Kopi Sehat UBM: Gunung Tembak yang Penuh Kisah Apik

Catatan seorang anak gubuk.

75

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam Pimpinan Pusat PARMUSI – Direktur An-Nahl Institute Jakarta, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Ummat)

Banyak kisah pernah dilewati, banyak cerita pernah dialami. Semua punya hikmah dan kenangan tersendiri.

Bagaimana suasana itu menjadi guratan sejarah. Entah bagaimana semua episode menjadi serpihan kisah yang menjadi bahagian tersendiri dari cerita masa depan.

Tentu semua punya frame dan gaya tersendiri dalam menangkap kesan serta mengambil pesan.

Mulai dari awal masuk, dengan khas training special, TC – Training Center – penggojlokan – pengikisan ‘thaga’ di empang ala Gunung Tembak setelah tiga hari dilayani sebagai tamu, bahagian penting ajaran Islam yang selalu menjadi perhatian serius bahkan ada Departemen pelayanan tamu.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Hijrah Tonggak Peradaban Baru yang Madani

Qiyámullail rutin yang panjang, bahkan sampai empat jam dengan bacaan yang panjang, ruku’ dan sujud yang lama serta munajat dan doa yang khusyuk adalah kesan paling dalam dan terus membekas.

Sebagai santri klasikal, tapi jam lapangannya lebih banyak dan panjang dari jam berada di kelas, karena pendidikannya memang betul-betul 24 jam nonstop – dari guring ke guring (tidur sampai tidur lagi, Bahasa Banjar ). Tetap penuh ‘ibrah dan banyak hikmah yang diperoleh.

Jangan cerita tentang makanannya, saya selalu bilang di mana-mana ceramah. Hanya ada enak dan uenak sekali. Tak kan pernah ada tak enak. Mulai dari ikan tunjuk-tunjuk alias garam, ikan berjilbab alias teri yang ditepungin bahkan kadang hanya tepungnya saja dengan wangi teri asin sampai pada kuah ayam, bekas kobokan..hehe.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Aqidah, Keyakinan Tanpa Basa-Basi

Dan banyak lagi tentunya. Intinya cuma satu pendidikan yang bukan sekedar transfer ilmu. Tetapi pendidikan dengan transfer nilai, adab dan kaya pengalaman tentang praktek nilai-nilai Islam dalam keseharian.

Hidáyatulláh yang sejak didirikan adalah sebuah Pesantren yang digagas dan dirintis langsung oleh Ustadz Muhsin Qahhar, nama asli dari Ust Abdullah Said bersama para sahabat mudanya Ust Hasyim HS, Ust M Nazir Hasan, Ust Usman Palese رحمه الله dan Ust Hasan Ibrahim yang paling muda ketika itu pada senin 1 Muharrom 1339 H bertepatan dengan 5 Februari 1973 di Balikpapan Kalimantan Timur.

Pesantren yang sejak awal dirintis sebagai wadah aktualisasi dan praktek ajaran Islam ini memang di desain untuk mengamalkan Islam dalam keseharian.

Sejak 11 Jumadits tsani 1421 H atau bertepatan dengan 13 Juli 2000 dalam munas pertamanya di kampus pusat peradaban Islam berubah menjadi Ormas Islam yang tetap berbasis pada kampus Pesantren.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Indahnya Persaudaraan Sejati

Dalam Munas ke IV lalu, Pimpinan Umum KH Abdurrahman Muhammad (sejak munas ke V berubah menjadi Pemimpin Umum) mencanangkan Gerakan Nawafil Hidayatullah atau dalam praktek keseharian disebut sebagai GNH.

GNH ini merupakan upaya menghidupkan amalan-amalan dan ibadah harian. Dalam GNH ini terdapat enam poin, yakni memakmurkan masjid, membaca Al Qur’an minimal satu juz sehari, mendirikan qiyamul lail, wirid pagi dan petang, da’wah fardliah, dan bersedekah. Sesuatu yang kemudian menjadi ‘jimat’ harian para Pengurus, kader, jama’ah dan simpatisan yang bertebaran di seluruh Nusantara bahkan Dunia.

Sesuatu yang membanggakan, setelah dipimpin oleh Ustadz Drs KH Abdurrahman sebagi Ketua Umum pertama dilanjutkan dua periode oleh abang kandungnya Dr KH Abdul Mannan, saat ini dipimpin kader formal pertama yang juga menantu dari Pendiri yakni sahabatku Dr KH Nashriul Haq Marling, Alhamdulilláh. Sebuah proses kaderisasi yang terbilang sukses dalam tempo relatif cepat.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Tetap Tenang

Sekarang? Alhamdulilláh dalam usianya yang memasuki setengah abad besok 1 Al Muharram 1443 H, semakin maju, modern dan penuh inspirasi dalam ‘kepak sayap’ perjuangan, tapi bukan sayap yang heboh di baliho itu ya. Tetap sebagai bahagian dari harakah perjuangan ummat yang mengusung tema membangun peradaban.

Semoga dengan semangat ‘dewasanya umur’ ini menjadi lebih besar dalam pijakan kokoh da’wah dan pendidikan serta pembinaan kader serta jama’ah bukan malah menjadi ‘thagha’ baru dengan ketenaran yang kemudian merasa sendiri bisa sendiri mampu. InsyaAlláh bersama kita bisa!

Di milad yang ke 50 ini, semoga semakin kokoh dalam menguatkan komitmen membangun peradaban Islam berlandaskan Manhaj Sistematika wahyu. Aamiin Yaa Rabbaná.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here