Trik Jitu Teuku Umar Melamar Cut Nyak Dhien

1760
Cut Nyak Dien Setelah tertangkap oleh Belanda (Foto: Wikipedia)

M.H. Szekely-Lulofs dalam Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh (1948) menuliskan fragmen ini dengan amat menyentuh.

Sambil memeluk Cut Gambang, anak satu-satunya dari Teuku Umar yang mulai menangisi kepergian sang ayah, Cut Nyak Dhien berucap dengan suara gemetar:

“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid!”

Cut Nyak Dhien lalu berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Cut Nyak Dien saat itu sudah tua dan sakit-sakitan, sehingga satu pasukannya yang bernama Pang Laot melaporkan keberadaannya karena iba.

Ia akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Di sana ia dirawat dan penyakitnya mulai sembuh. Namun, keberadaannya menambah semangat perlawanan rakyat Aceh. Terlebih, ia juga masih berhubungan dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap.

Akibatnya, dia dibuang ke Sumedang. Cut Nyak Dhien meninggal pada 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang. Nama Cut Nyak Dhien kini diabadikan sebagai Bandar Udara Cut Nyak Dhien di Meulaboh. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here