Transaksi di Pasar Bahulak Sragen Tak Menggunakan Rupiah, Lalu Pakai Apa?

192

Muslim Obsession – Jika kawasan Depok, Jawa Barat ada pasar muamalah yang transaksinya mengunakan dirham dan dinar, maka di Sragen, Jawa Tengah juga ada pasar yang melakukan transaksi jual beli bukan dengan rupiah. Pasar itu bernama Bahulak.

Namun, ingat Pasar Bahulak ini berbeda dengan Pasar Muamalah yang pendirinya kini tengah berurusan dengan polisi karena menggunakan uang dirham. Pasar Bahulak adalah pasar yang merupakan destinasi wisata dari program Pemerintah Kabupaten Sragen.

Pasar ini berlokasi di Desa Wisata mbah Karang, Desa Karungan Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen. Di Pasar Bahulak ini pengunjung wajib menggunakan Bahasa Jawa, aneka kuliner tempo dulu dapat di nikmati di bawah pohon rindang.

Baca juga: Ramai Transaksi dengan Dirham, Pendiri Pasar Muamalah di Depok Ditangkap

Selain kuliner, pasar Bahulak juga ada wahana permainan jaman jadul, seperti Egrang, Yoyo, Otok otok Jungkat jungkit, Bandulan dan Angon Wedus. Pasar ini buka setiap hari Minggu pagi jam 07.00 – 11.00 siang. Uniknya proses transaksi di pasar ini juga tidak menggunakan rupiah.

Pada saat pembeli mau masuk pasar Bahulak, pihak pengelola sudah menyediakan dua stan depan pintu masuk untuk menyediakan kepingan tempurung kelapa berbentuk bulat seperti koin berdiameter 5 cm. Koin tempurung kelapa atau batok itulah yang menjadi alat transaksi pembayaran.

Pengunjung nanti bisa menukarkan uang rupiah dengan kepingan tempurung tersebut sebagai alat transaksi. Setiap koin tempurung kelapa bernilai setara dengan uang Rp2.000.

“Untuk bisa bertransaksi di pasar ini harus menukarkan uang rupiah dengan uang kepingan dari tempurung kelapa. Setiap satu koinnya sama nilainya dengan uang Rp2.000. Kami menyiapkan 25.000 keping koin tempurung kepala sebagai alat penjualan,” ujar Bayan Sawahan, Karungan, Widodo belum lama ini.

Pasar Bahulak memang dikonsep seperti zaman kerajaan. Karena itu transaksi tidak menggunakan rupiah, melainkan ada alat penukaran uang. Pasar ini bukan berarti menghilangkan rupiah. Namun sebagai wadah pelestarian budaya. Hanya saja, karena Covid-19, pasar ini sekarang ditutup. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here