Hati-Hati! Ini Ciri Penyakit Kronis Bernama Hubbud-Dunya

97
Ilustrasi: Uang. (Foto: local magazine)

Muslim Obsession – Salah satu penyakit hati yang cukup kronis adalah Hubbud-Dunya yang bermakna cinta berlebihan pada hal keduniawian atau gila dunia. Inilah penyakit hati yang dirisaukan Rasulullah ﷺ akan menjangkiti umatnya.

Hubbud-Dunya disebut sebagai sumber kehancuran umat, karena penyakit ini sangat berbahaya. Orang yang terjangkit Hubbud-Dunya akan tergerus keimanannya, sehingga merugikan dirinya dan orang lain, juga agamanya.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur,” (HR Bukhari-Muslim).

BACA JUGA: Pecinta Dunia Tidak Terlepas dari Tiga Perkara Ini

Jika seorang Muslim sudah menjadikan dunia ini sebagai tujuannya, sesungguhnya dia telah terjebak dalam Hubbud-Dunya. Padahal, dalam prinsip akidah Mukmin, dunia ini bukanlah tujuan. Melainkan hanya alat untuk mencapai kebahagiaan di akhirat kelak.

Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al A’laa: 16-17:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”.

Lalu, apa tanda orang telah terjangkit Hubbud-Dunya? Menukil Rumaysho, ada beberapa ciri atau tandanya, yaitu:

BACA JUGA: Mudah Dihafal, Doa Penting ini Berisi 4 Permintaan Termasuk Hidup Berkecukupan

Pertama, orang tersebut rela mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia,” (HR. Muslim no. 118).

Kedua, hati menjadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal shalih. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى

“Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.)

BACA JUGA: Celaka Orang yang Menyembah Harta

Dalam surat Adz-Dzariyat ayat 10 dan 11 juga disebutkan,

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11)

“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai”.

Maksud dari “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi.

Ketiga, kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir. Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.”

Selain itu terdapat tanda cinta dunia lainnya. Di antaranya adalah gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran, hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman, waktunya sibuk mengejar dunia, dan ia mengejar dunia lewat amalan akhirat.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here