Kabar Baik, Ternyata Omicron Hanya Penyakit Ringan dari Covid-19

173

Muslim Obsession – Ternyata, Omicron diketahui sebagai varian Covid-19 dengan gejala ringan. Kabar baik ini diinformasikan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS) alias CDC.

Disebutkan bahwa mayoritas pasien infeksi varian Covid-19 terbaru itu hanya mengalami “gejala yang ringan”. Hal ini ditemukan dari observasi 40 pasien infeksi Omicron di negara itu.

Sebelumnya, kemunculan varian Omicron telah menjadi ketakutan baru dunia. Ketakutan ini didasari oleh mutasi virus ini yang mengangkut seluruh mutasi varian-varian Covid-19 seperti Alpha, Beta, dan Delta.

“Penyakitnya ringan di hampir semua kasus yang terlihat sejauh ini, dengan gejala yang dilaporkan terutama batuk dan kelelahan. Satu orang dirawat di rumah sakit, tetapi tidak ada kematian yang dilaporkan,” ujar Direktur CDC, Rochelle Walensky dalam wawancara bersama Associated Press (AP) dilansir Kamis, (9/12/2021).

BACA JUGA: WHO: Varian Omicron Terdeteksi di 57 Negara

Kendati infeksi varian itu terlihat sangat ringan, tambah Walensky, pihaknya masih meneliti dan mengumpulkan data-data lanjutan mengenai varian ini. Salah satu hal yang sedang berusaha dipecahkan oleh lembaga itu adalah kemampuan vaksin dalam melawan infeksi Omicron.

“Kami ingin memastikan bahwa kami meningkatkan kekebalan semua orang. Dan itulah yang memotivasi keputusan untuk memperluas panduan kami,” tambahnya.

Tak hanya dari CDC, Kepala Penasihat Medis Gedung Putih, Dr AnthonyFauci, juga melontarkan hal serupa. Ahli penyakit menular itu menyebut Omicron tidak akan lebih berbahaya dibandingkan varian-varian terdahulu.

“Hampir pasti tidak lebih parah dari Delta. Ada beberapa saran bahwa itu mungkin tidak terlalu parah, karena ketika Anda melihat beberapa kelompok yang diikuti di Afrika Selatan, rasio antara jumlah infeksi dan jumlah rawat inap tampaknya lebih sedikit dibandingkan dengan Delta,” kata Fauci.

BACA JUGA: Kemenkes Bantah Ada Temuan Omicron di Indonesia: Itu Tidak Benar

Varian Omicron sendiri telah dimasukkan sebagai ‘variant of concern’ oleh WHO. Varian itu awalnya merebak luas di Botswana dan Afrika Selatan.

Meski begitu, sejauh ini banyak kabar-kabar “melegakan” meliputi penelitian varian ini. Laporan tersebut diucapkan oleh beberapa pihak baik WHO, lembaga kesehatan negara, dan juga pelaku industri farmasi.

Apa saja? Berikut daftarnya:

  1. Belum Ada Kematian Akibat Infeksi Virus Ini.

WHO mengaku belum menemukan kematian akibat infeksi varian baru Covid-19, Omicron. Badan PBB itu mengatakan masih melakukan observasi terhadap pasien infeksi.

“Saya belum melihat laporan kematian terkait Omicron. Kami sedang mengumpulkan semua bukti dan kami akan menemukan lebih banyak bukti seiring berjalannya waktu,” kata juru bicara WHO Christian Lindmeier.

  1. Gejalanya Tak Parah.

Kabar ini datang dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS) alias CDC. Badan kesehatan AS itu menyebut bahwa mayoritas pasien infeksi varian Covid-19 terbaru itu hanya mengalami “gejala yang ringan”.

“Penyakitnya ringan di hampir semua kasus yang terlihat sejauh ini, dengan gejala yang dilaporkan terutama batuk dan kelelahan,” ujar Direktur CDC, Rochelle Walensky, di Associated Press (AP) dilansir Kamis, (9/12/2021).

BACA JUGA: Omicron Masuk Arab Saudi, DPR Minta Indonesia Tunda Pemberangkatan Umrah

  1. Tidak Seperti Delta.

Hal ini disampaikan langsung oleh ahli penyakit menular AS yang juga Kepala Penasihat Medis Gedung Putih, Dr Anthony Fauci. Dalam sebuah konferensi pers Fauci menyebut Omicron tidak akan lebih berbahaya dibandingkan varian-varian terdahulu.

“Hampir pasti tidak lebih parah dari Delta,” kata Fauci.

“Ada beberapa saran bahwa itu mungkin tidak terlalu parah, karena ketika Anda melihat beberapa kelompok yang diikuti di Afrika Selatan, rasio antara jumlah infeksi dan jumlah rawat inap tampaknya lebih sedikit dibandingkan dengan Delta.”

  1. Vaksin Masih Efektif

WHO mengungkapkan bahwa strategi vaksinasi merupakan kunci untuk melawan penularan Omicron di dunia. Takeshi Kasai, direktur Pasifik barat WHO, mengatakan bahwa strategi ini jauh lebih penting dibandingkan menutup perbatasan.

“Orang tidak boleh hanya mengandalkan tindakan perbatasan. Yang paling penting adalah mempersiapkan varian ini dengan potensi penularan yang tinggi. Sejauh ini informasi yang tersedia menunjukkan bahwa kita tidak perlu mengubah pendekatan kita,” ujarnya sebagaimana dikutip Reuters, Ahad (5/12/2021).

BACA JUGA: Larangan Perjalanan untuk Cegah Varian Omicron, Ilmuwan: Sudah Terlambat! 

Sementara itu, vaksin Covid-19 juga sudah melaporkan keampuhannya dalam melawan varian ini. Vaksin besutan Pfizer-BioNTech misalnya telah mengumumkan vaksinnya masih efektif melawan varian virus Omicron setelah pemberian tiga dosis.

“(Vaksin) masih efektif dalam mencegah Covid-19, juga terhadap Omicron, jika telah diberikan tiga kali. Varian Omicron mungkin tidak cukup dinetralisir setelah dua dosis,” kata kedua perusahaan dalam sebuah pernyataan, Rabu (8/12/2021), dikutip dari AFP.

Selain vaksin, Pfizer juga mengatakan pihaknya optimis bahwa obat pil untuk pengobatan Covid-19 yang saat ini sedang dikembangkan perusahaannya mampu melawan infeksi Omicron. Obat itu sendiri dinamakan Paxlovid dan dibuat dengan asumsi bahwa Covid-19 dapat muncul dalam beberapa macam mutasi.

Saat ini, Pfizer telah mengajukan izin obat itu kepada Food and Drug Administration (FDA) mengizinkan pil Paxlovid diedarkan secara darurat. (ars)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here