Kisah Hikmah tentang Seorang Dosen dan Mahasiswi

248
Dosen USU, Syafruddin Pohan dan mahasiswinya, Nurul. (Foto: IG)

Muslim Obsession – “Orang bijak adalah mereka yang selalu belajar dan mengambil hikmah dari sebuah peristiwa,” demikian petuah guru-guru kita terdahulu. Tidak hanya ditujukan bagi murid, petuah tersebut juga berlaku bagi siapapun termasuk guru maupun dosen.

Kisah di bawah ini salah satunya. Bercerita tentang seorang dosen yang merasa mendapatkan pelajaran dan hikmah dari peristiwa yang dilaluinya.

Kisah ini dibagikan akun Instagram @anakusu, beberapa waktu lalu. Kisah yang diambil dari status Dosen Komunikasi FISIP Universitas Sumatera Utara (USU), Syafruddin Pohan, berjudul “Maafkan Bapak, Nak”.

Bagaimana kisahnya?

“Pak, maaf saya berteduh dulu …”, begitu Nurul mengabarkan via WA. Berteduh? Ya, dia sebenarnya berteduh tidak jauh dari kediaman saya. Padahal sore itu cuaca bagus, tidak sedang turun hujan.

Nurul sedianya mau menyerahkan tugas mata kuliah siang tadi di kampus, Selasa 19/01/21. Sebenarnya saya menunggu dia di kampus. Tunggu punya tunggu dia belum datang juga. Jadi, ya saya putuskan untuk pulang ke rumah.

Syafruddin Pohan dan mahasiswinya, Nurul. (Foto: IG)

Pas sudah di luar kampus USU, dia WA saya, minta maaf, karena katanya di rental pengetikan dan penjilidan mati lampu.

Wah ini modus, pikir saya lamat-lamat. Sering model seperti ini terjadi di kalangan mahasiswa, beraneka macam dalih kepada dosennya. Dia kembali me-WA, katanya dia mau mengantarkan tugasnya ke rumah saya.

Biasanya, orang zaman now minta alamat agak canggihan, mereka minta kirim “serlok” (share location). Tapi Nurul minta alamat saja, bukan “serlok”.

Saya tunggu setengah jam Nurul belum datang juga. Lantas saya masuk kamar, rebahan karena badan letih seharian di kampus. Saya tidur terlelap, sampai akhirnya istri bilang ada mahasiswi datang.

Sungguh mata masih terpejam, tapi sayup terdengar. ” Ayah, bangunlah jumpai sebentar. Ada mahasiswinya nunggu, dia naik sepeda…,” kata istri saya.

Dengan gerakan refleks, saya bangkit dari tempat tidur dan melongok ke luar. Benar ternyata Nurul yang datang dengan menuntun sepedanya. Gerbang saya buka dan memintanya untuk masuk ke rumah.

Nurul tinggal di Tembung, sekitar 1,5 jam baru sampai ke rumah saya. Nurul cerita, sejak kelas empat Sekolah Dasar (SD), dia sudah menjadi anak yatim. Ayahnya meninggal karena penyakit diabetes.

Beberapa tahun berselang ibunya meninggal karena kanker. Jadilah Nurul yatim piatu dan tinggal bersama keluarganya seayah dan seibu.

Keterbatasan finansial keluarganya, dia mencari penghasilan tambahan dengan mengajar mengaji di kampungnya. Kini Nurul tengah menyelesaikan tahap akhir studinya dibayang-bayangi kesulitan dana.

Begitulah yang terjadi dalam kehidupan ini, tidak semua mahasiswa berasal dari keluarga mampu. Semoga nasib baik berpihak kepadamu, Nurul. Maafkan bapak ya, Nurul. Terima kasih Nurul, karena sudah membuka “topeng” betapa kerasnya hidup ini. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here