Benarkah Hewan Qurban Jadi Tunggangan di Shiratal Mustaqim?

196
Hewan kurban
Ilustrasi Hewan Kurban (Foto: Edwin/OMG)

Oleh: Drs H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Di sebagian kalangan masyarakat sering terdengar ungkapan bahwa hewan qurban akan menjadi kendaraan atau tunggangan shahibul qurban saat melewati shiratal mustaqim. Hal ini juga banyak ditanyakan jamaah, dari manakah asal ungkapan tersebut?

Berikut ini penjelasannya. Saya mencatat, ungkapan itu dikeluarkan Abdul Karim Ar Rafi’i Asy-Syafi’i dalam kitab At-Tadwin fii Akhbari Qazwiin (1134). Beliau menulis:

حد ثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ الْمَرْزُبَانُ بِقَزْوِينَ، حد ثَنَا أَحْمَد بْنُ الْخَضِرِ الْمَرْزِيُّ حدثنا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ إبراهيم الْبُوشَنْجِيُّ، حد ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ، حد ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، حد ثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْيدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اسْتَفْرِهُوا ضَحَايَاكُمْ، فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلَى الصِّرَاطِ

“Abu Muhammad Abdullah Al-Marzuban di Qazwin menuturkan kepadaku, Ahmad bin Al-Hadr Al-Marziy menuturkan kepadaku, Abdul Hamid bin Ibrahim Al-Busyanji menuturkan kepadaku, Muhammad bin Bakr menuturkan kepadaku, Abdullah bin Al-Mubarak menuturkan kepadaku, Yahya bin ‘Ubaidillah menuturkan kepadaku, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Perbaguslah hewan qurban kalian, karena dia akan menjadi tunggangan kalian melewati shirath”.” (Juga dikeluarkan oleh Al-Dailami dalam Musnad Al Firdaus (268)).

BACA JUGA: Bagaimana Hukum Daging Qurban yang Dibagikan Matang?

Derajat hadits:

Riwayat ini sangat lemah, karena adanya beberapa perawi yang lemah:

Abdul Hamid bin Ibrahim Al Busyanji, dikatakan oleh Abu Zur’ah dan Abu Hatim: “Ia tidak kuat hafalannya dan tidak memiliki kitab”. An Nasa’i mengatakan: “Ia tidak tsiqah”. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan: “Ia shaduq, namun kitab-kitabnya hilang sehingga hafalannya menjadi buruk”. Maka Abdul Hamid bin Ibrahim bisa diambil periwayatannya jika ada mutaba’ah.

Yahya bin ‘Ubaidillah Al-Qurasyi, dikatakan oleh Imam Ahmad: “Munkarul hadits, ia tidak tsiqah”. An-Nasa’i berkata: “Matrukul hadits”. Ibnu Abi Hatim mengatakan: “Dha’iful hadits, munkarul hadits, jangan menyibukkan diri dengannya”. Ibnu Hajar mengatakan: “Yahya sangat lemah”. Adz Dzahabi berkata: “Para ulama menganggapnya lemah”. Sehingga Yahya bin ‘Ubaidillah ini sangat lemah atau bahkan matruk.

BACA JUGA: Hukum Menambahkan Lafazh “Sayyidina” dalam Shalat

‘Ubaidillah bin Abdillah At-Taimi, Abu Hatim berkata: “Ia shalih”. Al-Hakim mengatakan: “Shaduq”. Imam Ahmad mengatakan: “Ia tidak dikenal, dan memiliki banyak hadits munkar”. Asy Syafi’i berkata: “Kami tidak mengenalnya”. Ibnu ‘Adi berkata: “Hasanul hadits, haditsnya ditulis”. Ibnu Hajar berkata: “Maqbul“, dan ini yang tepat insya Allah. Maka ‘Ubaidillah ini hasan hadist-nya jika ada mutaba’ah.

Dengan demikian jelaslah bahwa hadits ini sangat lemah. Sebagaimana dikatakan oleh para ulama seperti Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Talkhis Al-Habir (2364), As-Sakhawi dalam ‎Maqasidul Hasanah (114), Al-Munawi dalam Faidhul Qadir (1/496), As-Suyuthi dalam Jami’ Ash-Shaghir (992), Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashidil Hasanah (96), Al-Ajluni dalam ‎Kasyful Khafa (1/133), ‎serta para ulama yang lain.

Memang terdapat lafazh lain,

عظِّموا ضحاياكم ، فإنها على الصراطِ مطاياكم

“Perbesarlah hewan qurban kalian, karena dia akan menjadi tunggangan kalian melewati shirath”.

