Sedih Bacanya, Tulisan Ini Layak untuk Direnungkan

544
Ilustrasi: Wajah renta di masa tua berharap cinta dan kasih putra-putrinya. (Foto: IZI)

Muslim Obsession – Harus diakui bahwa media sosial (medsos) tak melulu mengundang dampak negatif. Seperti pisau, medsos juga bisa berguna di tangan orang-orang yang pandai memanfaatkannya untuk kebaikan.

Melalui medsos, netizen dapat belajar banyak hal. Soal kehidupan, bisnis, kesehatan, parenting, hingga keagamaan.

Seperti tulisan berikut ini yang viral di medsos. Lagi-lagi entah siapa yang menuliskannya, namun tulisan ini membuat banyak orang bersedih usai merenungkan isinya.

Orang tua yang katanya banyak makan asam garam, mengerti semuanya, namun sejatinya mereka seperti anak-anak yang tidak mengerti tentang masa tua. Banyak orang tua yang tidak mempersiapkan diri menghadapi perjalanan masa tua ini.

Manusia sejak menginjak usia 60 tahun mulai memasuki masa tua, sebelum hari benar-benar gelap kita harus mengingat beberapa pemandangan yang akan dihadapi, sehingga hati lebih siap dan tidak galau.

PEMANDANGAN PERTAMA. Ketika usia makin tua kita menyadari bahwa makin sedikit orang orang yang ada di samping kita. Generasi orang tua kita telah tiada, generasi kita juga banyak yang sudah tidak mampu merawat diri sendiri.

Generasi muda punya kesibukan sendiri, bahkan mungkin suami atau istri sudah ‘jalan’ lebih dahulu.

Yang menemani kita hanyalah hari-hari yang kosong melompong. Kita harus belajar untuk hidup sendirian dan menikmati kesendirian.

PEMANDANGAN KEDUA. Perhatian masyarakat makin lama makin kecil. Tidak peduli dulu betapa gemilangnya karir kita, betapa terkenalnya kita, setelah uzur kita menjadi kakek atau nenek biasa saja.

Lampu-lampu tidak lagi menyoroti kita. Karena itu belajarlah untuk duduk di sudut yang tenang, mengagumi keriuhan generasi muda, dan kita tidak boleh dan harus menanggulangi rasa cemburu atau rasa galau kita.

PEMANDANGAN KETIGA. Jalan di depan banyak bahaya yang menghadang. Patah tulang, stroke, alzheimer, kanker, dan lain sebagainya, semua itu mungkin menghampiri kita. Mau menolakpun sulit, karena itu kita harus belajar berdamai dengan penyakit-penyakit itu.

Belajar hidup bersama penyakit, berteman dengan penyakit. Jagalah suasana hati. Tugas kita adalah berolah raga yang cukup, selalu memompa semangat kita sendiri.

PEMANDANGAN KEEMPAT. Hidup di atas tempat tidur. Kembali ke situasi seperti waktu kita kecil. Ketika ibu melahirkan kita, di atas tempat tidur. Setelah melewati kehidupan yang penuh kesulitan dan lika-liku, akhirnya kita kembali ke awal.

Tempat tidur, menerima perawatan orang lain.

Yang berbeda, dulu kita dirawat ibu, namun nanti belum tentu ada keluarga yang merawat kita. Walau ada tentu jauh beda dengan perawatan seorang Ibu. Besar kemungkinan yang merawat kita adalah perawat yang wajahnya tersenyum namun hatinya jengkel. Kita tetap harus merendah dan berterima kasih

PEMANDANGAN KELIMA. Sebelum malam, tahap terakhir perjalanan hidup itu makin gelap, tentunya ini mempersulit kita melangkah. Karena itu setelah usia 60 kita harus bisa “take it easy and make it easy ” terhadap kehidupan.

Nikmati hidup ini, syukuri yang ada, tidak usah terlalu peduli pada hal-hal yang remeh. Tidak usah terlalu peduli pada urusan kecil anak dan cucu. Persiapkan suasana hati sehingga bisa menghadapi perjalanan ini dengan alami dan wajar.

Selamat menjalani hari tua dengan bahagia dan selalu mendekatkan diri pada-Nya. Jaga iman dan jauhi dosa!

Jangan mudah tersinggung, marah-marah, lalu nanti makin tidak ada yang menemani kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here