Kekeliruan Mengucapkan Kalimat “Insya Allah”

134

Oleh: Drs. H. Tb. Syamsuri Halim, M. Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Umumnya, kata “insya Allah” kerap diucapkan untuk janji yang potensial dilanggar, komitmen yang tidak teguh, atau harapan yang tidak pasti. Bahkan ucapan “Insya Allah” dibarengi dengan niat yang tidak ingin datang, dll ini tentunya Orang salah kaprah alias kekeliruan yang sudah menjadi kebiasaan.

Seorang muslim yang merusak kalimat “Insya Allah” menjadi kalimat yang berpotensi tidak dilaksanakan atau dilanggar.

Misalnya, “Eh, eh ini kan rapatnya udah ditentukan dari minggu kemarin. Coba sekarang konfirmasi dong siapa aja yang bisa hadir besok?”

“Gue Insya Allah ya..tapi belum tahu juga sih..”

BACA JUGA: Tingkatan Guru dalam Literatur Islam

“Udah dikasih tahu sama Andri dia mau traktir kita makan-makan? Jadinya gimana, lo bisa datang apa enggak?”

“Insya Allah deh gue gimana nanti ya..”

Percakapan di atas mungkin seringkali kita temui di kegiatan sehari-hari. Dan kalimat itu sudah dipancung oleh umat Islam sendiri.

Contoh lagi, ketika Junaidi yakin dengan niat yang pasti bahwa dia tidak dapat datang karena dia sudah mempunyai kegiatan yang lain dan pulangnya sore, tiba-tiba temannya berkata kepada Junaidi:

“Bro, besok lu datang ya..”

Junaidi lalu bilang, “Insya Allah dah ya….”

BACA JUGA: Kisah Kecintaan Ukasyah kepada Baginda Nabi Muhammad

Dan Junaidi ternyata tidak datang karena memang dia tidak berniat datang, tapi masih juga mengucapkan “insya Allah”. Nah, orang yang seperti ini bisa dibilang sebagai orang yang munafik.

Tanda-tanda orang munafik disebutkan dalam empat ciri. Berdasarkan hadist riwayat Muslim nomor 58. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Ada empat tanda, jika seseorang memiliki empat tanda ini, maka ia disebut munafik tulen. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: jika diberi amanat, khianat; jika berbicara, dusta; jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi, jika berselisih, dia akan berbuat zalim.”

BACA JUGA: Hukum Membaca Al-Quran

Penjelasan tentang Insya Allah

Di dalam QS. Al-Kahfi ayat 23-24 disebutkan:

 وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا . إِلّا أَنْ يَشَاءَ الله

“Dan janganlah engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Aku akan melakukannya besok.’ Kecuali jika Allah menghendaki atau mengucapkan insya Allah.”

Dengan demikian, mengucapkan kata insya Allah sesungguhnya bersumber dari perintah Al-Quran. Secara literal ia berarti “jika Allah menghendaki”.

Ayat ini mengandung pendidikan bagi pengucapnya tentang pentingnya rendah hati. Tidak terlalu mengandalkan kemampuan pribadi karena ada kekuatan yang lebih besar dibanding dirinya.

Sungguh agung makna kata “insya Allah” itu. Di dalamnya dikandung makna paling tidak empat hal.  Pertama, manusia memiliki ketergantungan yang tinggi atas rencana dan ketentuan Allah (tauhid).

BACA JUGA: Perdebatan Dua Kiai Soal Rokok

Kedua, menghindari kesombongan karena kesuksesan yang dicapai (politik, kekayaan, keilmuan, dan status sosial).

Ketiga, menunjukkan ketawadhu’an (keterbatasan diri untuk melakukan sesuatu) di hadapan manusia dan Allah SWT.  Dan keempat, bermakna optimisme akan hari esok yang lebih baik.

Bagaimana jika kata “insya Allah” dijadikan tameng untuk memerdaya manusia atau dalih untuk melepaskan diri dari tanggung jawab? Sesungguhnya kita telah melakukan dua dosa.

Pertama, menipu karena menggunakan Dzat-Nya. Kedua, kita telah menipu diri kita sendiri karena sesungguhnya kita enggan menepatinya, kecuali sekadar menjaga hubungan baik semata dengan rekan, kawan, atau relasi.

Oleh karena itu jika kita yakin besok kita tidak bisa hadir, bilang saja terus terang dengan contoh ucapan: “Maaf, Bro saya tidak bisa hadir, karena besok Insya Allah saya ada pertemuan dengan para guru saya.”

Atau, “Maafkan saya kawan, saya nggak bisa datang karena insya Allah besok saya kerja dan tidak bisa cuti.”

Demikian, wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here