdasarkan kitab Al-Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Karena, meski terkesan pertanyaan sederhana, namun untuk menjawabnya memerlukan penjelasan yang dalam.

Kita jelaskan dulu makna salah, apakah salah karena berbuat dosa dan maksiat atau hanya keliru atau lupa.

1. Jika salah dengan maksud berbuat dosa dan maksiat, maka hal ini mustahil bagi para Nabi untuk berbuat hal tersebut. Para Nabi itu adalah Ma’shum atau terpelihara dari perbuatan kotor, dosa, dan maksiat.

BACA JUGA: Pencapaian Ilmu

Jadi tidak benar jika dikatakan bahwa para Nabi berbuat dosa dan maksiat yang dilakukan sebelum jadi Nabi, sebab ini sudah jaminan Allah Ta’ala dengan kata-kata Ma’shum atau terpelihara tadi.

2. Jika yang dimaksudkan adalah kekeliruan tak sengaja (السهو) dan berkaitan dengan pekerjaan (فعل) dan untuk suatu pengajaran, maka bisa saja Nabi keliru. Misalnya, pernah Nabi keliru saat shalat, baru dua rakaat langsung salam padahal seharusnya empat rakaat.

Kekeliruan semacam ini mengandung hikmah syariat agar umat mengetahui apa yang harus dilakukan pada saat mengalami kekeliruan (maka ini bagian dari Hikmatus Syar’iyah) karena termasuk kehendak Allah.

Sedangkan kekeliruan (السهو) dalam perkataan (قول) yang tidak mengandung Hikmatus Syar’iyah, ini mustahil dilakukan. Misalnya, hendak mengatakan “Amr berdiri”, tapi keliru dengan menyebut “Amr duduk”, maka kekeliruan seperti ini mustahil. Tidak mungkin terjadi sebab akan menjadikan syubhat seluruh perkataan Nabi dan bahkan menghilangkan sifat fathonah atau kecerdasan yang dimiliki oleh para Nabi.

BACA JUGA: Sejarah Bulan-Bulan Hijriyah

3. Jika salah yang dimaksud dalam menyampaikan Wahyu Allah kepada umat-Nya, ini juga tidak mungkin dan mustahil, sebab bisa mengubah maksud yang Allah turunkan. Misalnya Nabi keliru menyampaikan bahwa anjing itu haram, tapi justru disampaikan bahwa anjing itu halal, kekeliruan seperti ini mustahil terjadi.

4. Keputusan atau ijtihad Nabi yang mengandung Hikmatus Syar’iyah.

A. Jika wahyu yang turun maka ini 100 persen benar.

B. Ada keputusan dan perbuatan Nabi yang beliau diberikan hak ijtihad oleh Allah. Dalam ranah ijtihad ini Rasul memilih berdasarkan kebijaksanaan dan atau musyawarah bersama sahabat untuk memutuskan sesuatu.

BACA JUGA: 4 Hal yang Akan Ditanyakan di Akhirat

Nah, dalam Hikmatus Syar’iyah terkadang keputusan Nabi perlu direvisi oleh Allah Ta’ala. Revisi dari Allah Ta’ala inilah yang mengandung Hikmatus Syar’iyah berupa pengajaran untuk Nabi dan kaum Muslimin.

Misalnya:

a) Tentang tawanan perang Badar.

Sayyidina Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berpendapat agar para tawanan perang Badar dibunuh. Sedangkan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu menyarankan untuk dibebaskan dengan membayar tebusan harta. Ijtihad Rasulullah ﷺ sama dengan pendapat Sayyidina Abu Bakar Assidiq radhiyallahu ‘anhu akhirnya tawanan dibebaskan dengan tebusan.

Tetapi apa yang terjadi? Allah menurunkan wahyu dalam QS. Al-Anfal ayat 67 sebagai revisi keputusan Nabi Muhammad ﷺ.

BACA JUGA: Larangan Mencari Kesalahan Orang Lain

b) Saat beliau berijtihad dan memutuskan untuk mendahulukan dakwah kepada para pembesar Quraisy, mengesampingkan dakwah kepada Ibn Ummi Maktum yang tuna netra. Akhirnya Allah pun merevisi ijtihad beliau dengan turunnya wahyu Allah lewat QS. Abasa.

Terakhir, perlu diketahui keputusan dan perbuatan yang Rasulullah ﷺ ambil berdasar ijtihad tentu bukan sebuah kesalahan, sebab di ranah itu beliau mendapat izin otoritas dari Allah Ta’ala untuk berijtihad.

Sedangkan Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana tentu lebih tahu pilihan mana yang seharusnya lebih tepat. Dan hanya Allah sajalah yang berhak merevisi pilihan Rasulullah ﷺ, bukan kita umat manusia.

Kaidah ijtihad: jika benar mendapat dua pahala, jika salah tetap mendapat satu pahala.

Demikian, wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here