Kopi Sehat UBM: Agama Sebagai Ruh Kehidupan

93

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam PP PARMUSI, Direktur An-Nahl Institute Jakarta, Ketua DPP Partai UMMAT)

AGAMA atau ad-dîn sebagai ‘satu paket’ tak terpisah dengan anugerah kehidupan, bahkan boleh disebut menjadi ruh kehidupan. Karena sebagai makhluk yang dicipatkan oleh Sang Khâliq, kita diberi role model yakni Rasûlullâh ﷺ sebagai pemandu utama dan menjadi ‘uswah-iswah’ atau teladan terbaik serta sekaligus ‘buku panduan’ kehidupan berupa Al-Quran yang kemudiaan diterjemahkan langsung sebagai contoh dari kehidupan beliau ﷺ berupa ucapan, tindakan dan persetujuan dalam sirah kehidupannya.

Agama diterjemahkan dari ad-dîn merupakan istilah yang banyak terdapat dalam Al-Quran. Di dalam Al-Quran, terdapat lebih kurang 101 ayat yang menyebutkan istilah ini. Istilah ad-din berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk mashdar dari kata kerja (fi’il): dâna – yadînu – ad-dîn.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Beragamalah dengan Benar

Menurut kamus bahasa Arab arti asalnya adalah utang atau memberi pinjaman. Kemudian diartikan pula dengan: taat, balasan, adat, pahala, ibadah, ketentuan, paksaan, tekanan, kerajaan, pengaturan, perhitungan, undang-undang, hukum, tauhîd, hari kiamat, perjalanan hidup, siasat, wara’, nasehat, keputusan, tunduk, dan tentunya agama. Dengan demikian arti ad-din amat luas sekali.

Sebagian besar ayat Al-Quran menunjukkan kata ad dîn dengan arti agama. Tetapi pada ayat-ayat lainnya, istilah ad-dîn juga menunjuk kepada makna-makna yang berbeda dari arti agama.

Al-Quran sendiri menggunakannya dalam berbagai arti, seperti: hari akhirat (QS Alfatihah 3), agama (QS. Ali ‘Imrân 19), hari kiamat (QS. Al Hijr 35), balasan (QS. Adz dzariyat 6), dan sebagainya.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Di Mana Pancasila Kita?

Para ‘ulama dan pakar ‘ilmu Al-Quran, menggambarkan bahwa di dalam Al-Quran terangkai pengertian-pengertian selain agama yakni berupa: suatu sistem, undang-undang, jalan hidup, code of conduct atau akhlâq, taat-patuh, rendah diri, pengesahan dan pembalasan atau penghargaan.

Pengkhususan istilah ad-dîn kepada makna agama bahkan Islâm itu sendiri, membuat istilah ini menjadi lebih menguatkan keyakinan kita sehingga tidak mudah terjebak pada apa yang selalu dinarasikan oleh pengobral agama juga para pedagang pluralisme, bukan pluralitas, liberalisme dan sekularisme.

قَوْلُهُ تَعَالَى : إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Firman Allâh تَعَالَى : “Sesungguhnya agama (yang diridlai) disisi Allâh hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allâh maka sesungguhnya Allâh sangat cepat hisab-Nya”.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Menyiapkan ‘Jalan Pulang’

Silahkan dibaca juga spirit dan arahan jelas ini dari Al-Quran Al-Karîm yakni QS. At-Taubah: 33, QS. Al-Fath: 28, dan QS. Ash-Shaff: 9 serta banyak ayat lainnya.

Jangan terjebak dengan narasi-narasi indah tetapi mengaburkan bahkan menghilangkan esensi dan arti sesungguhnya dari agama, apalagi Islam yang sangat lengkap, universal, sempurna dan paripurna ini.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia agama diartikan sebagai “ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya” (KBBI versi online/2017).

Dengan demikian, jangan pernah ragu meyakini agama kita sendiri, sebagai satu-satunya agama yang benar dan jangan pernah terjebak dengan jualan semua agama itu sama dan tuhan kita satu, namun arah dan cara yang berbeda!

والله اعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here