Umat Kristen Nias Minta Menag Perbaiki Madrasah dan Mushalla

469
Menag dan Kristen Nias
Menag Lukman Hakim Saifuddin menerima Penganut Kristen Nias yang tergabung dalam Orahua Niha Keriso Protestan atau Persekutuan Orang-Orang Kristen Protestan. (Foto: Kemenag)

Jakarta, Muslim Obsession – Umat Kristen Nias meminta Kementerian Agama membantu pembangunan madrasah dan mushalla yang rusak karena bencana tsunami di Pulau Nias.

Permintaan itu disampaikan Pimpinan (ONKP), Pdt Saradodo Gulo, saat bertemu Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di kantor Kemenag, Jakarta. Umat Kristen Nia situ tergabung dalam Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP) atau Persekutuan Orang-Orang Kristen Protestan yang berpusat di Desa Tugala Kecamatan Lahomi Kabupaten Nias Barat Provinsi Sumatera Utara.

“Pak Menteri, tolong untuk bisa merenovasi madrasah dan mushalla yang masih rusak di daerah kami di Nias Barat. Nias merupakan daerah pedalaman yang belum maju dan terbatas ekonominya,” ujar Saradodo.

Dilansir laman Kemenag, Selasa (23/1/2018), Menag yang didampingi Dirjen Bimas Kristen Thomas Pentury dan Sesmen Khoirul Huda berjanji akan menindaklanjuti keinginan pembangunan madrasah dan mushalla di Nias. Pihaknya akan berkomunikasi dengan Kakankemenag Nias Barat.

“Nanti saya akan berkomunikasi dengan Kakankemenag Kabupaten Nias Barat, tentang apa yang bisa dilakukan, baik oleh Kemenag Pusat, Kemenag Kabupaten maupun yang bisa dikerjasamakan dengan Pemkab. Untuk teknis bantuan fisik gereja, beasiswa dan SK, bisa dikomunikasikan dengan Pak Thomas (Dirjen Bimas Kristen),” jawab Menag.

Selain minta pembangunan gedung madrasah dan mushalla yang rusak, Saradodo juga meminta kejelasan tentang SK kepemimpinan di ONKP serta penjelasan cara mendapatkan bantuan fisik gereja, dan beasiswa untuk para pendeta.

Pada kesempatan itu Saradodo juga mengatakan, kerukunan umat beragama di Nias Barat, berjalan dengan baik.

“Kami meski beda agama, tapi saling menghormati. Saat ada hari besar agama, baik Kristen maupun Islam, kami saling bantu dan ikut jadi panitia. Itu kami lakukan saat mendapat masukan dari banyak tokoh,” jelas Saradodo. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here