Ada Gojek dan Baznas di Balik Rantang Kasih

148
Aksi kemanusiaan seorang driver Gojek memberikan Rantang Kasih. (Foto: istimewa)

Oleh: Rhenald Kasali (Founder Rumah Perubahan)

Kemiskinan memang masih menjadi tantangan besar yang dihadapi bangsa Indonesia. Dari media, tidak jarang kita mendengar kisah-kisah yang menyayat hati tentang orang lanjut usia (lansia) yang hidup sebatang kara, di gubuk reyot atau rumah seadanya. Untuk makan, mereka bergantung pada uluran tangan tetangga.

Bagi lansia yang kisahnya muncul di media, biasanya akan langsung mendapat bantuan dari pemerintah maupun relawan. Namun, sesungguhnya, jumlah lansia yang hidup sebatang kara seperti itu cukup banyak. Mereka adalah warga Negara yang seharusnya bisa menikmati masa tua tanpa harus khawatir besok makan apa.

Lahirnya Program Rantang Kasih

Di Kabupaten Banyuwangi, jumlah lansia yang hidup sebatang kara semacam itu juga banyak, tersebar di desa-desa. Hal itulah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya program Rantang Kasih pada 2017. Rantang adalah tempat makan tradisional yang berisi beberapa periuk kecil tempat nasi dan lauk-pauk.

Filosofi program Rantang Kasih adalah menyediakan makanan bergizi secara gratis bagi lansia miskin yang hidup sebatang kara agar di usia tuanya, para lansia ini bisa tenang karena kebutuhannya sudah terjamin. Kriteria lansia yang menjadi prioritas adalah mereka yang usianya di atas 70 tahun.

Data kemiskinan yang rapi membuat Banyuwangi memiliki database warga lansia miskin hingga tingkat desa. Dari sini, proses mobilisasi dilakukan. Data yang sudah ada kemudian disortir lagi untuk menentukan kriteria lansia di atas 70 tahun yang hidup sebatang kara.

BACA JUGA: Rhenald Kasali: Waspadai 7 Shock Ekonomi Akibat Corona

Setelah itu, data diserahkan kepada pemerintah kecamatan dan pemerintah desa untuk verifikasi ulang agar data benar-benar valid dan program benar-benar tepat sasaran. Misalnya, warga yang terdaftar belum meninggal atau tidak pindah ikut anak atau sanak saudara.

Kekuatan mobilisasi menggerakkan berbagai elemen dalam proses verifikasi ulang. Mulai dari aparat kecamatan dan desa, kepala dusun, RW, RT, tokoh masyarakat, hingga kelompok pemuda Karang Taruna.

Data hasil verifikasi itulah yang kemudian menjadi basis untuk menentukan target program Rantang Kasih. Total, ada sekitar 4 ribu lansia miskin yang hidup sebatang kara di Banyuwangi.

BACA JUGA: Rhenald Kasali: Taraf Pendidikan Kita Masih Ada di Level Bawah

Dalam program Rantang Kasih, setiap lansia mendapat kiriman makanan dua kali dalam sehari. Setiap kali makan dianggarkan Rp15 ribu untuk menu nasi, lauk-pauk, sayur, dan buah. Dengan demikian, untuk 1 lansia dianggarkan Rp30 ribu per hari atau Rp900 ribu per bulan.

Setelah dikalkulasi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemkab Banyuwangi ternyata hanya mampu menyediakan anggaran untuk 1.000 lansia miskin sebatang kara, atau sekitar Rp1,3 miliar per bulan.

Orkestrasi Entaskan Kemiskinan

Lantas, bagaimana dengan sekitar 3 ribu lansia miskin lainnya?

Di sinilah strategi orkestrasi bermain. Untuk bisa memperluas jangkauan program Rantang Kasih, Azwar Anas kemudian menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Manajemen data yang rapi berbasis digital membuat pemetaan target penerima Rantang Kasih sangat jelas. Siapa saja yang sudah terjangkau oleh APBD Pemkab bisa diperinci dengan jelas. Oleh karena itu, Baznas kemudian masuk untuk menjangkau para lansia miskin sebatang kara yang belum ter-cover oleh APBD. Tapi, dana Baznas ternyata juga belum cukup. Maka, pemerintah desa juga ikut dilibatkan dalam pendanaan.

BACA JUGA: Rhenald Kasali Salurkan Sumbangan Hasil Donasi Masyarakat kepada Para Sopir Taksi

Selain karena pemerintah desa sudah mendapat anggaran Dana Desa hingga lebih dari Rp1 miliar per tahun, banyak juga desa di Banyuwangi yang pendapatan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)-nya cukup besar. Misalnya, karena aktivitas pariwisata yang terus menggeliat.

Oleh karena itu, desa pun ikut bergerak untuk mendanai program Rantang Kasih untuk warga di wilayahnya yang belum terjangkau oleh Pemkab dan Baznas.

Untuk Rantang Kasih yang didanai oleh Baznas ataupun pemerintah desa, anggarannya ada yang dipatok sebesar Rp10 ribu untuk sekali makan. Meskipun nilainya di bawah anggaran dari Pemkab, menu makanan yang disajikan tetap memenuhi standar layak dan sehat.

Selain itu, pelaku usaha, baik BUMN maupun swasta pun digerakkan. Melalui dana corporate social responsibility (CSR), pelaku usaha bisa memilih target lansia miskin sebatang kara yang ada di wilayah usaha mereka. “Jadi, ada kolaborasi anggaran dengan berbagai pihak,” kata Azwar Anas.

Orkestrasi juga dilakukan dengan menggandeng penyedia jasa layanan transportasi online Gojek. Untuk para lansia yang tempat tinggalnya jauh dari lokasi warung makan yang ikut program Rantang Kasih, makanan untuk para lansia itu diantar oleh pengemudi Gojek.

BACA JUGA: JUFI Salurkan 125 Paket Pangan Lebaran dan 200 Paket Takjil di Jadetabek

Berdasar cerita warga, tidak jarang para pengemudi Gojek itu tidak mau dibayar saat mengantar makanan ke para lansia karena menganggap hal itu bagian dari amal sedekah. Artinya, program Rantang Kasih ini juga sukses menumbuhkan rasa kepedulian warga Banyuwangi. Ini adalah modal sosial yang sangat bagus.

Tidak hanya itu, program Rantang Kasih ini ternyata juga menjadi pendorong reformasi sistem perizinan usaha. Ini terkait dengan izin usaha warung makan yang menjadi penyedia makanan untuk Rantang Kasih yang didanai APBD.

Meskipun tanpa lelang karena nilainya tidak besar, tetap saja warung makan harus memiliki izin. Tentu, akan sangat repot jika semua izin usaha itu harus diurus di tingkat kabupaten. Karena itulah, Azwar Anas kemudian mengeluarkan peraturan bupati yang isinya mendelegasikan kewenangan izin usaha warung makan di tingkat kecamatan.

Proses perizinannya juga dibuat sederhana dan mudah. Dengan surat pengantar dari desa, dalam satu hari, izin usaha warung makan sudah bisa didapat di kecamatan.

Detail semacam inilah yang kadang menentukan sukses tidaknya sebuah program. Tidak jarang ada program yang bagus, tetapi gagal dilaksanakan karena terbentur aturan atau regulasi.

Namun, ketika regulasi itu hendak diubah, terjadi resistensi. Sebab, melepas atau mendelegasikan kewenangan ke bawah, kadang kurang disukai oleh birokrasi yang kaku. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here