Kopi Sehat UBM: Pemerintahan dan Akhlak Para Pengelolanya

108

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam (LKPI) PP PARMUSI, Direktur An-Nahl Institute Jakarta, Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai UMMAT)

AL GHAZALI adalah salah satu tokoh ulama klasik yang dikenal memberi perhatian sangat besar dalam politik Islam (siyasah asy-syar’iyyah) selain Al-Mawardi dan Ibnu Taimiyah.

Dalam pandangan dan perhatian yang sangat tinggi itu, beliau menyatakan dengan tegas bahwa:

“Sesungguhnya dunia adalah ladang untuk akhirat. Tidaklah sempurna agama tanpa dunia. Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar, agama sebagai fondasi dan kekuasaan sebagai penjaga. Sesuatu yang tak ada fondasi akan mudah runtuh dan sesuatu yang tak ada penjaganya akan mudah lenyap. ”

Dalam pandangan Al-Ghazali yang lebih serius, beliau memperkenalkan konsep ‘siyasah al akhlàq’, yaitu konsep politik negara yang bermoral, bukan sekedar bermental (revolusi akhlàq-apa yang digaungkan kembali oleh IBe HaRSy dan Revolusi moral yang disuarakan oleh Ayahanda Prof Amien Rais–yang sangat berbeda dengan Revolusi mental ala Jokowi dan sebelumnya).

Menurut Al-Ghazali, negera memang tidak harus dipimpin oleh seorang ulama, tetapi cukup dipimpin oleh orang yang berakhlàq baik. Karena dalam pandangan Al-Ghazali, negara dan akhalk seperti mata uang, dimana kedua sisinya adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

Dalam pemerintahan Islam, otoritas syari’ah diberlakukan seluruh lapisan masyarakat, baik terhadap kalangan yang memiliki kewenangan sebagai penentu kebijakan ataupun rakyat biasa, karena tujuannya adalah terwujudnya penegakan keadilan dalam hukum dan penegakan hukum yang berkeadilan.

Dengan demikian akan terealisasinya cita-cita siyàsah ummat manusia, yaitu kemaslahatan dan kesejahteraan secara lahir dan batin di dunia sekarang ini dan untuk akhirat nantinya.

Kemaslahatan dalam hubungannya dengan kehidupan umat manusia adalah untuk memelihara tujuan syara’ atau ‘maqàshid asy syari’ah’. Adapun tujuan syara’ dalam hubungan dengan manusia ada lima yaitu, memelihara agama, akal, keturunan, jiwa dan harta.

Kemaslahatan pada konteks kehidupan umat manusia dalam studi fiqih seperti dikatakan oleh Al-Ghazali dalam Al-Mustasyfa adalah untuk memelihara tujuan syara’. Tujuan syara’ dalam hubungan dengan manusia ada lima, yakni memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta mereka. (hifzhu addïn, annafs, al-‘aql, annasl, al-amwàl–oleh ulama modern ditambahkan dengan hifzhu al-bi’ah, memelihara lingkungan).

Ini merupakan maslahah dan setiap sesuatu yang menghilangkan kelima atau keenam pokok tersebut merupakan kerusakan dan menghindarkannya itu, berarti maslahah atau kebaikan dan perbaikan sekaligus.

Oleh karena itu, pemerintahan yang berakhlak adalah pemerintahan yang memperhatikan kemaslahatan rakyatnya, khususnya hal terpenting adalah dalam hal kebutuhan pokok atau darurat. Cara seperti ini disebut ‘daf’u adl dlarara mu’shümïn’–mencegah atau melindungi setiap rakyat dari kemudlaratan.

Hal demikian dapat direalisakan sebagai berikut:

Pertama, setiap warga harus diberi pertolongan di saat sangat darurat membutuhkan pangan maupun sandang. Kedua, pemerintah berkewajiban untuk membiayai pengobatan dan perawatan warganya, dengan tidak membedakan muslim dan non-muslim.

Ketiga, melindungi warga dari kesewenang wenangan alat negara maupun penguasa, dari hak-hak dasarnya seperti, hak keselamatan fisik, harta benda, keselamatan pekerjaan dan profesi, keselamatan keyakinan/aqidah, dan keselamatan keluarga dan keturunan serta lingkungan dan dampaknya.

Sekali lagi oleh karenanya, pemerintah harus serius dan sungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya untuk kemaslahatan rakyatnya. Kalau hal ini tidak dijalankan, maka Alláh ﷻ akan menelungkupkannya ke neraka, sebagaimana sabda Rasúlulláh ﷺ:

“Jika ada wali (pemerintah) yang memegang suatu urusan umatku ternyata tidak memperhatikan dan tidak berbuat dengan sungguh-sungguh sebagaimana perhatiannya dan kesungguhannya untuk kepentingan dirinya, maka Alláh ﷻ akan menelungkupkannya ke neraka, dan penguasa yang mengkhianati rakyatnya maka dia masuk neraka.”

والله أعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here