Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 2)

118

Muslim Obsession – Hari masih siang saat pelepah kelapa kering jatuh menimpa pohon ketela yang ditanam sembarang di tepi jalan setapak. Jatuh pelepah kering itu berdebam seolah-olah pohon kelapa melampiaskan emosinya karena jatah air yang diterimanya diserobot pohon ketela. Lagi pula, bukankah pohon ketela seharunya ditanam di ladang bersama pohon ketela-pohon ketela lainnya?

Tanah di jalan setapak melepuh, mengeluarkan asap tipis yang hampir tidak terlihat. Hanya uapnya saja yang sangat terasa mengeringkan kulit siapapun yang melintasi jalan setapak itu. Dan daun-daun lamtorogung turut merasakan panasnya hari dipanggang matahari. Dalam waktu yang tak lama, daun-daun hijau lamtorogung berubah menguning. Sementara yang berwarna kuning secepatnya mengering untuk kemudian jatuh perlahan, terjerembab berserakan menjadi ornamen tanah kecoklatan.

Assalamu’alaikum, Kyai,” Jantuk menyapa sosok lelaki yang tidak begitu renta di ujung sebelah kanan jalan setapak.

Baca tulisan sebelumnya:

Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 1)

Wa’alaikumussalam.”

Lelaki setengah tua yang dipanggil kyai itu menjawab penuh kesopanan. Siapapun, hampir dipastikan akan memanggilnya ‘kyai’ meski sebelumnya tak pernah bersua. Dengan tasbih yang terus diputar di antara jemari dan gamis putih panjang yang dikenakannya, orang-orang akan menyapanya dengan sebutan tersebut.

Terlebih lagi sosok kyai ini juga berpakaian lengkap dengan udeng-udeng yang menghiasi kepalanya dan sorban hijau yang menjuntai hampir menyentuh tanah. Penampilannya persis wali songo atau habib-habib yang ramai menyesaki media-media sosial.

“Kyai, saya ada keperluan mendesak dengan Tuhan. Apakah Kyai mengenal-Nya?”

“Insya Allah saya mengenal-Nya. Allah adalah pencipta semesta alam ini. Dialah yang Maha Kuasa, Maha Rahman, dan Maha Rahim.”

“Kalau itu saya tahu, Kyai. Tapi, apakah Kyai dapat menunjukkan di mana alamat Tuhan? Saya benar-benar memiliki keperluan mendesak yang harus saya sampaikan sendiri kepada-Nya!”

Kyai bersorban hijau itu terdiam. Yang ia tahu Tuhan itu bersemayam di Arsy. Tapi apakah ia musti memberikan alamat Arsy itu kepada anak muda jelek ini? Sementara ia sendiri pun tidak pernah berkunjung ke Arsy.

Ahk, untuk sejenak, hati kyai itu menjadi ragu. Ia tidak ingin memberikan alamat yang ia sendiri pun tidak pernah mengetahuinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here