Kisah Inspiratif tentang Halaman yang Hilang

257

Muslim Obsession – Seorang guru bertanya kepada muridnya tentang pelajaran sejarah dunia.

“Nak, siapakah Barack Obama itu?” tanya si Guru.

“Penjual es krim, Pak,” jawab si Murid.

Guru tersebut terkejut mendengar jawaban muridnya. Ia bertanya sekali lagi. Namun si Murid tetap memberikan jawaban yang sama.

Kali ini si Guru kembali mengulang pertanyaannya dengan jengkel, “Nak, bukankah biografi Barack Obama ada di buku paket. Apa kamu sudah membacanya?”

“Sudah, Pak. Barack Obama adalah penjual es krim..!”

Sang guru semakin emosi mendengar jawaban seperti itu. Lalu ia perintahkan si Murid mengeluarkan buku paket miliknya, dan membuka halaman tentang Obama.

Baca juga: Kisah Hikmah tentang Seorang Dosen dan Mahasiswi

Pada buku si Murid, ternyata biografi Obama hanya ada satu halaman. Kisah hidup Obama berhenti pada saat masih remaja, di usia 16 tahun ia memperoleh pekerjaan sebagai pelayan kedai es krim di kota Honolulu, negara bagian Hawaii.

Guru tersebut menyadari ternyata pada buku si murid, halaman kedua hilang. Mungkin tersobek tidak sengaja, atau bisa jadi memang dari penerbit buku tersebut halamannya kurang selembar.

Pantas ia tidak tahu kelanjutan sejarah hidup Obama hingga menduduki kursi presiden ke-44 di Amerika.

Baca juga: Mengenang Kisah Islamnya Cucu Nelson Mandela

Guru tersebut benar, ketika ia mengatakan bahwa Barack Obama adalah presiden. Karena kenyataannya memang demikian.

Tetapi muridnya juga benar. Karena sejauh yang ia baca, Obama adalah penjual es krim. Jadi dalam cerita tersebut keduanya sama-sama benar.

Lalu mengapa terjadi perselisihan…??

Karena sang guru tidak menyadari bahwa ada halaman yang hilang.

Begitu ia tahu, akhirnya ia memaklumi jawaban murid tersebut.

****

Apa yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari sejatinya juga serupa dengan kisah ini.

Hampir semua perbedaan pendapat antara dua orang, sebenarnya hanya disebabkan karena adanya “halaman yang hilang”, adanya perbedaan pengetahuan dan pemahaman.

Saat seorang suami berselisih dengan istrinya, redamlah dulu emosi. Sebab yang perlu kita cari tahu adalah dimana “halaman yang hilang” itu? Bukan saling bertengkar mempertahankan ego masing-masing.

Baca juga: Secuil Kisah Kemuliaan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ketika orang tua berseberangan dengan anaknya, carilah dulu “halaman yang hilang” itu. Bukan langsung melampiaskan kemarahan kepada anak.

Ketika dua sahabat berbeda dalam menyampaikan pendapat, carilah dulu “halaman yang hilang” itu. Bukan malah bertengkar saling cakar cakaran.

Karena dalam perbedaan pendapat bukan berarti ada yang benar dan ada yang salah. Bisa jadi kedua pendapat benar. Namun menjadi berbeda, karena ada “halaman yang hilang” di antara keduanya.

Semoga tidak ada “halaman yang hilang” dalam persaudaraan kita. Salam damai dari lubuk hati yang dalam, semoga kita semua selalu sehat, bahagia, dan sejahtera.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here