Estetika dan Etika Tak Bisa Dipisahkan dari Aqidah Tauhid

68

Oleh: Buya Mas’oed Abidin (Ulama dan Penulis)

Dalam adat dan budaya Minangkabau ada nasihat yang berbunyi, “Nan Kuriek kundi nan sirah sago nan baik budi nan endah baso”. Landasannya adalah patuik jo mungkin, ukua jo jangko, barih jo balabeh, dan raso jo pareso.

Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 216:

… ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Maka hati-hatilah dengan keindahan palsu yang sebenarnya adalah kamuflase setan. Bila indah itu rasa dan rasa itu adalah perbuatan kalbu, coba bayangkan bila dia bercampur dengan nafsu minus keimanan.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan aku hiasi menjadi indah (perbuatan maksiat) dalam pandangan mereka di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (QS. Al-Hijr [15]: 39).

BACA JUGA: Iman, Jembatan untuk Saling Mencintai

Islam telah ada di Indonesia lebih dari 10 abad lampau. Sementara Republik Indonesia berdiri belum ada satu abad. Masak Islam harus ditiadakan dalam wacana dan kehidupan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan ideologi?

Bangsa yang tak tahu diri adalah bangsa yang pemimpinnya cenderung melupakan peranan agama yang dipeluk mayoritas penduduk negeri dan ikut membentuk way of life bangsa Indonesia.

Sangatlah berbahaya jika keyakinan agama Tauhid itu hendak digantikan dengan way of life yang berorientasi kepada perut dan kuasa kapitalis asing.

Maka pandai-pandailah hidup di dunia ini, eratkan hubungan dengan Allah Ta’ala dan buatlah kebaikan sebanyak-banyaknya di tengah kehidupan sesame manusia.

BACA JUGA: Kokohkan Tali Silaturrahim

Dunia adalah tempat ujian. Lahir menempuh kehidupan duniawi dan berjuang sekuat tenaga yang dianugerahkan Allah Ta’ala dengan sangat berhati-hati dan akhirnya kematian adalah awal dari kehidupan yang kekal selama-lamanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan dua kehidupan, yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Di akhirat, Allah Subhanahu wa Ta’ala, menyiapkan dua tempat dan di dunia Allah hanya menjadikan dua jalan, yaitu jalan ke Jannah (surga) atau jalan menuju jurang neraka. Maka hati-hatilah dan waspada menempuhnya.

Kehadiran manusia di dunia ini bukanlah kehendak manusia itu sendiri, melainkan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bumi ini diciptakan untuk manusia sebagai tempat untuk mendapatkan keperluan hidup dan menyempurnakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Dialah Allah Yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu,” (QS. Al-Baqarah [2]: 29).

BACA JUGA: Ingatlah Hubungan Doa, Ikhtiar dan Takdir

Kehidupan dunia bukanlah kehidupan sesungguhnya karena sifatnya sementara, penderitaan betapapun beratnya juga sementara, begitu juga kebahagiaan semewah apapun hanya juga sementara. Maka waspada dan berhati hati lah melewati KESEMENTARAAN ini.

Kehidupan dunia walapun milyaran tahun lamanya suatu saat pasti akan berakhir karena Allah menciptakan akhirnya adalah kematian.

Kehidupan di dunia walaupun sementara tetapi sangat menentukan kehidupan yang selanjutnya, karena dunia diciptakan untuk persiapan akhirat dan kematian adalah awal dari kehidupan selama-lamanya.

Maka, OPTIMISLAH dan PANTANGKAN BERPUTUS ASA serta SELALU MEMOHON PERLINDUNGAN KEPADA ALLAAH dengan senantiasa BERTAQWA dan selalu ISTIQAMAH. Insyaa Allah, Aamiin.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here