Rindu Kami kepadamu Ya Nabi

145

Oleh: Abdan Syakura

Suatu ketika Rasulullah ﷺ berjalan diiringi sahabat-sahabatnya melewati pemakaman. Beliau ﷺ lalu berhenti, lalu mengucapkan salam.

“Salam atas kalian wahai penghuni (kuburan) tempat orang-orang beriman. Aku insya Allah akan menyusul kalian. Aku ingin sekali berjumpa saudara-saudaraku,” ucap Rasulullah Muhammad ﷺ.

Kisah ini terdapat dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Mendengar dawuh Rasulullah ﷺ itu, para sahabat merasa heran. Mereka lalu menyampaikan pertanyaan. Dan terjadilah dialog mengharukan ini.

“Mereka (para sahabat) berkata, ‘Wahai Rasulullah, bukankah kami saudaramu?’ Beliau bersabda, ‘Kalau kalian adalah para sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka (orang-orang beriman) yang belum ada sekarang ini dan aku akan mendahului mereka di telaga.’

Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali orang-orang (beriman) yang datang setelah engkau dari kalangan umatmu?’ Beliau bersabda, ‘Bukankah jika seseorang punya kuda yang sebagian kecil bulunya putih akan mengenali kudanya di tengah kuda-kuda yang hitam legam?’ Mereka menjawab, ‘Ya’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya mereka akan datang pada Hari Kiamat dengan cahaya putih karena wudhu. Dan aku akan menunggu mereka di telaga.”

Setiap membaca hadits ini, entah mengapa hati selalu bergetar, bergemuruh, menahan kerinduan yang membuncah sangat. Perlahan, bulir air mata jatuh mengiringi isak tangis yang ditahan keras.

Kami rindu kepadamu Ya Rasulallah ﷺ. Kami benar-benar rindu. Sangat ingin rasanya kami menjawab kerinduan yang engkau sampaikan.

Kerinduan Rasulullah ﷺ juga secara tegas disampaikan Imam Al-Qusyairi dalam kitabnya Ar-Risalah. Ia mengutip riwayat dari Anas bin Malik, Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Kapan aku akan bertemu para kekasihku?” Para sahabat bertanya, “Bukankah kami adalah para kekasihmu?” Rasulullah menjawab,”Kalian memang sahabatku, para kekasihku adalah mereka yang tidak pernah melihatku, tetapi mereka percaya kepadaku. Dan kerinduanku kepada mereka lebih besar.”

Dalam hadits lain, bahkan Rasulullah ﷺ menjelaskan ganjaran besar bagi umatnya yang mencintainya, kendati umatnya tak melihat beliau.

عَنْ أبي أمامة قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: طوبى لمن رآني و آمن بي مرة و طوبى لمن لم يرني و آمن بي سبع مرات

Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh kebaikan untuk seorang yang telah melihatku dan beriman kepadaku (beliau mengucapkan) sebanyak satu kali, kemudian sungguh kebaikan kemudian untuk seorang yang telah beriman kepadaku dan belum melihatku, (beliau mengucapkan) sebanyak tujuh kali,” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, 3924).

Masya Allah. Begitu besar cinta beliau kepada kita, umatnya. Begitu sangat perhatian beliau kepada kita yang tak pernah sedetikpun melihat wajah indah beliau. Dan begitu besar kerinduan beliau kepada kita, umatnya yang belajar tertatih-tatih untuk menjalankan sunnah-sunnah beliau.

Namun apalah daya, kita hanyalah diri yang penuh gelimang dosa. Bahkan sekejap mata hanyalah maksiat yang diperbuat. Astaghfirullah wa natuubu ilaih.

Lalu, dengan kondisi penuh noda seperti ini, pantaskah kita termasuk umatnya yang dirindukan Nabi ﷺ?

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here