TGB Bongkar Kedok Tuduhan Kriminalisasi Ulama yang Dialamatkan ke Jokowi

974
Tuan Guru Bajang

Jakarta, Muslim Obsession – Muhammad Zainul Majdi atau yang dikenal dengan Tuan Guru Bajang (TGB) secara blak-blakan membongkar tuduhan kriminalisasi ulama Habib Rizieq Syihab yang dialamatkan kepada Presiden Joko Widodo.

Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat ini menyampaikan hal tersebut dalam sebuah ceramah di Aula Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pondok Pesantren Darunnahdatiain (YPH PPD) Nahdlatul Wathon (NW) Pancor, akhir pekan lalu.

Dalam video yang viral di Youtube, TGB menegaskan isu kriminalisasi ulama hanya digunakan lawan politik Joko Widodo.

“Habib Rizieq tidak hanya ditersangkakan tapi beliau diterdakwakan, diadili, dipenjara dan menghabiskan waktu hukuman di penjara sampai beliau bebas. Kenapa pada waktu itu tidak ada yang mengatakan kriminalisasi ulama,” kata TGB.

Menurut dia, ada hal-hal yang terus didengungkan. Salah satu di antaranya ialah bahwa umat Islam pada masa Bapak Presiden Jokowi ini ditekan. Lalu diberikanlah contoh kriminalisasi ulama.

Lebih spesifik lagi contoh kriminalisasi ulama, adalah apa yang menimpa Habib Muhammad Rizieq Syihab.

“Benar gak? Mari kita uji,” ujar dia.

Pertama secara umum, menurut TGB ada ungkapan bahwa umat Islam di Indonesia ini dipersulit. Ada kriminalisasi. Bahkan yang ngomong itu direkam.

“Kriminalisasi ulama Indonesia. Kita ini umat Islam digencet. Kita ini ditekan. Yang ngomong itu adalah orang yang punya ratusan majelis taklim. Yang ngomong itu orang yang sering muncul di TV. Sekarang dia menikmati itu lalu dia teriak-teriak ‘Kita digencet’, digencet apanya?” tutur TGB heran.

Kalau memang ulama atau umat itu ditekan, kata TGB tidak mungkin dia bisa keliling dari tempat satu ke tempat lain. Tidak mungkin dia akan bebas menyuarakan, masuk TV, kemana-mana.

“Itu sama dengan orang yang makan sate. Dia makan sate sampai bekas bumbu satenya masih ada di mulutnya, lalu dia bilang ‘Susah di zaman Pak Jokowi ini kita gak dapat makan’,” tegasnya.

TGB menambahkan bahwa tidak ada negara mayoritas Muslim di dunia ini yang berislamnya sebebas ini seperti di Indonesia.

“Apakah misalnya di Turki. Bapak-bapak ibu-ibu bisa bayangkan ada Tabligh Akbar di tengah jalan, gak bisa! Pergi ke Saudi buat Tabligh Akbar, Majelis Pengajian di masjid-masjid, bisa? Gak bisa!” terang TGB.

“Di Mesir kalau naik mimbar tanpa ada izin resmi dari kementerian Awqaf, turun lagi dia,” imbuhnya.

Hanya di Indonesia saja. Siapapun yang takmir masjidnya minta jadi khatib, naik dia khutbah. Kadang-kadang khutbahnya menurut dia, bukan membuat orang tenang. Tapi membuat orang resah dan gelisah.

Terkait isu kriminalisasi Habib Rizieq, TGB merasa bingung, mengapa zaman pemerintahan Jokowi isu ini menjadi krusial. Padahal sebelum Jokowi menjadi presiden, Habib Rizieq pernah ditahan dan dipenjara.

“Benar bahwa Habib Rizieq pernah ditersangkakan, tapi kemudian di-SP3-kan (penghentian penyidikan). Di masa sebelum Jokowi, Habib Rizieq tidak hanya ditersangkakan bahkan beliau diterdakwakan, diadili dan dipenjara. Kenapa pada waktu itu tidak ada yang mengatakan kriminalisasi? Ke mana Anda dulu saat beliau dipenjara? Kenapa tidak mengatakan kriminalisasi ulama?” jelasnya dengan lugas.

Dia menduga isu kriminalisasi ulama saat ini dibuat oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan Jokowi menjadi presiden.

“Artinya suara-suara yang menggunakan nama beliau (Rizieq Syihab) sebagai (isu) kriminalisasi ulama adalah suara-suara yang tidak suka Jokowi sebagai presiden,” katanya. (Vina)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here