Namun Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani setelah membawakan hadits ini beliau berkata,

لَمْ أَرَهُ، وَسَبَقَهُ إلَيْهِ فِي الْوَسِيطِ، وَسَبَقَهُمَا فِي النِّهَايَةِ، وَقَالَ مَعْنَاهُ: إنَّهَا تَكُونُ مَرَاكِبَ الْمُضَحِّينَ، وَقِيلَ: إنَّهَا تُسَهِّلُ الْجَوَازَ عَلَى الصِّرَاطِ، قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: هَذَا الْحَدِيثُ غَيْرُ مَعْرُوفٍ وَلَا ثَابِتٌ فِيمَا عَلِمْنَاهُ

“Aku tidak pernah melihat (sanad) nya. Hadits ini ada di Al-Wasith (karya Al-Ghazali) dan kedua hadits tersebut ada di An-Nihayah (karya Al-Juwaini). Mereka mengatakan tentang maknanya: ‘bahwa hewan kurban akan menjadi tunggangan bagi orang yang berkurban‘. Juga ada yang mengatakan maknanya, ia akan memudahkan orang yang berkurban untuk melewati shirath. Ibnu Shalah berkata: ‘hadits ini tidak dikenal, dan sepengetahuan saya tidaklah shahih’,” (Talkhis Al-Habir, 2364).

BACA JUGA: Penjelasan Ulama tentang Hadits Terputusnya Amal Orang yang Meninggal

Ibnu Mulaqqin berkata,

لا يحضرني من خرجه بعد البحث الشديد عنه

“Tidak aku dapatkan siapa yang mengeluarkan hadits ini walaupun sudah aku cari dengan sangat gigih,” (Badrul Munir, 9/273).

Kemudian Ibn ‘Arabi mengatakan;‎

لَيْسَ فِي فَضْلِ الْأُضْحِيَّةِ حَدِيثٌ صَحِيحٌ، ومنها قوله: “إنها مطايكم إلَى الْجَنَّةِ”

“Dalam keutamaan udhiyyah, tidak ada padanya hadits yang sahih, dan di antaranya adalah: ia itu tunggangan kalian menuju surga”.

Adapun riwayat dalam Musnad al-Firdaus dari Abu Hurairah:‎

إسْتَفْرِهُوا ضَحَايَاكُمْ؛ فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلَى الصِّرَاطِ‎

“Perbaguslah hewan qurban kalian, karena dia adalah tunggangan kalian di atas shirath”,

a) Dalam sanadnya ada Yahya, ia itu sangat lemah.

b) Apa yang dikatakan dan dikutip oleh Ibn Hajar juga dikutip oleh Al-Sakhawi ‎

c) Begitu juga dalam Kasyf Al-Khufa

d) Ibn al-Mulqin tentang hadits:

عَن رَسُول الله – صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسلم – أَنه قَالَ: «عظموا أضحياكم فَإِنَّهَا عَلَى الصِّرَاط مَطَايَاكُمْ‎

Dia mengatakan:‎‎

هَذَا الحَدِيث لَا يحضرني من خرَّجه بعد الْبَحْث الشَّديد عَنه‎

“Hadits ini setelah aku menelitinya dengan penelitian yang sangat serius, orang yang mengeluarkan haditsnya tidak dapat menghadirkan padaku siapa yang meriwayatkannya”.

BACA JUGA: Istri Membentak Suami, Bagaimana Hukumnya?

Kemudian setelah itu ia mengutip pendapat Ibn As-Shalah dan Ibn Al-‘Arabi.

e) Al-Suyuti tentang hadits:‎

إسْتَفْرِهُوا ضَحَايَاكُمْ؛ فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلَى الصِّرَاطِ

‎Ia mengatakan: Al-‘Azluni mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh Al-Dailami dari Abu Hurairah dengan sanad lemah sekali. Hadits ini adalah hadits palsu sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafidz Ahmad al-Ghamari dalam Al-Mughir.

Hadits yang menyatakan bahwa hewan qurban akan menjadi tunggangan melewati shirath tidak shahih, bahkan sangat lemah. Ibnul ‘Arabi dalam Syarah Sunan At Tirmidzi mengatakan:

ليس في الأضحية حديث صحيح

“Tidak ada hadits yang shahih mengenai keutamaan hewan qurban,” (dinukil dari Kasyful Khafa, 1/133).

BACA JUGA: Kisah Inspiratif! Seorang Suami Taklukkan Singa karena Perangai Buruk Istrinya

Maka keyakinan tersebut tidaklah didasari landasan yang shahih sehingga tidaklah dibenarkan.

Maka kesimpulan secara global yang disampaikan oleh salah satu ulama pakar hadits, Ibnul ‘Arabiy Al-Māliki rahimahullāh Ta’āla, setelah beliau mendata, mengkaji dan meneliti hadits-hadits tentang keutamaan berqurban, maka beliau membuat kesimpulan:

“Bahwasanya tidak dijumpai hadits yang sahih tentang keutamaan hewan qurban, baik hadits yang menyatakan bahwa hewan qurban akan jadi tunggangan atau hewan qurban itu setiap bulunya adalah satu hasanah (satu ganjaran) ataupun hadits-hadits yang lainnya.”

Kata beliau, seluruhnya adalah hadits-hadits tersebut bermasalah, tidak valid, dan tidak benar (jika dikatakan) berasal dari Nabi ﷺ. Dengan demikian hadits tersebut dinilai oleh jumhur ulama hadits adalah lemah atau dhaif.

Wallahu a’lamu bish shawab.

 

Referensi

Kitab Faidhul Qadir, Syarah Al-Jamius Shaghir Karya Muhammad Abdurrauf Al-Munawi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here