Apa Perbedaan Shalih dan Mushlih?

100

Oleh: Abdan Syakura (Aktivis Dakwah Al-Mahsyar)

Ada dua kata yang memiliki akar yang sama, Shalih dan Mushlih. Dua kata ini, meski memiliki akar yang sama, namun nyatanya memiliki konsekuensi yang jauh berbeda.

Kita pasti sering mendengar istilah shalih atau shalihah. Istilah tersebut biasanya beriringan dalam kalimat anak shalih atau anak shalihah, suami shalih atau istri shalihah.

Shalih digunakan untuk seseorang berjenis kelamin laki-laki, sementara shalihah disematkan untuk seseorang yang berjenis kelamin perempuan.

Secara etimologi, kata Shalih berasal dari shaluha-yashluhu–shalahan yang artinya ‘baik’, ‘tidak rusak’, dan ‘patut’.

BACA JUGA: Mengerikan, Pagi Beriman Sorenya Kafir

Shalih merupakan isim fa’il dari kata tersebut di atas yang berarti ‘orang yang baik’, ‘orang yang tidak rusak’, dan ‘orang yang patut’.

Kata shalih, di antaranya dapat kita temukan dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله تعالى عنه: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

”Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang berdoa kepadanya,” (HR Muslim).

BACA JUGA: 7 Orang yang Selalu Dikejar-kejar Rezeki

Lalu, bagaimana degan Mushlih?

Memiliki akar kata yang sama dengan Shalih, Mushlih menurut Al-Ma’any bermakna ‘orang yang memperbaiki atau membuat perbaikan’, ‘pendamai atau juru damai’, ‘pembaharu’, ‘reformis’.

Kata Mushlih, di antaranya dapat ditemukan dalam QS. Hud ayat 117:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan (mushlih)”.

BACA JUGA: 4 Hal Penyebab Orang Jadi Sombong

Lantas, di mana perbedaan yang paling mecolok?

Dari paparan di atas, kita dapat memberikan pandangan bahwa terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara kata Shalih dan Mushlih. Lebih jelasnya, mari kita perhatikan ungkapan bijaksana berikut ini.

الصالح خيره لنفسه والمصلح خيره لنفسه ولغيره. الصالح  تحبُه الناس والمصلح تعاديه الناس. الحبيب المصطفى (صلى الله عليه وسلم) قبل البعثة أحبه قومه لأنه صالح. ولكن لما بعثه الله تعالى صار مصلحًا فعادوه وقالوا ساحر كذاب مجنون. ما السبب؟ لأن المصلح يصطدم بصخرة أهواء من يريد أن يصلح من فسادهم. ولذا أوصى لقمان ابنه بالصبر حين حثه على الإصلاح لأنه سيقابل بالعداوة (يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانهَ عن المنكر واصبر على ما أصابك).

“Orang Shalih melakukan kebaikan untuk dirinya, sedangkan Penyeru Kebaikan (Mushlih) mengerjakan kebaikan untuk dirinya dan untuk orang lain. Orang Baik itu dicintai manusia, sementara Penyeru Kebaikan dimusuhi manusia.

Nabi Muhammad ﷺ sebelum diutus sebagai Rasul, beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah orang baik. Namun ketika Allah Ta’ala mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya sebagai tukang sihir, pendusta, dan gila.

BACA JUGA: 8 Pintu Keberkahan di Dalam Rumah

Apa sebabnya? Karena Penyeru Kebaikan ‘menyikat’ batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan. Itulah sebabnya kenapa Luqman Al-Hakim menasihati anaknya agar bersabar ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan. Disebutkan dalam Al-Quran, ‘(Lukman berkata) Hai anakku tegakkan shalat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabar lah atas apa yang menimpamu’.”

قال أهل الفضل والعلم: مصلحٌ واحدٌ أحب إلى الله من آلاف الصالحين. لأن المصلح يحمي الله به أمة، والصالح يكتفي بحماية نفسه.

“Berkata ahli ilmu: Satu penyeru kebaikan (Mushlih) lebih dicintai Allah daripada ribuan orang Shalih (yang tidak menyerukan kebaikkan). Sesungguhnya melalui penyeru kebaikan itulah, Allah menjaga umat ini, sedangkan orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri”.

Demikianlah perbedaan Shalih dan Mushlih. Setelah mengetahuinya, maka marilah kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi pribadi yang baik secara individu (shalih) sekaligus menjadi pribadi yang menyerukan kebaikan (mushlih).

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here