Kopi Sehat UBM: Mengelola Perasaan

170

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam (LKPI) PP PARMUSI, Direktur An-Nahl Institute Jakarta, Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai UMMAT)

SAAT terjadi perang Uhud, Hindun binti Utbah memerintahkan Wahsyi bin Harb membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib رضى الله عنه, paman Rasúlulláh ﷺ yang bergelar ‘Asadulláh’ (Singa Allàh) dengan ganjaran dimerdekakan dari budak bila misinya sukses.

Dengan posisi yang tepat, ketika sang ‘Asadulláh’ berada dalam jarak yang dekat dengannya, Wahsyi siap mengambil ancang-ancang. Setelah merasa yakin, Wahsyi langsung melemparkan lembing ke arah Hamzah.

Tombak yang dilemparnya pun tidak meleset sedikit pun. Tombak itu berhasil mengenai perut Hamzah bagian bawah. Pada waktu inilah, Sang ‘Singa Allah’ ini syahid oleh Wahsyi.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Pemerintahan dan Akhlak Para Pengelolanya

Atas jasanya itu Wahsyi pun mendapatkan kebebasan dari perbudakan. Tapi sayang, hidupnya seakan dihantui rasa takut dan kebingungan berkepanjangan usai melakukan pembunuhan sadis itu.

Ketakutan dan kebingungan Wahsyi pun kian membesar karena kaum Muslimin kian menyebar luas di Mekah, kota di mana ia berada.

Akhirnya, ia mencari tempat yang aman untuk pergi dan bersembunyi ke Thaif. Namun, beberapa saat saja, penduduk Thaif makin kompak menerima dakwah serta menyatakan keislamannya.

Wahsyi dilanda kebingungan makin menjadi dan tak tahu lagi hendak pergi ke mana untuk berlindung.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Tauhid dan Semangat Perjuangan

Rasa penyesalan mendalam dan ketakutan yang terus menghantui dan semakin menghinggapi dirinya. Dunia seakan terasa sempit baginya, sebab tak ada tempat untuk melarikan diri.

Dalam keadaan seperti ini, ada seorang sahabat Wahsyi berkata, “Tak ada gunanya engkau melarikan diri, Wahsyi. Muhammad tidak akan membunuh orang yang masuk agamanya dan mengakui kebenaran Allàh serta Rasul sebagai utusan-Nya”.

Setelah mantap hatinya ketika mendengar nasihat tersebut, pergilah Wahsyi ke Madinah untuk bertemu Nabiyulláh Muhammad ﷺ dan menyatakan diri akan masuk Islam.

Ketika bertemu Raúlulláh ﷺ yang kemudian menerima keislamannya, Rasúlulláh ﷺ menyampaikan, “Saya telah menerima Iman dan Islammu, tapi jangan sering-sering hadir ada di hadapanku”.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Jadilah Diri Sendiri

Di sinilah kita menemukan bahwasanya Rasúlulláh ﷺ mampu mengelola dan menata perasaan yang berkecamuk dalam dirinya.

Bagaimana beliau mampu membendung kekesalan, kemarahan, kesedihan dan luka yang mendalam atas ditombaknya paman beliau yang disaksikan oleh mata kepalanya sendiri. Bahkan konon hati sang paman diambil untuk dimakan oleh Hindun.

Kita memetik hikmah yang besar, di antaranya bahwa ketika dalam perahu kebersamaan, dalam bahtera kejamaahan, maka kepentingan lebih besar tak boleh dikalahkan oleh ‘sakit, luka, keinginan dan ambisi personal’ kita.

Tetapi kebutuhan lebih besar, harapan yang lebih luas bahkan kesuksesan yang terpampang di ambang harapan itulah harus mampu menjadi garis orbit bersama.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Gunung Tembak yang Penuh Kisah Apik

Karena piawainya Rasúlulláh ﷺ ‘menata rasa dan memoles dendam’ inilah membuat Wahsyi yang meskipun telah mengetahui bahwa dosa-dosanya di masa lalu telah dihapus sejak mengakui keislamannya, tetap saja rasa penyesalan itu selalu ada.

Wahsyi sangat tahu musibah yang ia timpakan kepada kaum Muslimin begitu besar. Membunuh seorang pahlawan Islam dengan nyali yang ciut dan tidak jantan.

Demi menebus kesalahan dan dosa masa lalunya, tepatnya di masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia bertekad akan membunuh Musailamah, seorang dari murtadien yang mengaku dirinya sebagai nabi.

Ketika pasukan Muslimïn berperang melawan Musailamah dan mengembalikan Bani Hanifah kepangkuan Islam, Wahsyi kembali menyiapkan tombaknya untuk membunuh Musailamah.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Aqidah, Keyakinan Tanpa Basa-Basi

Di saat kaum Muslimin tumpah ruah menyerbu keberadaan Musailamah, ada seorang pemuda Anshar yang juga mengincar Musailamah. Wahsyi dan pemuda Anshar tersebut seakan berlomba dan tak mau kalah untuk membunuh Musailamah.

Di saat yang bersamaan, mereka melakukan caranya sendiri untuk menewaskan Musailamah. Wahsyi begitu cermat membidiknya dengan tombak, sedangkan yang sang pemuda menebas leher Musailamah dengan pedangnya.

Dalam luapan kegembiraan dengan penuh iman dan spirit kebersamaan, Wahsyi berseru di hadapan pemuda pemberani dari kalangan Anshor tersebut:

“Sungguh dengan tombak itu aku telah membunuh sebaik-baiknya manusia. Dan aku berharap, semoga Allàh mengampuniku, karena dengan tombak itu pula aku telah membunuh seburuk-buruknya manusia”.

 والله أعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here