Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 1)

146

Muslim Obsession – Perempuan tua itu meringis kesakitan ketika seorang anak tanggung sekonyong-konyong menerobos barisan para penumpang yang keletihan. Bahkan perempuan tua itu hampir terjatuh kalau saja bahunya yang doyong tidak tertopang badan gemuk lelaki berkumis tebal yang berdiri bak patung Pancoran.

Uups.., hampir saja,” gumam si nenek bersyukur meski sejurus kemudian hatinya mengumpat karena jantungnya yang karatan harus empot-empotan menahan himpitan para penumpang.

Si anak tanggung yang menjadi pelaku insiden itu hanya cengar-cengir, dingin. Tidak ada kata maaf yang terucap. Begitu juga ketika laki-laki berjaket kulit lusuh mengumpatnya karena sepatu hitam yang dibelinya di emperan Pasar Senen dua hari lalu terinjak. Kali ini si anak tanggung diam, bahkan tak ada cengar-cengir. Lebih dingin, anarkis!

Mang Endut yang duduk ngedeprok tak jauh dari insiden itu ikut mengumpat dalam hati. “Ooh, siakul (sialan, pen) benar si anak songong itu. Tak tahu rasa hormat!”. Mang Endut yakin benar si anak tanggung tak belajar banyak tentang tatakrama, unggah-ungguh, atau sopan santun. Diajari apa saja oleh orangtuanya?

Episode umpat-umpatan di benak Mang Endut tak berlangsung lama. Karena matanya yang sejak tadi mengikuti arah punggung si anak tanggung terbentur badan seorang perempuan nan aduhai. Ah, dasar mata lelaki. Mang Endut yang sudah terlatih dalam perihal ini langsung mengambil sikap ‘waspada’. Matanya yang sebenarnya sudah kriyep-kriyep dicobanya untuk kembali terjaga.

“Ah, Tuhan memang Maha Adil. Di antara sekian banyak manusia kucel, ada saja bidadari yang dikirim untukku,” gumamnya sok tahu.

Bagi Mang Endut sosok perempuan itu, boleh jadi, adalah anugerah. Kepenatannya yang telah berlangsung sejak dari Stasiun Senen sedikit pudar. Untuk kali ini, bahkan Mang Endut merasa kecolongan. Dia tidak habis pikir, kenapa baru sekarang matanya melihat perempuan itu. Kenapa setelah melewati Stasiun Universitas Indonesia bidadari itu menampar mukanya yang kusut? Mang Endut menjerit dalam hati. Mang Endut mendesis geram.

Oh, malangnya Mang Endut.

Kemalangan Mang Endut masih berlangsung. Perempuan nan aduhai itu ikut turun bersama penumpang lainnya ketika kereta berhenti di Stasiun Depok. Dengan sedikit berdesakkan, perempuan itu turun sambil menenteng tas biru berornamen bunga matahari.

Oh, malangnya Mang Endut.

Bayangan perempuan nan aduhai dengan kaus ketat warna putih, celana jeans biru, membuainya ke dimensi khayal.

Oh, andai saja dia mau diajak keliling ITC Depok sebentar saja. Oh, andai saja dia mau diajak menikmati es krim di ujung mal. Oh, andai saja dia mau diajak mampir ke warung tenda di seberang stasiun. Oh, andai saja dia mau diajak sharing tentang cinta. Oh, andai saja dia mau… Nyi Larung, good bye.

Mang Endut terlelap membawa khayalan itu ke dimensi mimpi.

*****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here