Undian ke Surga

1994
Ilustrasi keindahan surga

Muslim Obsession – “Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat” (QS. Ar-Rahman: 54). Sesungguhnya Allah menggambarkan surga dengan keindahan yang disukai manusia.

Seperti firman Allah, “Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah,” (QS. Ar-Rahman: 76). Perumpamaan yang Allah berikan amat mudah kita bayangkan, sehingga siapapun begitu rindu dengan kenikmatan surga.

Pada masa Perang Badar, Rasulullah Saw. menyeru kaum muslimin untuk berjihad. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam hati mereka. Sebab mereka begitu mengimani betapa dekatnya syahid, begitu dekatnya surga.

Tidak terkecuali Saad dan ayahnya yang tua renta bernama Khaitsamah. Mereka terus berebut dan berdebat siapa di antara mereka yang berhak berangkat jihad.

“Wahai Ayah, izinkanlah aku saja yang berangkat dalam Perang Badar. Aku sudah tidak sabar lagi mencium wanginya surga. Sungguh, bukankah orang yang mampu seperti aku yang diwajibkan Rasulullah?” Saad memelas.

“Tidak bisa wahai anakku, kamu lebih pantas menjaga wanita dan anak-anak. Biarkan ayah saja yang berangkat,” tukas Khaitsamah kepada anaknya.

Mereka terus berdebat dan sama-sama kukuh. “Wahai Ayahku, janganlah demikian. Karena keinginanku untuk memerangi kaum kafir lebih besar dari keinginanmu. Allah telah mewajibkan aku berjihad dan Rasulullah memanggilku,” kata Saad.

“Apakah pantas bagiku menentang Allah dan Rasul-Nya?” tanya Saad. Namun di antara mereka tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya Khaitsamah mengajak anaknya untuk berundi. Rupanya, keberuntungan ada di pihak Saad.

Saad meminta restu ayahnya. Dengan penuh duka cita, Khaitsamah merestui anaknya untuk berjihad membela Agama Allah. “Berangkatlah, semoga Allah menganugerahkan apa yang kau dambakan,” ujar Khaitsamah memeluk anaknya.

Dalam kecamuk Perang Badar, tersiar kabar bahwa Saad syahid di medang pertempuran. Air mata Khaitsamah berjatuhan seperti hujan. Sampai-sampai jenggotnya basah oleh air matanya.

Kemudian, seruan jihad kembali menggema di langit Kota Madinah. Ada semacam rasa bersalah yang berkecamuk di dada Khaitsamah karena dia tidak bisa ikut pada perang Badar.

Kali ini Khaitsamah tidak berdiam diri untuk ikut pada Perang Uhud. Khaitsamah menyelinap masuk ke dalam barisan pasukan Islam. Meski ia tahu Rasulullah tidak mewajibkannya karena usianya yang sudah renta.

Rasulullah mengetahui hal itu dan tidak mengizinkan Khaitsamah untuk bergabung. Namun, ia terus bersikeras menjelaskan. “Ya Rasulullah, tadi malam aku bermimpi bertemu anakku dan ia memintaku untuk menemaninya di surga,” ujarnya.

Mendengar penjelasan Khaitsamah, Rasulullah tidak berkata apa-apa lagi. Pertempuran Uhud begitu sengit. Khaitsamah bertempur dengan semangat membaja dan akhirnya gugur sebagai syahid. Kini dia pun telah mendapat kemenangan yang diimpikannya, yaitu Surga. (Vina – Dipetik dari Buku The Power of Wisdom Karya Nurrahman Effendi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here