Resolusi Jihad Cikal Bakal Peringatan Hari Santri Nasional

644
KH. Hasyim Asyari (Foto: Tirto)

Jakarta, Muslim Obsession – Tujuh puluh tiga tahun lalu, tepatnya 22 Oktober 1945, menjadi momen yang tak bisa dilupakan karena pada saat itu merupakan rangkaian sejarah perjuangan Bangsa Indonesia melawan kolonialisme.

Saat itu pasukan Inggris mendarat di Jawa sejak September 1945 sebagai sekutu Belanda dalam usahanya menanamkan kembali kekuasaannya di Hindia Belanda. Sebagian kota besar telah jatuh ke tangan mereka seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang. Sasaran selanjutnya adalah kota Surabaya.

Mendengar kabar tak enak ini, para ulama NU berkumpul pada tanggal 22 Oktober 1945 dan menyatakan Jihadnya melawan koalisi Inggris-Belanda.

Para ulama tersebut berkumpul di Jalan Bubutan VI Nomor 2, Surabaya. Sebelumnya, pada tanggal 17 September 1945 KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa jihad yang isinya hampir sama dengan Resolusi Jihad.

Adapun isinya adalah mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945, dan Indonesia sebagai pemerintah yang sah harus dibela dan Jihad melawan Belanda merupakan kewajiban bagi umat Islam. Naskah lengkap resolusi Jihad tersebut dimuat dalam Aula, No.7, Tahun II.

Setelah memanggil para ulama se-Jawa dan Madura di Surabaya tersebut, teks resolusi Jihad dikirim kepada Presiden Soekarno dan Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jenderal Soedirman.

Sementara di Surabaya, KH. Hasyim Asyari mempercayakan pelaksanaan Resolusi Jihad kepada Bung Tomo. Hal ini dikarenakan Bung Tomo memiliki kedekatan dan hubungan khusus dengan kelompok Islam. Kedekatan inilah yang membawanya dekat pula dengan KH. Hasyim Asyari.  Sejak Jepang menduduki Indonesia, Bung Tomo sering sowan kepada KH. Hasyim Asyari guna mendapatkan kekuatan hati dan keteguhan spiritual dalam masa perang.

Dua hari sebelum insiden Hotel Yamato tanggal 19 September 1945, Bung Tomo mendatangi kediaman KH. Hasyim Asyari di Tebu Ireng, Jombang. KH. Hasyim Asyari kemudian memberinya bekal secarik kertas berisi fatwa jihad dalam huruf Arab Pegon. Selain itu KH. Hasyim Asyari sendiri membantu pembiayaan pasukan Hizbullah yang akan bertempur dibawah komando Bung Tomo.

Kedekatan Bung Tomo serta Jenderal Soedirman dengan KH. Hasyim Asyari berlangsung hingga menjelang akhir hayat sang kiai pada tanggal 25 Juli 1947. Sebelum Beliau wafat, Bung Tomo dan Jenderal Soedirman mengirim utusan melaporkan perkembangan soal Agresi Militer Belanda I ke Tebu Ireng. Utusan tersebut memberi laporan bertepatan dengan hari ketujuh Ramadhan seusai Tarawih.

Selepas Tarawih, biasanya KH. Hasyim Asyari memberikan ceramah di masjid. Ketika utusan tersebut tiba, Beliau menghentikan ceramahnya dan meninggalkan masjid ke rumahnya. Letak rumah Beliau bersebelahan dengan masjid tersebut. Sesampai dirumah, Sang Kiai ambruk dalam kondisi lunglai. Dalam kondisi demikian tak hentinya Hadratussyaikh berseru “Masya Allah…”. Tak lama setelah itu, Beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Sang Kiai telah menghadap sang ilahi, namun api semangat perjuangan bersama para santri dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara nan selaras dengan kehidupan agama yang Ia anjurkan senantiasa hidup dalam sanubari bangsa ini.

Guna menghormati jasa KH. Hasyim Asyari beserta para santri yang gugur di medan juang, maka ditetapkanlah tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2015.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here