Kisah Urip, Kades Berprestasi yang Beralih Profesi Jadi Guru Honorer

162
Urip Nugroho (kedua dari kanan depan) saat menerima kunjungan Kakanwil Bengkulu Bustasar (paling kiri) di MTs 3 Manna (foto: Inmas Bengkulu/kemenag).

Bengkulu Selatan, Muslim Obsession – ‘Ikhlas Beramal’ bukanlah semboyan tanpa makna. Karena jika benar-benar dijiwai, ‘Ikhlas Beramal’ akan menjadi motivasi untuk bekerja sepenuh hati dengan ikhlas hanya berharap ridha Allah Ta’ala.

Tampaknya ini yang dirasakan Urip Nugroho. Sosok guru honorer ini memaknai ‘Ikhlas Beramal’ dengan pengabdian yang total.

”Dengan ikhlas beramal, yakinlah Allah SWT akan membalas semua kebaikan dan kinerja kita selama ini,” ujar Urip, seperti dilansir Kemenag, Selasa (16/6/2020).

Urip Nugroho bukanlah nama sembarangan. Ia tak sekadar guru honorer biasa. Urip merupakan mantan kepala desa (Kades) dengan prestasi mentereng.

Baca juga:

Kreatif! Dai Parmusi Sulap Pos Ronda Jadi Tempat Dakwah

Kreatif! Dai Parmusi Sulap Pos Ronda Jadi Tempat Dakwah

Kisah Haru, Ibu Tua dan Tiga Anak Lelakinya

Pada Agustus 2015, Presiden Joko Widodo pernah memanggil Urip ke Istana Negara atas prestasinya mengembangkan mungkus dan beras Kedurang. Saat itu Urip merupakan Kades Kali Agung, Kecamatan Kedurang, Bengkulu Selatan yang berhasil menyandang sebagai Kades Teladan dan memiliki kesempatan berharga bertemu orang nomor satu di Republik ini.

Keberhasilan Urip memimpin desa Kali Agung sebagai salah satu desa terbaik selama periode 2014-2020, membuat warga memintanya untuk mencalonkan diri kembali dalam pemilihan Kades di tahun ini.

Namun siapa sangka, alih-alih melanjutkan jabatannya sebagai Kades, Urip malah memilih kembali menjadi guru honorer pada Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Manna, Bengkulu Selatan.

Profesi sebagai guru madrasah honorer memang telah ditekuni Urip sejak lama sebelum dirinya terpilih menjadi Kades.

“Bukan gaji yang saya cari. Tetapi saya lebih menjiwai menjadi guru ketimbang menjadi Kades. Tetapi saya menghargai keputusan masyarakat yang sudah mempercayakan saya memimpin desa ini,” tutur sarjana pendidikan ini.

Hal itu diutarakan Urip saat bertemu dengan Kakanwil Kemenag Bengkulu Bustasar yang tengah mengadakan Kunjungan Kerja ke daerah Bengkulu Selatan.

Mendengar penuturan Urip, Kakanwil mengaku kagum dengan pilihan alumni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Manna ini. Padahal, menurut Bustasar, bila melihat dari sisi penghasilan, jabatan Kades tentu lebih menjanjikan dibandingkan guru honorer yang hanya memperoleh gaji 500 hingga 600 ribu rupiah per bulan.

“Ini bagian dari pengabdian, artinya komitmen Bapak Urip patut kita hargai. Sehingga memberikan semangat baru bagi guru-guru lain,” tukas Kakanwil yang didampingi Kepala MTs N 3 Manna Buyung Kalil.

Senada dengan Bustasar, Urip pun berharap pengalaman hidupnya dapat memotivasi rekan-rekan sesama pendidik untuk terus mengabdi kepada dunia pendidikan. Ia mengisahkan, saat dirinya menjabat sebagai Kades, dirinya pun tak bisa lepas dari dunia pendidikan.

‘’Meskipun sudah menjadi kades, saya juga masih aktif mengajar disini. Tetapi hanya tiga hari dalam seminggu,’’ ujar Urip yang mengampu bidang studi Agama sejak tahun 2012.

Kerja sama dengan madrasah pun kerap ia lakukan untuk mensukseskan program bagi masyarakat. Mulai dari program kesehatan, pendidikan, bimas, program siskamling, program penyuluhan hukum seperti penyuluhan bahaya narkoba, hingga pelayanan kesehatan gratis.

Kepada Kakanwil Bengkulu, sebagai guru, Urip pun mengungkapkan harapannya bagi madrasah. “Kami berharap Kemenag Provinsi Bengkulu untuk dapat meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana di madrasah, khususnya MTs N 3 Manna. Seperti sarana jaringan internet, fasilitas perpustakaan serta sarana penunjang lainnya,” ujar Urip.

‘’Ini semua untuk kepentingan kita bersama, kepentingan masyarakat serta kepentingan generasi penerus kita,’’ imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Bustasar pun menyampaikan bahwa Kemenag berkomitmen untuk terus memperbaiki kualitas madrasah. Kakanwil pun berpesan agar seluruh pendidik di madrasah dapat melakukan peran terbaiknya dalam melayani masyarakat.

“Terpenting layani masyarakat dengan 5S senyum, salam, sapa, sopan dan santun. Karena 5 S adalah budaya yang harus kita kembangkan,” pesan Kakanwil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here