Kopi Sehat UBM: Umat Terbaik

79

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam (LKPI) PP PARMUSI, Direktur An-Nahl Institute Jakarta, Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai UMMAT)

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alláh. Sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik,” (QS. Ali Imran: 110).

KENAPA kita menjadi umat terbaik? Karena Alláh ﷻ telah mengangkat derajat kita melalui Al-Quran dengan tugas dan fungsi istimewa. Tugas kita adalah sebagai Abdullàh (hamba Alláh) dan fungsi kita adalah sebagai Khalífah atau ‘wakil’ Alláh di muka bumi ini.

Sebagai hamba Alláh ﷻ, kita mengabdi dan berbakti untuk menjadi hamba yang shalih sekaligus mushlih. Hamba yang terus melakukakan dan terus mengkampanyekan kebaikan dan perbaikan sekaligus.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Pikiran Manusia

Di sisi lain, melalui fungsi sebagai khalífah-Nya kita mengokohkan posisi kita dengan mengaktifkan keshalehan sosial kita. Di mana, shalih, mushlih dan keshalihan sosial kita ini adalah satu kesatuan yang tak boleh dipisah dan terpisahkan.

Dari ayat di atas kita menangkap pesan akan penegasan bahwa kita umat Islám sudah ditunjuk dan ditentukan oleh Alláh ﷻ sebagai “umat yang terbaik”. Maka seharusnya dari segi, dimensi serta peran kita adalah peran terbaik dalam semua hal dan keadaan. Baik sebagai pribadi, rumah tangga juga dalam dimensi sosial yang lebih luas.

Penegasan lainnya dalam lanjutan ayat tersebut adalah “أخرجت للناس – yang dilahirkan untuk manusia”. Artinya seiring dengan kita ditunjuk sebagai umat terbaik maka ada tugas khusus untuk sesama manusia, bukan hanya umat Islam, yakni melakukan Amar Ma’ruf, Nahi Munkar (الامر بالمعروف والنهى عن المنكر).

Yaitu bagaimana umat terbaik tersebut bisa mengajak, mengarahkan, menyeru dan memotivasi pada kegiatan, aktifitas dan tingkah laku yang ma’ruf atau baik, yang hanya diperintahkan dan diatur oleh Alláh ﷻ dalam Al-Quran dan Rasúlulláh ﷺ dalam As-Sunnah.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Kekuatan Silaturrahim  

Di sisi lain, setelah kita mengajak kepada yang ma’ruf maka kalimat selanjutnya adalah mencegah dari yang mungkar (وتنهون عن المنكر). Karena tidak dapat dipungkiri maupun tanpa kita menutup mata, kita sering mengetahui atau merasakan kegiatan yang mungkar, kegiatan yang tidak sesuai dengan perintah dan ajaran agama Islam.

Kegiatan yang menjurus pada kemaksiatan serta banyak mudlaratnya. Itu ada di depan mata kita, di sekeliling kita, tetapi apa yang bisa kita lakukan?

Maka tugas kita sebagai insan terbaik konsekuensinya adalah harus siap mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan. Apapun posisi kita, apapun kondisi kita dan apapun status kita memiliki tugas yang sama, yaitu tugas yang digariskan dalam Ali Imran Ayat 110.

Tingkatan berikutnya adalah menegakkan keadilan serta melawan kezhaliman (الأمر بالعدل والنهى عن الظلم). Bahkan Alláh ﷻ menyebutkan dalam ayat-Nya yang lain, bahwasanya menegakkan keadilan juga pada saat yang sama yakni melawan kezhalima itu adalah indikator ketaqwaan.

Serta yang terakhir dijelaskan dalam ayat tersebut adalah beriman kepada Alláh (وتؤمنون بالله). Beriman kepada Alláh ﷻ adalah pilihan baik bagi orang-orang yang terbaik yang senantiasa hidup di jalan yang baik juga, jangan sampai menjadi kebanyakan orang yaitu orang-orang yang fasiq. Wal’iyádzubilláh.

والله أعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here