Negara Milik Semua

219

Oleh: Wildan Hasan

SESAMPAI buku Utang Republik pada Islam ini, sembarang saya buka saja buku tersebut. Ternyata buku terbuka pada halaman 79. Di atasnya tertulis judul kecil, “Negara Bukan Milik Masyumi Saja”. Tetiba pikiran saya langsung melayang kepada kasus pernyataan kontroversial Menteri agama soal Kemenag hadiah negara untuk NU. Teringat pula tulisan Pak Haidar Nashir menyikapi pernyataan Menag –tentang ‘akil baligh’ dalam bernegara.

Bukan terkait itu yang ingin saya tulis dalam resensi ini sekalipun dari buku ini sudah tersiar luas sejarah terbentuknya Kementerian Agama yang ternyata andil tokoh-tokoh Muhammadiyah besar. Terlepas siapa paling berjasa, hendaklah NU dan Muhammadiyah ‘berdamai’ karena negara bukan hanya milik NU dan Muhammadiyah

Di halaman 79 Lukman Hakiem mengisahkan tentang bagaimana sikap kenegarawan Mohammad Natsir pemimpin Masyumi. Sikap kenegarawan ini yang pada tokoh bangsa dan pejabat negara saat ini memudar bahkan punah. Ya seperti kasus “Kemenag milik NU” itulah. Natsir menolak tiap-tiap cara yang tidak demokratis.

BACA JUGA: Kelas Khusus Mapel Menulis Biografi

Katanya, “Negara bukanlah untuk Masyumi saja”. Menurut Natsir, untuk menghadapi komunis tidak perlu melarangnya dengan cara hukum, umpamanya mengeluarkannya dari hukum, tetapi cukup dengan perjuangan perlombaan dengan fair secara demokratis parlementer.

Tua-Tua Keladi

KALAU boleh menggunakan istilah tua-tua keladi, Lukman makin sepuh makinlah menjadi-jadi. Ibarat mengejar pelari profesional, tersaruk-saruk saya mengikutinya. Setiap satu bukunya selesai saya baca, setiap itu pula buku barunya lahir. Sangat produktif. Seyogianya begitulah yang memang harus Lukman lakukan.

Di usianya saat ini, semua ilmunya kudu diketrukkeun. Jangan disisakan. Sehingga menjadi bekal yang cukup bagi generasi berikutnya untuk melakukan kajian lebih dalam dari Maktabah sejarah yang dimilikinya.

Kelemahan yang lazim dari kompilasi adalah kurangnya kedalaman materi. Tetapi kelemahan ini adalah kekuatan di buku Lukman karena serba sedikit yang memiliki data-data sejarah seperti yang diguar nya. Nantilah anak cucu peminat sejarahnya diharapkan memperluas resonansi sejarah sesuai permintaan zamannya masing-masing.

Bagi sejarawan dan pembaca sejarah yang jujur, buku dengan judul ini ‘tidak perlu’. Tidak perlu karena amat gamblang Islam dan umatnya berkontribusi besar sekali terhadap perjuangan kemerdekaan, membangun negara, mempertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan.

Hanya saja karena selalu ada yang berpura bodoh sejarah atau memang yang benar-benar bodoh kemudian dibodohi, termasuk upaya mendistorsi dan menghapus fakta sejarah, membuat buku ini jadi sangat penting. Yang bersifat dan bersikap seperti di atas bukan hanya personal bahkan negara terkadang bersikap sama. Maka buku ini harusnya menjadi sentilan yang memerahkan dan membuat pedas telinga kaum ‘jahiliyah’ itu.

Kesamaan Aqidah

BUKU ini mendedah sejarah Masyumi sebagai partai yang konsisten membela negara dan bangsa secara demokratis. Sejarah lahirnya Kementerian Agama dipaparkan pula oleh Lukman. Cukup jadi amunisi untuk meruntuhkan klaim Kemenag milik ormas tertentu.

Bagaimana Islam meneladankan tentang sikap toleran dalam sejarah berbangsa.

Ada peran tokoh Islam dalam proses penciptaan lambang negara.

Bung Karno pernah menegaskan keinginannya agar Indonesia menjadi negara yang ber-Tuhan.

BACA JUGA: Merindukan Persatuan Ulama dan Umat

Banyak hal lainnya fakta sejarah yang kita tidak dapatkan pada cerita dan buku yang lain. Sebagiannya peristiwa-peristiwa ‘kecil’ tetapi sangat menentukan.

Lukman mengungkap fakta seandainya tidak ada Islam di negeri ini. Saya simpulkan jika tidak ada Islam di negeri ini, nusantara ini akan jauh lebih lama meraih kemerdekaan. Jika tidak ada Islam di negeri ini, tidak ada Indonesia saat ini. Jika tidak ada Islam di negeri ini, tidak ada NKRI saat ini. Jika tidak ada Islam saat ini, tidak ada kedamaian dan toleransi yang indah dan jujur saat ini.

Indonesia yang wilayahnya amat luas. ‘Dipisahkan’ oleh selat dan laut. Pulau-pulau berjauhan dari ujung ke ujung. Saat itu tidak ada teknologi komunikasi canggih seperti saat ini. Atas sebab apa kemudian mereka bersatu mewujud dalam kesatuan wilayah yang kokoh dan megah Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Tentu saja tidak lain dan tidak bukan karena kesamaan aqidah dan ukhuwah Islamiyah. Sebagaimana motif perjuangan kemerdekaan adalah jihad fi sabilillah. Karena saat itu tidak ada motif lain selain membela agama yang sekaligus juga membela tanah air.

Seperti yang Pak Natsir serukan, “Isyhadu bianna Muslimun!”. Muslim yang berkarakter Rahmatan Lil’alamin. Muslim yang melindungi dan mengayomi seluruh warga negara. Muslim yang berjasa amat besar untuk bangsa dan negara tapi tidak pernah mengutangkan jasanya. Ikhlas beramal. Mereka adalah para pah-a-lawan, yang hanya berharap pahala saja. Tidak kemaruk harta dan kekuasaan.

Kepada mereka yang tidak tahu terimakasih, ingatlah “Utang Republik pada Islam!”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here