Umar bin Khatab dan Sejarah Terbentuknya Kalender Islam

209
Ustadz Abdul Somad (Foto: Istimewa)

Muslim Obsession – Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam ceramah pendeknya, menceritakan bagaimana sejarah penetapan kalender Islam. Dia memulai kisah tentang momen hijrah Nabi Muhammad Saw. dari Makkah ke Madinah.

Tepatnya tanggal 26 Safar pada hari Kamis selepas Dzuhur, Nabi Muhammad datang ke rumah Abu Bakar untuk mengajak hijrah. Pada malamnya mereka pun menginap di Jabal Tsur selama tiga malam setengah, yakni pada hari Jumat, Sabtu dan Ahad atau tanggal 27-29 Safar.

Pada malam Senin atau tanggal 1 Rabiul Awal, Nabi bertolak ke Madinah sampai Senin lagi. Hingga Nabi sampai di Quba pada 8 Rabiul Awal.

Sebagaimana kita tahu, penetapan tanggal satu dalam kalender Islam atau kalender hijriah ialah pada saat Nabi berhijrah. Pertanyaannya, lalu mengapa kita menyambut tahun baru Islam itu pada bulan Muharam? Jikalau Nabi berangkat pada bulan Safar dan sampai di bulan Rabiul Awal? Ternyata, begini sejarahnya!

Perlu kita tahu, selama 10 tahun Nabi berada di Madinah tidak memakai kalender. Lalu masuklah periode khulafa rasyidin. Setelah meninggalnya Nabi Muhammad Saw. naiklah pemerintahan Abu Bakar Sidiq selama dua tahun dan selama itu pula umat Islam belum memakai kalender.

Pasca meninggal Abu Bakar, naiklah khalifah Umar bin Khatab. Pada masanya, banyak sekali pembebasan-pembebasan. Efek dari perluasan wilayah ini, maka Islam mulai bertetangga dengan Romawi, Persia dan raja-raja non-Arab yang kemudian terjalin hubungan bilateral dengan saling berkirim surat.

Maka ketika surat sampai pada masa pemerintahan Umar, ada kemajuan tercipta. Karena melihat bangsa lain mencantumkan tanggal Masehi dalam surat mereka, Umar berpikir bahwa umat Islam pun harus demikian.

Lalu Umar berunding dengan sahabat-sahabat senior. Di sanalah mereka membahas bagaimana caranya membuat kalender Islam. Dalam ijtima tersebut, mereka memiliki pendapat masing-masing. Ada yang mengusulkan untuk menetapkan tanggal satu kalender Islam saat turunnya Al-Quran.

Pendapat lain berpendapat untuk mentapkan tanggal satu pada hari kelahiran Nabi Muhammad. Konon, sebagaimana penetapan tanggal satu kalender Masehi tepat pada kelahiran Nabi Isa. Pendapat ketiga ialah penetapan tanggal satu saat hari kematian Nabi.

Namun akhirnya, ketiga pendapat itu ditolak. Beberapa saat kemudian, Ali datang dan mengatakan kepada para sahabat bahwa hijrahlah yang memisahkan antara yang haq dengan yang bathil.

Sebelum berhijrah, orang tak berani shalat berjamaah karena takut ditangkap Abu Jahal, Abu Lahab dan orang kafir. Tapi setelah hijrah, adzan berkumandang hingga ke langit. Sebelum berhijrah orang takut menampilkan keislaman. Tapi setelah hijrah, hukum-hukum ditegakkan.

Oleh sebab itu, kata Ali, selayaknya peristiwa hijrah Nabi dijadikan bulan pertama kalender Islam. Pendapat Ali kemudian disetujui oleh Umar dan para sahabat. Mereka kemudian sepakat menyebut kalender Islam sebagai tahun Hijrah atau Hijriah.

Belum selesai sampai disitu. Para sahabat masih kebingungan pada bulan apa ditetapkan tanggal satu Hijriah. Lalu mereka mengingat bahwa umat Islam dari penjuru negeri berkumpul di tempat yang sama, yakni di bulan Djulhijjah saat melakukan ibadah haji.

Orang yang telah berhaji, mereka kembali ke kampung masing-masing dengan mengawali hidup baru dan semangat baru di bulan awal atau bulan setelah Dzulhijjah yakni Muharam. Maka disepakati oleh ijma sahabat, bahwa bulan satu dalam kalender Islam ialah pada bulan Muharam. (Vina)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here