Bertemu Kolak dan Rawon di Wisma Indonesia (My Trip in Baku – 8)

626

Baku, Muslim Obsession – Lelah memanjat cepat dari ujung kaki hingga kepala. Meninggalkan hotel sejak pukul 07.30 hingga pukul 16.30 membuat tubuh terasa sengsara. Meski, saya masih bersyukur bahwa Allah masih menata hati untuk memantapkan diri tetap berpuasa.

Touring seharian ke Baku Expo Center, Heydar Aliyev Museum, dan Presidential Administration, kami akhiri di kamar hotel. Kami punya waktu sesaat untuk istirahat dan membersihkan diri, sebelum berkumpul kembali pada 18.30 di lobi. Kami akan memenuhi undangan Duta Besar Indonesia di Azerbaijan untuk berbuka puasa.

Di mobil, kami ramai membincang Pak Dubes, Husnan Bey Fannanie. Ada rasa senang membuncah karena kami akan menemui sosok yang humble dan pastinya bisa memberikan ‘oleh-oleh’ informasi. Lebih dari itu, kami berpikir soal melepas rindu pada masakan Indonesia setelah memendamnya selama tiga hari.

Minibus yang biasa mengantar ke manapun kami pergi, meluncur dengan kecepatan sedang. Jalanan lengang.

Wisma Indonesia yang menjadi kediaman Pak Dubes dan keluarga terletak sekira 20 kilometer dari hotel. Sepanjang itu, hanya dibutuhkan waktu 15 menit saja untuk menjangkaunya.

“Selamat datang teman-teman,” sapa Pak Dubes sambil menyalami kami satu persatu.

“Hei, Mam. Sampai juga di sini, ya..” katanya Pak Dubes kepada saya sambil bersalaman lalu cipika-cipiki.

Ini pertemuan pertama saya dengan Pak Dubes setelah hampir satu tahun tak bertemu. Kami lumayan lama saling mengenal. Kira-kira sejak 2001 atau 2002 saat saya membantunya mengelola sebuah media. Bahkan, saya mengenal Pak Dubes cukup baik, pun dengan keluarganya.

Di ruang tengah rumah tingkat tiga itu kami duduk menghadap sajian makanan yang telah tersusun rapi. Di depan kami ada teh manis, bolu talas Bogor, kurma, dan kolak biji salak. Benar dugaan kami, petang ini kami akan berbuka puasa layaknya di rumah sendiri.

*****

Adzan Maghrib berkumandang tepat pukul 20.14 waktu Baku. Artinya, satu hari ini kami telah menaklukkan 17 jam berpuasa. Semoga Allah menerima amal ibadah kami, Aamiin.

Satu persatu makanan kami santap sebagai takjil (bersegera untuk membatalkan puasa). Saya memilih kurma untuk disantap pertama kali. Lalu air putih dan kolak biji salak. Alhamdulillah.

Rasanya? Jangan tanya! Berhari-hari memendam rindu itu menyakitkan. Apalagi rindu pada makanan yang biasa diterima lidah dan usus di dalam perut. Maknyuss rasanya.

Urusan takjil kami tahan sejenak. Kami lalu shalat Maghrib dipimpin pengasuh Pondok Modern Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal. Beliau bersama istri tiba di Baku tiga hari setelah kami. Juga bersama Dr. Bastian Zulyeno yang akan menjadi narasumber sebuah seminar Islam dan Multikultural di Indonesia.

Di barisan makmum juga ada sejumlah pejabat Pertamina yang sengaja datang ke Baku untuk berdialog dengan manajemen perusahaan Sacor. Ada agenda penting soal kerja sama yang akan disepakati. Itu kata mereka.

Setelah itu, tiba waktu bersantap malam. Di barisan sajian di atas meja, saya melihat ada rawon, telur, sate ayam, bakwan jagung, bihun, kerupuk, dan sambal. Saat itu, kami pun sibuk menumpahkan rindu-dendam pada rawon dan teman-temannya.

*****

“Indonesia dan Azerbaijan itu seperti sahabat. Meski sama-sama berpenduduk mayoritas Muslim, tapi sangat berbeda dalam menjalankan keislamannya,” ujar Dubes memulai percakapan dengan kami.

Cucu pendiri Pondok Modern Gontor, almarhum KH. Zainuddin Fannanie, ini menuturkan bahwa masyarakat Azerbaijan beragama dengan sangat sederhana. Masyarakat beragama secara individual, tak mengaitkannya dalam konteks yang lain.

Begitupun dalam konteks bernegara, jelasnya, ada border antara negara dan agama. Seolah-olah, negara membiarkan agama hidup sendiri karena kehidupan negara tak ada hubungannya dengan agama dan sebaliknya.

“Ini berbeda sekali dengan Indonesia,” katanya.

Dahulu saat dikuasai Uni Soviet, agama dilarang. Setelah merdeka, pemerintah Azerbaijan tidak melarang agama tetapi tidak mencampuri urusan agama. Maka tak heran jika generasi di negara ini tidak paham syariat Islam, sehingga mereka tidak shalat atau puasa.

Di luar itu semua, lanjut Husnan, Azerbaijan memiliki sisa-sisa peninggalan peradaban Islam yang sangat kaya. Bahkan jauh dari itu, Tanah Api ini bersanding dengan kemegahan peradaban Bizantium dan Persia.

“Islam datang tak lama setelah era Rasulullah. Dibawa oleh Sa’ad bin Abi Waqash ke tanah ini dan menyebar luas hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakatnya. Sayang, semua itu runtuh saat Tsar Rusia dan Soviet menghancurkan peradaban tinggi yang indah ini,” papar Husnan.

Kini, setelah Heydar Aliyev membangun kembali peradaban yang ‘hilang’ itu setelah kemerdekaan Azerbaijan, Husnan percaya negeri ini akan kembali menapaki keislamannya dengan lebih mantap.

“Dan itu sudah mulai terlihat. Saya percaya, Islam di Azerbaijan akan kembali memiliki peradaban yang luar biasa,” pungkasnya.

Mantap. Kami doakan, semoga!

Baku, 30 Mei 2018

 

Baca Juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here