Surga Istri Tergantung Ridha Suami

226

Oleh: Ustadz H. Abdul Ghoni Djumhari (Wakil Lembaga Dakwah Parmusi Pusat)

عَنِ الْحُصَيْنِ بْنِ مِحْصَنٍ، أَنَّ عَمَّةً لَهُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ، فَفَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا، فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ ” قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: ” كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ ” قَالَتْ: مَا آلُوهُ إِلَّا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ، قَالَ: ” فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Dari Al Hushain bin Mihshan bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi ﷺ untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi ﷺ pun bertanya kepadanya: “Apakah kamu mempunyai suami?” ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi: “Bagaimana engkau baginya?” ia menjawab, “Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” Beliau bersabda: “Perhatikanlah, akan posisimu terhadapnya. Sesungguhnya suamimu adalah yang menentukan surga dan nerakamu (dengan keridhaannya terhadapmu atau ketidak sukaannya terhadapmu). HR. Ahmad 31/341 no.19003. Dishahihkan oleh al-Albani di Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 6/220 no.2612

Pelajaran yang terdapat dalam hadist:

1- Hadits ini tidaklah bermaksud keridhaan semua jenis, suami dan sikap apapun yang mengantar kepada keridhaan suami, sebab tidak semua suami adalah suami yang mentaati Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Apabila seorang suami adalah orang yang tidak taat kepada Allah Ta’ala dan ia memerintahkan istrinya untuk tidak mentaati Allah Ta’ala maka kala itu ketaatan kepada Allah Ta’ala lebih diutamakan daripada ketaatan kepada suami, dan mengharap ridha Allah Ta’ala harus lebih diutamakan dibanding mengharap ridha suami.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فيِ المَعْرُوفُ

“Sesungguhnya ketaatan hanya pada perkara yang baik,” (HR. Bukhari. No 7145 dan Muslim no.1840).

2- Perkara yang baik di sini adalah perkara yang diperintahkan oleh syariat dan perkara yang tidak menyelisihi syariat.

3- Apabila seorang suami seorang ahli bid’ah atau ahli maksiat dan ia ridha terhadap istrinya bila ia ikut melaksanakan bid’ah dan maksiat maka istri tidak boleh mengikuti keinginan suami dan mengutamakan keridhaannya sebab mengutamakan keridoan suami yang demikian tidak akan mengantarkan ke surga, akan tetapi malah bisa mengantarkan seorang istri ke neraka.

Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran:

Karakter istri yang salehah

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ

“Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka),” (QS. An-Nisa: 34).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here