Seru! Qari Legendaris KH. Muammar ZA Beberkan Rahasianya Memiliki Nafas Panjang

184
KH. Muammar Zainal Asyikin. (Foto: YouTube)

Muslim Obsession – Pada kesempatan memberikan taushiyah di hadapan jamaah di Lombok, Qari Legendaris Tanah Air, KH. Muammar Zainal Asyikin atau Muammar ZA, membeberkan rahasia agar memiliki nafas yang panjang saat melantunkan qira-ah.

Qari internasional yang dikenal luas dengan kemampuan nafas panjangnya ini mengatakan, pertama kali yang harus diperhatikan adalah saat mengaji, fisik harus dalam kondisi yang fit.

“Fisik sehat, (organ) dalamnya sehat, terutama jantung harus sehat. Agar sehat, sering olahraga supaya urat, syaraf-syaraf di perut kuat untuk menahan nafas. Dada, perut, pundak, punggung kuat. Jadi, kondisi harus kuat, harus sehat,” ungkap Muammar dalam sebuah tayangan video yang diunggah Cahaya Nuansa Islami.

Baca juga: Ngaji Sejak Kelas 2 SD, KH. Muammar ZA Sudah 58 Tahun Jalani Profesi Sebagai Qari

Setelah memiliki kondisi fisik yang sehat, lanjutnya, harus latihan agar nafasnya panjang. Caranya, ambil nafas sedalam-dalamnya, lalu tahan. Lakukan secara berjenjang, di awali menahan nafas setengah menit, lalu satu menit, dan seterusnya.

“Setelah itu latihan vokal. Latihan oktaf, tingginya suara. Setelah itu baru latihan (bersuara) panjang,” jelas Muammar seraya mempraktikkan.

Menurut Qari kelahiran Pemalang, 14 Juni 1954 ini, latihan seperti harus terus dilakukan meski sedikit demi sedikit. Setengah bercanda, Muammar sendiri mengaku melakukan latihan seperti itu selama 15 tahun. “Agar stabil bisa berlatih setahun,” ujarnya.

Baca juga: Syamsuri Firdaus, Qari NTB Raih Juara 1 MTQ Internasional di Turki

Lalu, bagaimana dengan makanan? Apakah ada pantangan?

Alumnus Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta ini menjelaskan, para qari biasanya memiliki pantangan terhadap makanan yang digoreng dan beberapa makanan lainnya.

“Biasanya para qari pantang, tidak makan pisang ambon, pisang mentah, salak, dan buah-buahan yang membuat serak. Kemudian gorengan, seperti tempe goreng. Terus makannya apa? Air putih, nasi putih, Waluh direbus, semuanya makanan yang direbus,” kata Muammar.

Menurutnya, jika para qari akan mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), biasanya mereka disiplin melakukan hal tersebut. Alhasil, banyak di antara mereka yang justru kurang tenaga saat tampil.

Baca juga: Inspiratif! Tengku Abdul Rani, Montir Sepeda yang Cetak 5.200 Hafizh Al-Quran

“Tapi saya termasuk qari yang tidak menjalankan itu. Saya sembrono, makan apa saja. Rujak, sambal, jengkol, pete, ikan asin, itu hobi,” jelasnya.

Muammar menjelaskan, kualitas suara banyak juga yang ditentukan oleh kondisi psikis, seperti minder, takut, dan tegang. Jika psikis seseorang terganggu seperti itu, maka suaranya akan kurang bagus saat mengaji.

Ia menekankan, faktor yang perlu diperhatikan adalah menjaga fisik agar tetap sehat. Boleh menghindari makanan yang membuat serak seperti jambu mete, salak, juga gorengan meski boleh dimakan hanya sesekali.

“Dan yang penting adalah latihan yang kontinyu, ibadah yang kontinyu. Ngaji kan ibadah, setiap pagi dan sore. Latihan dengan ikhlas lillahi ta’ala, insya Allah meningkat sedikit demi sedikit. Saya juga latihan terus setiap hari sampai sekarang. Bahkan kalau tidak ada acara, saya latihan tiga jam saat pagi. Kalau tidak, nanti kondisinya menurun, dzuq-nya (rasa) tidak ada. Banyak yang dilatih, vokalnya, suaranya, lagunya, terus dzuq-nya dan ini yang paling berat,” pungkasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here