Tragedi Karbala

99

Oleh: KH. Husein Muhammad (Pendiri dan Ketua Dewan Kebijakan Fahmina Institute, Cirebon)

Peristiwa Karbala dikenang sepanjang masa oleh muslim Syi’ah sebagai sebuah tragedi kemanusiaan terbesar. Sampai hari ini kaum Syi’ah di seluruh dunia, memperingatinya sebagai hari duka nestapa.

Hari besar 10 Muharram ini merupakan ritus keagamaan terpopuler dan paling besar dalam tradisi kaum Syiah. Jutaan manusia berkumpul di pusat terbunuhnya Imam al-Husein, Karbala, Irak. Berbagai acara ritual mengenang kematian al-Husain bin Ali bin Abi Thalib digelar di seluruh penjuru Irak dan Iran, dengan beragam cara.

Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang sengaja memukul-mukul dada dan melukai tubuh mereka sendiri sampai berdarah-darah, sambil meraung-raung, berteriak-teriak menyebut nama cucu Nabi itu. Cara ini dilakukan guna ikut mengalami penderitaan al-Husein itu yang tak terkirakan.

Para pengikut Ali (Syi’ah Ali) di berbagai negara, memperingati hari Asyura selama 10 hari, sejak tanggal 1 hingga tanggal 10 Muharram. Selama itu, bendera hitam setengah tiang dikibarkan. Selain peringatan tanggal 10 Muharram itu, mereka juga menyelenggarakan upacara perkabungan selama 40 hari.

Di Kairo, Mesir terdapat masjid yang disebut dengan namanya, Husein. Terletak di kompleks pasar kuno Khan Khalili. Masjid ini tidak jauh dari Universitas Islam tertua dan masjid (Jami’) Al-Azhar yang dibangun oleh gubernur Jauhar al-Siqly, tahun 970 M pada mada pemerintahan Mu’iz li Dinillah dari dinasti Fatimiyah.

Sebagian kaum Syi’ah meyakini bahwa sebagian tubuh Husein dikubur di tempat itu. Sampai hari ini kuburan yang berada di dalam masjid itu diziarahi banyak orang laki-laki dan perempuan. Tak ada hari tanpa para peziarah. Di tempat itu mereka berdoa dan menangisi Sayyid Husein.

“Waa Husaynaaah….. Waa Husaynaaah” (Duhai Husein…. Duhai Husein….Oh Husein). Suara-suara duka itu memang memilukan dan menyayat-nyayat hati. Mereka mencintai cucu Rasulullah saw, dan menyesali kematiannya yang tragis itu.

Kaum Sunni juga mencintai cucu Rasulullah ini, demikian pula mencintai anak-anak, menantu beliau, Ali bin Abi Thalib dan keluarganya yang lain. Mereka selalu menyanyikan bait-bait yang berisi puji-pujian bagi mereka dalam banyak keadaan dan situasi.

Sebagian orang mengatakan bahwa membaca syair ini pada orang yang sakit demam diyakini bisa menyembuhkannya. Pada waktu aku masih kecil, aku diajari ayah dan kakekku syair itu:

لِى خَمْسَةٌ أُطْفِى بِهَا حَرَّ اْلوَبَآءِ الْحَاطِمَة
الْمُصْطَفَى وَالْمُرْتَضَى وَابْنَاهُمَا وَفَاطِمَة

Aku punya Lima orang kekasih
Berkat mereka sakit panasku sembuh
Al Musthafa (Muhammad Saw)
Al Murtadha (Ali bin Abi Thalib)
Dua orang puteranya:
Hasan dan Husein
Dan Fatimah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here