Kelas Khusus Mapel Menulis Biografi

141

Oleh: Wildan Hasan

“SEPERTI diguyur rezeki”. Akhir-akhir ini saya ditantang untuk menulis biografi seorang tokoh politik. Sebelumnya pernah juga saya menulis biografi dari seorang tokoh pendidikan lokal di Bekasi. Tetapi tentu saja saya masih amatiran di bidang penulisan biografi.

Garis nasib mungkin sama lah dengan Bang Lukman Hakiem yang tidak pernah belajar ilmu sejarah dan tidak mengerti teori, metode, dan hal lainnya yang berkaitan dengan ilmu sejarah. Meskipun tentu saja soal kapasitas dan kompetensi beda jauh. Beliau Guru, saya murid.

Tetapi seperti ditulis diawal, “seperti diguyur rezeki”, saya yang kebingungan bagaimana menulis biografi seorang tokoh politik mendapatkan rezeki buku Menulis Biografi Berdamai dengan Sejarah ini.

Buku ini semacam tutorial yang memandu saya bagaimana menulis biografi yang baik. Pak Lukman adalah standar dan teladan saya dalam menulis tokoh dan sejarah.

Buku-bukunya tidak pernah saya lewatkan. Termasuk buku terbarunya ini. Berapa hari yang lalu di satu grup WA saya tanya ke beliau, “Bukunya bisa saya dapatkan dimana pak?”

Pak Lukman jawab, “kirim alamat, nanti saya kirim”. Semudah itu. Dengan suka cita saya segera kirim alamat dan tidak lama bukunya sudah di tangan saya.

Gatal rasanya jari saya kalau mendapatkan bacaan menarik lalu saya tidak menuliskan pikiran saya. Semula membaca judulnya saya duga akan disuguhi teori-teori yang jelimet tentang cara penulisan biografi.

Terus terang kepada segala macam teori itu kadang otak saya seperti kena hack. Sehingga tulisan Prof Dudung yang saya duga pasti bergizi tinggi sengaja saya lewat terlebih dahulu.

Biarlah nanti saya baca diwaktu dan tempat khusus. Untuk judul yang membuat saya gugup itu saya berpegang kepada nama penulisnya.

Nama Lukman Hakiem bagi saya seperti jadi jaminan mutu. Entahlah, yang pasti saya suka gaya tulisannya, cara menuturnya dan ramuan bahasanya.

Suka pula akan kekayaan catatan dan ingatan sejarahnya. Akhirnya, bagaimana pun saya harus baca buku ini. “Apalagi yang ditulis pak Lukman ini?” Begitu tanya di pikiran saya.

Pernah dulu saya mendengar atau membaca kalimat “berdamai dengan sejarah”, tetapi entah ucapan siapa dan tulisan siapa saya tidak ingat lagi.

Barangkali malah saya dengar sendiri dari pak Lukman yang kami pernah sering bertemu saat penulisan buku fenomenalnya “Biografi Mohammad Natsir”.

Kaitannya dengan itu, saya kira saat itu maksud “berdamai dengan sejarah” adalah penguasa harus melupakan dendam, syak wasangka dan ketakutan kepada tokoh-tokoh tertentu yang dalam sejarahnya bertentangan bahkan pernah berseteru dengan penguasa.

Tokoh seperti Mohammad Natsir yang sangat besar jasanya bagi bangsa dan negara ‘terlambat’ mendapatkan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional gara-gara tidak selalu sejalan seiring dengan penguasa.

Meskipun pasca reformasi atmosfir keterbukaan dan kebebasan lebih terasa namun pandangan dan sikap miring penguasa kepada tokoh dan golongan tertentu masih dapat dirasakan.

Hal ini bisa dibuat lebih terasa lembut dengan jalan menuliskan biografi tokoh tersebut, membaca dan mendiskusikannya di wilayah publik.

Pada akhirnya semua pihak bisa memahami pilihan politik dan prinsip hidup seseorang yang telah menjadi bagian dari sejarah. Kemudian dengan lapang dada mengakui kelebihan dan jasa-jasanya.

Saya kira hal itu termasuk yang dimaksud Kuntowijoyo dalam objektifikasi sejarah. Objektifikasi yang dilakukan pak Kunto yang esai-esainya bisa dibaca di buku yang disusun pak Lukman dulu.

Apabila pak Lukman mengenal pak Kunto sejak puluhan tahun lalu, saya mengenalnya baru setahun terakhir ini. Terpaut jauh umur perkenalan kami dengan pak Kunto.

Pak Lukman yang menyusun tulisan-tulisan pak Kunto menjadi buku “Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia” pada tahun 1985, saya baru membacanya pada tahun 2021 ini.

Kuntowijoyo yang selalu mendasarkan alam pikirannya kepada ruh propetik, membawa kita untuk bersikap jujur dan adil kepada sejarah, bahkan jujur dan adil sejak dalam fikiran sebagaimana diungkap pak Lukman.

Membaca tulisan pak Lukman di buku “Menulis Biografi Berdamai dengan Sejarah” ini, saya seperti membaca dengan pembacaan terbalik.

Sejatinya pak Lukman menulis tentang fakta-fakta sejarah yang diteguhkannya dengan teori-teori ilmu sejarah. Ada semacam upaya legitimasi untuk fakta-fakta yang dihadirkannya.

Teorinya, sejarah harus memiliki bukti fakta. Dalam buku ini fakta yang menemukan sejarahnya. Baca saja misalkan, pak Lukman bicara tentang teks dan konteks, contoh-contoh fakta sejarah dihadirkannya untuk membenarkan teori sejarah bahwa “mengisahkan masa lampau, sebagian sekalipun, sebagaimana yang sungguh-sungguh terjadi” sulit dilakukan.

Polemik terkait seputar Proklamasi bahkan di antara para founding fathers bangsa ternyata masih kontroversial, manakah fakta sejarah yang benar? Mendamaikan teks dan konteks sama tidak mudahnya bersikap objektif dalam penulisan sejarah.

Dalam sejarah Al-Quran, banyak ilmu terumuskan untuk memahami Al-Quran dari Al-Quran itu sendiri. Ilmu-ilmu yang khas milik umat Islam seperti tafsir, nahwu, sharaf, bahasa, ushul fiqih, dan sebagainya.

Oleh karenanya sejarah harus berdasarkan fakta yang benar sebagaimana ilmu-ilmu lahir dari Kitab yang benar, Al-Quran. Sebagian besar isi Al-Quran adalah kisah-kisah masa lampau (sejarah).

Kisah-kisah untuk diambil pelajaran sebagaimana kita mengambil pelajaran dari sejarah yang ditulis.

Saya belajar bagaimana menulis yang baik kepada pak Lukman. Terutama menulis biografi. Lebih daripada itu saya memang senang membaca biografi.

Meski tidak secara langsung mulazamah belajar menulis sejarah tetapi dengan membaca dan mempelajari tulisan-tulisannya saya belajar bagaimana cara menulis sejarah.

Banyak ilmu yang saya dapatkan, maka dengan rendah hati saya minta izin untuk mengatakan pak Lukman Guru Sejarah saya. Terima kasih pelajarannya Pak. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here