Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 4)

98
Ilustrasi: Edwin B/OMG

Muslim Obsession – Hari ini adalah yang kesebelas atau keempat puluh satu sejak Jantuk pergi dari rumahnya untuk mencari Tuhan. Sudah beribu kali Jantuk jatuh bangun memanjat dheling. Beberapa bagian badannya terdapat luka-luka, sebagian kering dan sebagian lainnya masih basah.

Jantuk adalah petarung sejati yang tak kenal lelah dan tak pernah mengeluh meski beribu kali usahanya gagal. Jantuk sangat yakin jika Tuhan benar-benar dapat ditemuinya.

Dan, benar saja. Usaha Jantuk tidak sia-sia. Di tengah malam saat wulan kamuryan menerangi kegelapan, Jantuk telah mencapai ruas dheling paling tinggi. Jantuk benar-benar berada di pucuk dheling yang menjulang. Di situlah Jantuk, untuk pertama kali, melihat Tuhan. Segala keletihan raga, kepenatan jiwa, luka-luka yang berserakan, seolah sirna seketika. Jantuk benar-benar bersuka ria.

Lalu, berlangsunglah dialog imaji berikut ini:

Baca juga:

Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 1)

Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 2)

Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 3)

“Benarkan Engkau Tuhan pencipta langit, bumi, dan segala isinya?” Jantuk langsung ‘nyerocos’ mengajukan pertanyaan pertamanya. Ia tidak ingin setiap waktu yang dilaluinya bersama Tuhan hilang tanpa makna.

“Benar,” Tuhan menjawab.

“Oh, sungguh senangnya hati saya. Tuhan, langsung to the point aja, ya..”

“Silakan.”

“Kenapa Engkau ciptakan saya dengan keadaan seperti ini? Tubuh pendek, kulit legam, dan wajah yang menyeramkan. Berbeda sekali dengan teman-teman saya Aliando, Ariel Noah, Roger Danuarta, atau Raden Tukul Arwana. Engkau juga menciptakan saya sangat berbeda dengan teman-teman dari kampung sebelah, seperti Van Damme, Nicolas Cage, Cristiano Ronaldo, David Beckham, Mohammed Salah, atau Leonardo DiCaprio. Mereka orang-orang yang sangat ‘enak’ dipandang dan digilai banyak wanita. Engkau juga tidak membekali saya dengan otak encer sehingga hidupnya sukses, semacam Sandiaga Uno, Joko Widodo, Anies Baswedan, Thomas Alfa Edison, James Watt, atau B.J. Habibie. Kenapa? Bahkan untuk mencintai Ndoro Larasati saja saya tidak berhak. Mengapa Engkau tidak fair play, Tuhan?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here