Siapkan Ulama Zaman Now, UIN Bandung Buat Rumah Al-Quran

1011
UIN Sunan Gunung Djati Bandung (Photo: Istimewa)

Bandung, Muslim Obsession – UIN Sunan Gunung Djati Bandung saat ini tengah mengembangkan Rumah Al-Quran. Rektor UIN Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud M.Si, mengatakan bahwa Rumah Al-Quran diproyeksikan untuk menyiapkan ulama zaman now. 

“Di kampus tiga yang seluas tiga hektar, kami sedang membangun Rumah Al-Quran dalam rangka menyiapkan kader ulama zaman now,” terang Mahmud saat memberikan sambutan pada Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-50 UIN Sunan Gunung Djati di Bandung,  Selasa (10/4/2018).

Sidang senat terbuka ini dihadiri Menag Lukman Hakim Saifuddin yang didaulat memberikan orasi ilmiah. Hadir juga para guru besar, dosen, dan sivitas akademika UIN Bandung yang memadati aula Anwar Musaddad.

Menurutnya, program ini merupakan hasil kerjasama UIN Bandung dengan Pemprov Jawa Barat,  serta Bupati dan Walikota Bandung. Saat ini,  sedang dalam proses penbangunan yang dibantu oleh Pemprov Jabar.

“Bupati Bandung dan Bandung Barat juga sudah sepakat untuk ikut bekerja sama dalam melahirkan sarjana dan ulama zaman now,” tuturnya, sebagaimana dilansir situs resmi Kemenag, Selasa (10/4/2018).

“Mereka akan menginventaris calon mahasiswa yang akan kuliah. Untuk malam harinya, kita akan memberikan pembinaan di kampus yang diampu para guru besar dan doktor keagaman yang ahli pada bidangnya,” tambahnya.

Sesuai tujuannya untuk menyiapkan ulama zaman now, lanjut Mahmud, Rumah Al-Quran juga akan dilengkapi sistem pembelajaran berbasis teknologi informasi. Sistem ini akan disiapkan para ahli di Fakultas Saintek.

Program ini disambut baik oleh Menag Lukman Hakim Saifuddin. Menurutnya, sudah seharusnya UIN Bandung mengembangkan inovasi dalam pendidikan agama karena itu yang menjadi ciri Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Karenanya, transformasi IAIN menjadi UIN tidak boleh mengakibatkan terpinggirkannya bidang keilmuan dan kajian Islam yang justru menjadi distingsi dibanding universitas umum.

“Kampus ini bahkan harus menjadi pionir terobosan yang mencerminkan integrasi ilmu keislaman dan ilmu umum,” pesan Menag.

“Kampus akan dianggap besar, tidak selalu karena memiliki prodi di semua disiplin ilmu,   tapi karena memiliki kekhasan yang tidak dimiliki kampus lain,” tandasnya. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here