Wasiat Rasulullah Agar Umatnya Selamat dan Bahagia

101
Happiness
Tiga kunci selamat dan bahagia menurut Rasulullah.

Muslim Obsession – Setiap orang beriman pasti ingin mendapatkan keselamatan di dunia maupun akhirat. Ia bahagia di dunia, juga bahagia di akhirat.

Ibarat dua sisi mata uang, keselamatan dan kebahagiaan saling bersinggungan. Jika seseorang selamat, ia pastilah bahagia. Sebaliknya, jika ia tidak selamat, pastilah ia tak akan merasa bahagia.

Untuk mendapatkan keduanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan arahan agar umatnya menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai ‘manual book’ kehidupan. Dengan Al-Quran dan Sunnah, kehidupan seseorang akan terarah menuju jalan keselamatan dan kebahagiaan.

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah memberikan sebuah wasiat agar kehidupan umatnya selamat dan bahagia dunia dan akhirat. Inilah wasiat yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Dzar dan Muadz bin Jabal.

Wasiat ini merupakan wasiat yang lengkap, meliputi hak Allah, hak diri sendiri dan hak sesama.

“Bertakwalah kepada Allah di mana dan kapan saja kalian berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan yang akan menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik,” (HR Ahmad, at-Tirmidzi, ad-Darimi, al-Bazzar, al-Hakim dan al-Baihaqi).

Ada tiga wasiat dalam hadits tersebut. Tiga wasiat yang jika dilakukan, maka seseorang akan memperoleh keselamatan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat agar umatnya bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, di mana pun ia berada, kapanpun, dan dalam keadaan bagaimanapun.

Seseorang yang bertakwa, hati dan pikirannya pasti akan selalu ingat kepada Allah. Ucapan dan perilakunya hanya akan digunakan untuk kebaikan. Tidak untuk menyakiti orang lain apalagi Allah ‘Azza wa Jalla, melainkan untuk meraih keridhaan-Nya.

Kedua, balas keburukan yang telah dilakukan dengan kebaikan. Satu keburukan akan terhapus dengan satu kebaikan yang dilakukan. Hal ini juga disinggung Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Hud [11] ayat 114:

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”

Namun, meski kebaikan bisa menjadi kafarat (penebus) bagi keburukan (dosa), namun tidak semua keburukan bisa dihapus dengan sembarang kebaikan. Keburukan dan kebaikan bertingkat-tingkat. Suatu keburukan akan dihapus oleh kebaikan yang setara atau yang lebih besar.

Makin besar keburukan, untuk menghapusnya perlu dilakukan kebaikan yang makin besar pula. Dosa besar hanya bisa dihapus dengan tobat nashuha. Penghapusan keburukan ini bukan hanya di hadapan Allah, tetapi juga di hadapan manusia.

Ketika suatu kesalahan atau keburukan dilakukan kepada seseorang, lalu pelakunya segera membalasnya dengan kebaikan kepada orang yang sama dengan kebikan yang setara atau lebih besar, maka kebaikan itu bisa menghapus pengaruh keburukan sebelumnya dalam diri orang yang menjadi korban.

Ketiga, Rasulullah mengimbau umatnya untuk berinteraksi atau bergaul dengan orang lain menggunakan akhlak yang mulia. Kata ‘khuluqin hasanin’ itu juga bermakna memperlakukan orang lain secara adil, memberikan kebaikan dan menghalangi ancaman, tetap berbuat kebaikan dengan berbagai macamnya meski ia diperlakukan secara buruk. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here