Pencapaian Ilmu

96

Oleh: Drs. H. Tb. Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 51:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”.

Tafsir

(Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali) dengan perantaraan (wahyu) yang Dia wahyukan kepadanya di dalam tidurnya atau melalui ilham (atau) melainkan (di belakang tabir) seumpamanya Allah memperdengarkan kalam-Nya kepadanya, tetapi dia tidak dapat melihat-Nya, sebagaimana yang telah terjadi pada Nabi Musa ‘alaihissalam (atau) kecuali (dengan mengutus seorang utusan) yakni malaikat, seperti Jibril (lalu diwahyukan kepadanya). Maksudnya, utusan itu menyampaikan wahyu-Nya kepada rasul yang dituju (dengan seizin-Nya) dengan seizin Allah (apa yang Dia kehendaki) apa yang Allah kehendaki. (Sesungguhnya Dia Maha Tinggi) dari sifat-sifat yang dimiliki oleh semua makhluk (lagi Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya.

BACA JUGA: Sejarah Bulan-Bulan Hijriyah

Pemikiran Ayat

Bagaimana mungkin mau beribadah langsung tanpa lewat wasilah atau perantara? Sedangkan dalam ayatnya menyebutkan tidak mungkin. Karena wajib di antara Tuhan dan manusia, di tengah-tengahnya ada utusan. Karena Dia Maha Tinggi gelombang-Nya. Di situ menerangkan lagi-lagi tentang diizinkan dan dikehendaki-Nya.

Artinya selama tidak diizinkan dan tidak dikehendaki-Nya mustahil bisa mengerti. Pasti kita akan sibuk mendebat, sibuk beradu teori dan argumentasi.

Wahyu itu adalah ayat-ayat qadim yang ada di balik tabir Allah (di Alam Nur). Dia berkata-kata bukan dengan bahasa manusia, bukan bahasa malaikat, juga bukan bahasa makhluk manapun. Tetapi firman qadim yang berupa wahyu itu tersambung lewat jalan cahaya (di Alam Ruh).

BACA JUGA: Mengenal Tingkatan Ulama

Jadi jangan membayangkan firman Tuhan dengan bahasa manusia, atau firman berupa kalimat-kalimat bahasa manusia.

Awalnya hanya berupa Nur Iman dan Nur Kitab saja. Sedangkan orang-orang khususlah yang diberi kehendak serta diizinkan sebagai penerjemah dari ayat-ayat qadim ke bahasa manusia menjadi kitab tertulis.

Jadi yang tertulis itu sebenarnya adalah tejemahan dari kitab yang tak tertulis. Maka untuk mengetahui firman yang aslinya adalah mesti kembali ke gelombang energi wahyu atau firman yang berupa Nur tersebut.

Maka ayat-ayat itu mestinya harus sesuai dengan zaman kita sendiri karena ayat-ayat qadim tidak terikat ruang dan waktu.

Hubungan antara manusia dan Tuhan mesti lewat utusan guru cahaya di alam cahaya.

BACA JUGA: Catatan Kiamat, Peperangan dengan Mata Sipit yang Disalah-artikan

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di QS. At-Taubah ayat 128:

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”.

Oleh karenanya Nabi Muhammad bersabda bahwa mustahil manusia bisa membaca Al-Quran. Bahkan menyentuhnya saja mustahil, kecuali oleh ruh-ruh yang disucilan.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ألا يمس القرآن إلا طاهر

“Tidak boleh menyentuh Alquran kecuali orang yang dalam kondisi suci,” (Muwaththa’ Imam Malik, kitab Al-Quran, Hal. 199; Sunan Ad-Darimi, kitab Ath-Thalaq (2183)).

BACA JUGA: 4 Hal yang Akan Ditanyakan di Akhirat

Karena hubungan manusia dengan Tuhan adanya lewat gelombang ruh yang sebelumnya mesti dibersihkan dan disucikan terlebih dahulu, maka ibadahnya orang-orang yang tidak dibersihkan hatinya (qolbunya) juga mustahil. Menyembah Tuhan dengan akal juga mustahil.

Mesti memakai pencapaian yang tinggi berupa Thariqatullah atau dengan Tadribat (latihan) hati agar Allah bukakan panca indra kita ke Alam Nur, yang saat itulah kita memungkinkan bisa terhubung.

Mari kita belajar agama, mumpung ruh kita masih melekat di badan agar nanti jika sudah saatnya tiba pencapaian ruh di alam sana dapat disinari oleh Nur Al-Quran. Aamiiin ya Robbal ‘Aalamiin.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here